Komunitas Pendaki Senior U-50 Jatim Kembangkan Gaya Hidup Aktif dan Peduli Lingkungan

Komunitas Pendaki Senior U-50
Foto kebersamaan anggota Komunitas Pendaki Senior U-50 Jawa Timur usai kopdar. Foto: Istimewa
Ruang M Andik
Ruang M Andik
Print PDF

Ruang.co.id – Gerakan pendaki senior di Jawa Timur menunjukkan tren positif dengan semakin mengemukanya komunitas-komunitas yang fokus pada kegiatan outdoor ramah usia. Selasa, (27/1/2026). Salah satu yang mencuri perhatian adalah Komunitas Pendaki U-50 Jawa Timur, yang secara konsisten tidak hanya menggencarkan agenda pendakian gunung untuk pemula dan senior, tetapi juga mengukuhkan diri sebagai garda depan aksi nyata pelestarian alam. Komunitas ini dengan cerdas menjadikan aktivitas alam terbuka sebagai sebuah platform multidimensi untuk menjaga kesehatan fisik di usia matang, mempererat ikatan sosial atau silaturahmi anak bangsa, serta menyalurkan kepedulian melalui program kerja bakti lingkungan.

Visi pendirian komunitas usia emas ini berawal dari pemikiran Sigit Panji dan lima rekan perintis lainnya. Mereka melihat perlunya sebuah wadah eksklusif bagi pendaki golden age yang mengedepankan prinsip keselamatan dan kenyamanan. “Prinsipnya, kegiatan kami tidak berat-berat. Lebih ke pendakian gunung yang ramah usia, kegiatan outdoor, dan penanaman pohon terutama di kawasan hutan gundul. Tujuannya sehat bersama, bernostalgia, dan menikmati kebersamaan di usia golden age,” papar Sigit. Fokus pada konservasi lingkungan melalui reboisasi ini menjadi pembeda sekaligus nilai inti dari setiap perjalanan yang mereka rancang.

Perkembangan komunitas hiking untuk lansia ini terbilang fenomenal. Dalam tempo satu tahun sembilan bulan, jaringan mereka telah merambah secara nasional, mencakup sekitar 61.500 anggota yang tersebar hingga ke berbagai negara seperti Hong Kong, Taiwan, dan Eropa. Pertumbuhan pesat ini menuntut manajemen komunikasi komunitas yang efektif. Untuk itu, grup WhatsApp pusat yang beranggotakan ratusan orang sengaja dibagi menjadi dua segmentasi, memastikan distribusi informasi tentang acara hiking dan sosial berjalan optimal tanpa membuat anggota kewalahan. Strategi ini menunjukkan kematangan organisasi dalam mengelola komunitas pecinta alam yang besar.

Baca Juga  Terbongkar! 21 Ijazah Karyawan Disandera, Wabup Mimik Turun Tangan! Buruh Menang, Perusahaan Tak Berkutik

Di tingkat regional, dinamika Pendaki U-50 Jatim dipimpin oleh Mei Siswanti dengan lebih dari 200 anggota yang aktif. Rapat pengurus rutin digelar untuk menyusun agenda pendakian dan kerja bakti, termasuk pembahasan Rencana Anggaran Kerja 2026 dan persiapan perayaan anniversary. “Ke depan ada pendakian ke Gunung Argopuro sekitar 12 atau 14 Mei, kemudian penanaman pohon, bakti sosial, dan saat Ramadan biasanya pembagian takjil di kawasan depan Kantor Gubernur Jawa Timur,” jelas Mei mengenai perencanaan kegiatan sosial komunitas. Rangkaian aktivitas ini dirancang untuk menjaga semangat anggota sekaligus memperluas dampak positif bagi masyarakat.

Catatan perjalanan pendakian komunitas di Jawa Timur telah dimulai dengan mendaki Gunung Arjuna-Welirang dan Gunung Wilis. Jejak ini bukan sekadar tentang mencapai puncak, melainkan tentang membuktikan bahwa gaya hidup sehat di usia 50 tahun ke atas sangat mungkin diwujudkan. Semangat mereka menjadi bukti nyata bahwa aktivitas fisik untuk usia lanjut dapat berjalan beriringan dengan kegiatan sosial bermakna. Komitmen ini pada akhirnya mengkristal dalam sebuah filosofi sederhana namun mendalam yang diungkapkan Mei: “Harapan kami, Pendaki U-50 semakin maju, semakin eksis, dan makin banyak kegiatan sosial. Karena U-50 bukan hanya soal mendaki, tapi juga berbagi.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa visi komunitas sosial peduli alam ini adalah untuk menciptakan legacy atau warisan berupa kepedulian dan kebersamaan yang abadi, melampaui batas usia dan medan pendakian. Setiap langkah di gunung dan setiap pohon yang ditanam adalah bagian dari kontribusi nyata kelompok senior untuk lingkungan dan masa depan yang lebih hijau.