Malang, Ruang.co.id – Puluhan anak difabel mengikuti pelatihan membatik sampur di Sanggar Budaya Anak Nareswari, Kota Malang, pada Sabtu (16/5/2026). Kegiatan ini menjadi bukti nyata pengelolaan Dana Abadi Kebudayaan dari Kementerian Kebudayaan, LPDP, dan Dana Indonesiana dalam mendorong ekosistem seni yang sepenuhnya inklusif dan memberdayakan.
Pelatihan bertema “Harmonisasi Griya Kriya Topeng Ramah Difabel & Pasar Seni Bareng” ini diikuti oleh 15 anak difabel beserta pendampingnya. Ketua Sanggar, Ndaru Lazarus, menyatakan bahwa ruang kreasi ini sengaja dihadirkan agar tidak ada lagi sekat antara keterbatasan fisik dan ekspresi seni tradisi. “Kami ingin menciptakan ruang yang benar-benar bisa diakses siapa pun. Melalui pelatihan ini, kami menegaskan bahwa batik dan tari adalah bahasa universal yang merangkul segala perbedaan,” ujar Ndaru di sela kegiatan.
Instruktur dari Bengkel Batik, Yuharsita, memandu peserta dengan pendekatan naratif. Sebelum memegang canting, peserta dikenalkan pada filosofi motif seperti Megamendung dan Truntum. Sesi praktik pun berubah menjadi terapi motorik yang menyenangkan. Yuharsita menekankan bahwa ketidaksempurnaan goresan justru menciptakan nilai tinggi pada setiap helai kain. “Kami berharap, selain menjadi terapi, keterampilan ini bisa menjadi bekal untuk memulai UMKM demi kehidupan yang lebih baik. Ini jalan menuju kemandirian,” jelasnya.
Bendahara Acara, Brelliane Semesta Pratiwi, menjelaskan bahwa pelatihan ini adalah babak awal dari kurikulum seni berkelanjutan. Rangkaian kegiatan akan berlanjut ke pembuatan topeng pada Juni, melukis topeng pada Juli, dan berpuncak pada parade tari serta bazar UMKM pada 1 Agustus 2026. Menariknya, sampur yang dibatik hari ini akan dikenakan sendiri oleh para peserta di acara puncak tersebut.
Sementara itu, sinergi menarik terlihat dari kehadiran 47 mahasiswa Fashion Design & Business Universitas Ciputra Surabaya yang dipimpin dosen Jane Rine Teowarang. Kehadiran mereka menjembatani tradisi lokal dengan perspektif mode global. Interaksi yang cair antara mahasiswa dan peserta difabel menciptakan ruang apresiasi yang saling menguatkan. “Griya Kriya Topeng Ramah Difabel hadir bukan hanya sekadar sebagai tempat berlatih, namun juga sebagai rumah tempat mimpi-mimpi anak difabel diberi ruang untuk tumbuh dan bersinar,” tutur Jane menutup sesi diskusi.
Para peserta diagendakan terus berlatih hingga menghasilkan karya yang siap dipasarkan melalui Pasar Seni Bareng. Pihak sanggar juga membuka peluang kolaborasi lebih luas bersama sektor swasta guna memastikan ekosistem ekonomi kreatif inklusif ini berjalan berkelanjutan.

