Jadi Saksi, JKSN Gelar Istighotsah Doakan Gubernur Khofifah

Istighotsah JKSN doakan Khofifah
Suasana istighotsah yang digelar Jaringan Kiai Santri Nasional di Surabaya, Ketua Umum JKSN, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA, memimpin langsung jalannya istighotsah. Foto: Istimewa
Ruang redaksi
Print PDF

Ruang.co.id – Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) menggelar istighotsah khusus untuk mendoakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Kamis (12/2/2026) di Surabaya. Kegiatan ini digelar menyusul pemeriksaan Gubernur Khofifah sebagai saksi dalam persidangan kasus dugaan dana hibah Jawa Timur. Puluhan kiai dan santri turut larut dalam lantunan doa, memohon kekuatan dan keadilan bagi orang nomor satu di Pemprov Jatim tersebut.

Ketua Umum JKSN, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA, memimpin langsung jalannya istighotsah. Suasana khusyuk terasa sejak awal hingga akhir. Para peserta tampak serius memanjatkan doa, seolah ingin menegaskan bahwa dukungan untuk Gubernur Khofifah tidak hanya datang dari ranah birokrasi, tetapi juga dari kalangan ulama dan santri. “Kami beristighotsah dan berdoa agar Ibu Khofifah diberi kekuatan, ketabahan, serta keadilan dalam menghadapi proses ini,” ujar Kiai Asep di sela-sela acara.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Asep tidak hanya memimpin doa, tetapi juga menyampaikan pandangan kritisnya terhadap proses hukum yang tengah berjalan. Ia secara spesifik menyoroti isi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) almarhum Kusnadi, mantan Ketua DPRD Jawa Timur. Menurutnya, BAP tersebut mengandung kejanggalan yang patut dicermati secara rasional dan objektif. Ia menilai, tidak seharusnya seorang gubernur diperiksa hanya berdasarkan keterangan yang secara matematis dan logika sulit diterima akal sehat.

Baca Juga  Nyanyian Sumbang Lupa Yang Mulia, Saean Choir Sang Residivis Makelar Dana Hibah Jatim Menembus Pengadilan Tipikor

“Sungguh naif jika Ibu Khofifah diperiksa hanya karena BAP almarhum Kusnadi yang menurut kami sangat tidak rasional,” tegas pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah itu. Ia lalu memberikan contoh konkret. “Tidak ada persentase yang jika dijumlah mencapai 350 persen. Persentase itu paling banyak 100 persen. Selain itu, tidak pernah masuk akal jika legislatif mengalirkan dana ke eksekutif,” katanya. Pernyataan ini sontak mengundang anggukan dari para kiai yang hadir. Mereka sepakat bahwa penegakan hukum harus berpijak pada rasionalitas, bukan sekadar asumsi.

Kiai Asep tidak serta-merta menyalahkan institusi hukum. Ia justru menyisipkan harapan besar kepada aparat penegak hukum. Menurutnya, para hakim, jaksa, dan penyidik perlu diberi kejernihan berpikir dalam menangani perkara ini. Ia percaya, selama hukum ditegakkan dengan hati nurani, keadilan sejati pasti bisa diraih. “Penegakan hukum hendaknya benar-benar berorientasi pada keadilan dan kebenaran, bukan pada kepentingan lain,” ujar Kiai Asep yang juga menjabat Ketua Umum Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu).

Baca Juga  Sebelum Tutup Usia, Kusnadi Tersangka Hibah Jatim Buka Suara: "KPK Periksa Orang Dekat Bupati Jombang Bukan Urusan Saya"

Lebih jauh, ia menambahkan bahwa jika memang ditemukan persoalan yang berdasar hukum, proses harus dijalankan sesuai ketentuan yang berlaku. Tidak ada niat dari JKSN untuk intervensi atau menghalangi jalannya peradilan. Namun, ia mengingatkan bahwa setiap proses hukum harus berjalan di atas rel objektivitas. “Kami hanya ingin hukum ditegakkan dengan adil. Tidak lebih, tidak kurang,” imbuhnya.

Istighotsah yang digelar JKSN ini bukan sekadar seremonial. Kiai Asep menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan ikhtiar spiritual yang tulus dari para ulama dan santri. Di tengah hiruk-pikuk dan hukum, doa menjadi senjata terakhir yang tidak boleh ditinggalkan. “Kami bersama para ulama yang tergabung dalam JKSN menggelar istighotsah sebagai ikhtiar spiritual agar seluruh proses hukum berjalan dengan adil serta membawa kebaikan bagi semua pihak,” jelasnya.

Baca Juga  Usai Diperiksa KPK Soal Dana Hibah Jatim, Kusnadi Buru-buru Pulang ke Surabaya

Selain mendoakan Gubernur Khofifah, istighotsah ini sekaligus menjadi pembuka rangkaian acara besar yang akan digelar JKSN dan Pergunu. Kiai Asep menyampaikan bahwa pihaknya tengah mempersiapkan agenda silaturahmi alim ulama serta rapat kerja nasional (rakernas) Pergunu dan JKSN. Acara ini dijadwalkan berlangsung pada 14 Februari 2026. “Kami memohon agar agenda silaturahmi alim ulama dan rakernas Pergunu dan JKSN dapat berlangsung lancar dan membawa keberkahan,” ungkapnya.

Antusiasme terlihat dari para peserta istighotsah ketika membahas rencana tersebut. Mereka berharap rakernas nanti mampu melahirkan program-program konkret yang bermanfaat bagi umat, khususnya di bidang pendidikan dan keagamaan.

Rencana rakernas ini mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan. Kiai Asep mengonfirmasi bahwa sejumlah tokoh nasional direncanakan hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka antara lain Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jamari Chaniago, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sendiri.

Tak hanya pejabat sipil, jajaran forum komunikasi pimpinan daerah Jawa Timur juga dipastikan hadir. Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin dan Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto turut masuk dalam daftar tamu undangan. Kehadiran para tokoh ini diharapkan mampu memperkuat sinergi antara ulama, pemerintah, dan aparat keamanan. “Ini momentum penting bagi kita semua untuk bersama-sama membangun Jawa Timur yang lebih baik,” tutup Kiai Asep.