TPS Menyemai Ekonomi Hijau Bersama Petani Mangrove Surabaya

pemberdayaan petani mangrove
TPS berkolaborasi dengan petani mangrove di Surabaya, memadukan restorasi pesisir dengan pemberdayaan ekonomi untuk menciptakan kehidupan berkelanjutan. (Foto: Istimewa)
Mascim
Mascim
Print PDF

Ruang.co.id – Sebuah narasi transformasi sedang ditulis di pesisir Surabaya, di mana upaya restorasi lingkungan berjalan beriringan dengan penumbuhan penghidupan yang lebih bermartabat. Terminal Petikemas Surabaya (TPS), anak usaha Pelindo Terminal Petikemas, melalui program keberlanjutannya “Menanam Harapan Menjaga Keberlanjutan”, telah memilih jalan yang lebih dari sekadar penanaman pohon. Kamis, (08/1/2026). Mereka menggali akar permasalahan sekaligus peluang, dengan menempatkan petani mangrove sebagai pelaku utama dalam setiap langkahnya.

Program ini merupakan bentuk nyata dari kolaborasi yang saling menguatkan. TPS bekerja sama dengan Kelompok Petani Mangrove Kompak Mandiri Lestari untuk membibitkan 10.000 mangrove jenis Rhizophora mucronata. Namun, fokusnya melampaui angka kuantitas. Inti dari inisiatif ini adalah mengubah setiap tahap pembibitan—mulai dari pengumpulan propagul, perawatan harian, hingga pemantauan—menjadi sumber pendapatan yang stabil bagi para petani.

Bagi masyarakat pesisir seperti Moch. Toha, seorang nelayan sekaligus anggota kelompok tani, program ini menjadi penopang ekonomi yang sangat berarti. Ketidakpastian penghasilan akibat ketergantungan pada cuaca laut kerap menjadi tantangan harian. Keterlibatannya dalam pembibitan mangrove kini memberikan solusi yang nyata. Aktivitas ini menawarkan pendapatan tambahan yang lebih dapat diprediksi, menjadi sandaran saat melaut tak memungkinkan.

“Hasil dari merawat bibit ini membantu biaya sekolah anak dan kebutuhan sehari-hari. Kami merasa lebih tenang karena ada pekerjaan yang berkelanjutan,” tutur Toha, mengungkapkan dampak langsung yang dirasakan keluarganya. Perasaan tenang dan kepastian itu adalah modal sosial yang tak ternilai, yang tumbuh seiring dengan suburnya bibit-bibit mangrove di persemaian.

Lebih dari sekadar transaksi ekonomi, program ini berhasil menumbuhkan rasa bangga dan kepemilikan. Ketua Kelompok Kompak Mandiri Lestari, Shodiq Machfudz, menekankan bahwa keterlibatan sebagai mitra telah meningkatkan harga diri para petani. Mereka tidak lagi dilihat sebagai sekadar tenaga kerja, tetapi sebagai penjaga ekosistem dan mitra strategis dalam misi restorasi pesisir yang lebih besar.

Baca Juga  PWI Jatim Jalan Sehat Bersama Wartawan Memeriahkan HPN 2025 dan HUT PWI Ke-79 di Surabaya

Rasa dipercaya ini memupuk komitmen yang lebih dalam. Mangrove yang mereka rawat dengan penuh ketelitian tidak lagi dipandang sebagai sekadar tanaman, melainkan sebagai aset bersama untuk masa depan lingkungan dan keluarga mereka sendiri. Pendampingan teknis dari TPS dalam proses pembibitan yang profesional turut memperkuat kapasitas dan kemandirian kelompok ini.

Sekretaris Perusahaan TPS, Erika A. Palupi, menjelaskan bahwa filosofi perusahaan dalam program ini adalah mencapai keberlanjutan yang sejati dan menyeluruh. Tolok ukur kesuksesan tidak semata-mata terletak pada jumlah bibit yang dihasilkan, melainkan pada transformasi kehidupan yang terjadi di tingkat masyarakat. Visi ini mengintegrasikan kesehatan ekosistem dengan kesejahteraan manusia secara utuh.

“Keberlanjutan sejati adalah ketika lingkungan pulih dan masyarakatnya sejahtera. Kami ingin petani mangrove merasakan manfaat langsung,” tegas Erika. Pendekatan ini mengakui bahwa restorasi lingkungan hanya akan berkelanjutan jika masyarakat pelaksananya juga merasakan kemakmuran. Dengan demikian, program ini membangun ketahanan ganda: ketahanan ekosistem pesisir dan ketahanan ekonomi keluarga petani.

Bibit-bibit mangrove yang ditargetkan siap tanam pada April 2026 nanti memiliki makna ganda. Selain akan menjadi benteng alami menghadapi abrasi dan penyerap karbon biru, ia juga merupakan simbol dari investasi sosial-ekonomi jangka panjang. TPS membuka peluang bagi petani untuk berada di dalam rantai nilai restorasi pesisir, menempatkan mereka sebagai pelaku ekonomi hijau yang aktif.

Distribusi bibit untuk rehabilitasi kawasan pesisir Surabaya dan sekitarnya akan terus memperluas dampak positif program. Keterbukaan TPS untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, dengan tetap menempatkan petani sebagai mitra utama, menunjukkan model bisnis berkelanjutan yang inklusif. Pada akhirnya, setiap bibit yang ditanam membawa dua harapan: harapan untuk garis pantai yang lebih hijau dan harapan untuk kehidupan pesisir yang lebih sejahtera dan bermartabat.

Baca Juga  Wali Kota Eri Sweeping Jam Malam Anak Penuh Cinta