Ruang.co.id – Bernardo Tavares akan segera memulai tugas barunya sebagai pelatih Persebaya Surabaya pada awal 2026. Pelatih asal Portugal itu sudah menyiapkan langkah awal untuk membawa Bajol Ijo kembali bersaing di papan atas liga.
Saya melihat pendekatan Tavares cukup jelas sejak awal. Ia tidak hanya datang membawa nama besar, tetapi juga rencana konkret untuk membenahi tim secara menyeluruh. Fokusnya tertuju pada struktur kepelatihan dan kebutuhan skuad yang paling mendesak.
Persebaya sendiri membutuhkan arah baru. Persaingan Super League 2025/2026 semakin ketat, sementara produktivitas tim masih jauh dari harapan.
Bernardo Tavares Membawa Asisten Kepercayaan dari Portugal
Bernardo Tavares akan membawa satu asisten pelatih bernama Paulo Renato Goncalves Duarte, yang akrab disapa Renato Duarte.
Renato bukan sosok asing bagi Tavares. Keduanya sudah bekerja bersama saat menangani PSM Makassar pada musim sebelumnya. Chemistry yang sudah terbangun ini diyakini akan mempercepat proses adaptasi di Persebaya.
Mereka akan bahu-membahu memimpin skuad yang saat ini dihuni pemain-pemain seperti Bruno Moreira dan kolega.
Profil Paulo Renato Duarte: Asisten dengan Pengalaman Panjang
Renato Duarte lahir di Leiria, Portugal, pada 7 Juni 1989. Meski usianya baru menginjak 36 tahun, ia sudah mengantongi lisensi UEFA A, sebuah capaian penting dalam dunia kepelatihan Eropa.
Ia memulai karier dari level grass root. Pada musim 2011/2012, Renato melatih pemain usia muda di ARCUDA. Setahun kemudian, ia hijrah ke Inggris dan menjadi asisten pelatih AC London FC hingga 2014.
Kariernya terus menanjak. Renato sempat bergabung dengan Crystal Palace U-18 pada periode 2014–2016, sebuah pengalaman berharga di lingkungan akademi elite Inggris.
Dari Inggris hingga Timur Tengah, Jam Terbang Renato Duarte Teruji
Setelah menyelesaikan tugas di Inggris, Renato kembali ke Portugal. Ia menjabat sebagai asisten pelatih Setubal U-19 pada musim 2016/2017.
Setahun berselang, ia naik level dan menangani Setubal FC U-17 sebagai pelatih kepala. Namun, Renato kembali memilih peran asisten saat mendampingi Cova Piedade U-23 pada musim 2018/2019.
Petualangannya berlanjut ke Timur Tengah. Pada musim 2019/2020, ia dipercaya menangani Al-Wehda FC U-17. Pengalaman lintas benua ini membuatnya terbiasa bekerja dengan berbagai karakter pemain.
Pada 2022, Renato kembali bertemu Bernardo Tavares. Ia menjadi asisten di PSM Makassar hingga 2025, sebelum akhirnya ikut hijrah ke Persebaya.
Dua Pemain Incaran Bernardo Tavares untuk Persebaya
Selain membawa asisten, Bernardo Tavares juga sudah membicarakan pemain yang ingin ia bawa ke Surabaya. Dua nama mencuat ke permukaan, yakni Bruno Paraiba dan Jefferson Junio Antonio da Silva.
Tavares menilai dua posisi tersebut sangat krusial bagi Persebaya saat ini. Ia ingin memperkuat lini depan dan sektor bek kiri yang masih belum ideal.
Langkah ini menunjukkan bahwa Tavares langsung menyasar titik lemah tim, bukan sekadar menambah pemain secara acak.
Bruno Paraiba, Solusi Lini Depan Bajol Ijo
Bruno Paraiba merupakan striker berusia 31 tahun yang juga mampu bermain sebagai gelandang serang. Fleksibilitas ini menjadi nilai tambah bagi Persebaya.
Sebelumnya, ia memperkuat Cheonan City di kasta kedua Liga Korea Selatan. Di sana, Bruno mencatatkan enam gol dan tiga assist, sebuah kontribusi yang cukup solid.
Persebaya saat ini sangat membutuhkan striker klinis. Menjelang paruh kedua Super League 2025/2026, hanya Mihailo Perovic yang mencetak gol, itu pun baru tiga kali.
Jefferson Junior, Bek Kiri Murni dengan Latar Belakang Elite
Jefferson Junior merupakan bek kiri murni berusia 29 tahun. Ia pernah masuk skuad Timnas Brasil U-20 pada 2016, sebuah pencapaian prestisius.
Di level tersebut, ia bermain bersama nama-nama besar yang kini merumput di Eropa. Sebut saja Gabriel Magalhaes, Eder Militao, Lucas Paqueta, hingga Richarlison.
Saat ini, Persebaya masih mengandalkan Dejan Tumbas di posisi bek kiri, padahal ia sejatinya seorang penyerang. Kondisi ini membuat sektor kiri pertahanan Bajol Ijo rawan dieksploitasi lawan.
Persebaya Butuh Perubahan Nyata di Paruh Kedua Musim
Fakta di lapangan menunjukkan Persebaya belum memiliki striker yang benar-benar haus gol. Diego Mauricio bahkan belum mencetak satu gol pun musim ini.
Situasi tersebut membuat kedatangan pemain baru hampir tak terelakkan. Dengan Bernardo Tavares di kursi pelatih, Persebaya diyakini akan bergerak agresif di bursa transfer.
Jika semua rencana berjalan sesuai harapan, Bajol Ijo berpeluang tampil lebih kompetitif di paruh kedua musim. Kini, suporter hanya perlu menunggu pengumuman resmi dari manajemen.

