Ludruk Lintas Generasi Patahkan Mitos Seni yang Mulai Asing

pementasan ludruk lintas generasi Surabaya
Pementasan ludruk lintas generasi di Taman Budaya Surabaya menampilkan kolaborasi seniman tua dan bocah pemula dalam lakon Wong Salah Mesti Seleh yang sarat pesan moral. (Gentur)
Ruang Gentur
Ruang Gentur
Print PDF

Ruang.co.id – Di tengah semakin terjepitnya seniman ludruk untuk bisa mengekspresikan penampilannya secara utuh dalam pentas ludruk yang semakin tergerus oleh zaman. Muncul harapan baru dengan tampilnya ludruk Medang Taruna Budaya ( MTB ) yang menampilkan pementasan ludruk secara utuh ( hampir sesuai pakem ) di taman Budaya Surabaya, kompleks balai pemuda, sabtu, (18/4).

Dalam pementasan yang berjudul wong salah mesti seleh ini, menampilkan kolaborasi seniman ludruk generasi tua dengan generasi ludruk pemula yang pelakonnya masih anak- anak.

Pementasan Ludruk yang dibesut Cak Sabil Lukito ini, tampil dengan formasi utuh sesuai pakem. Yakni di awal dibuka dengan tari remo khas Ludruk Jawa Timuran. Kemudian penampilan para bedayan atau pesinden perempuan berjumlah delapan. Jika dahulu biasanya para bedayan ini dimainkan oleh para laki- laki tapi dalam riasan dan pakaian kebaya perempuan . Namun kali ini bedayan dimainkan oleh perempuan tulen. Namun karena bedayannya masih anak-anak maka mereka hanya menampilkan gerak tari mengikuti suara gending dan sinden asli yang duduk diantara wiyogo ( para pemain gamelan ludruk ).

Selepas tampilan bedayan, pentas dilanjutkan dengan Kidungan yang dilanjutkan dengan dagelan. Setelah kidungan dilantunkan Cak Sabil. Kemudian diteruskan dengan dagelan yang ditemani Cak Insyaf. Dalam dagelan ini, kedua pelawak ini juga mengajak beberapa anggota ludruk yang berprestasi seperti Kenso, juara Cak cilik Surabaya 2023 dan dua anggota ludruk MTB juara parikan tahun 2024. Acara semakin menarik dengan tampilnya Selebgram Gen Z asal Surabaya Unieke si cantik bersuara cempreng.

Usai dagelan dilanjutkan dengan tampilan cak Sudrun dan pemain ludruk waria yang rampil sebagai pasangan suami istri seniman ludruk senior yang hidup miskin karena sepi job dan beralih profesi menjadi petani.

Usai dialog suami istri ini. Pentas ludruk masuk pada lakon utama yang berjudul Wong salah mesti seleh yang seluruh pemainnya adalah anak-anak.

Dalam lakon ini mengisahkan tentang Lamaran dua pangeran dari Kediri yakni Joko Taruno dan Pangeran Situbondo dari Sampang Madura yang ingin mempersunting putri Purbowati anak Adipati Surabaya, Prabu Jayengrono. Joko Taruno Karena kedua pengeran itu ngotot ingin mendapatkan Purbowari, maka Jayengrono membuat sayembara kepada keduanya agar bertarung siapa yang menang berhak mendapat putrinya.

Dalam perkelahian ini Joko Taruna kalah bahkan tubuhnyaa nyangsang atau terjepit di cabang pohon. Namun berkat bantuan Joko Jumput pemuda desa anak dari mbok rondo Praban Kinco, Joko Taruno bida diturunkan. Lalu Joko Taruno minta Joko Jumput untuk menghajar Pangeran Situbondo karena Joko Jumput punya pecut sakti. Dan benar Joko Jumput berhasil mengalahkan Pangeran Situbondo bahjan menyurub pangeran asal Sampang itu untuk membuka hutan di wilayah timur yabg jauh dari Surabaya yang di kemudian hari menjafi kabupaten Situbondo.

Namun, saat Pangeran Sitibondo menyerah dan memberikan udeng ( songkok pengikat kepal ala madura ) udeng itu diambil Joko Taruno dan dilaporksn ke Adipati Jayengroni dengan mengatakan bahwa dirinyalah yang mengalahkan Situbondo.

Namun usai diberikan pada Adipati, datanglah Joko Jumput untuk meminta udeng tanda kekalahan pangeran Situbondo itu dikembalikan. Joko Jumput juga menceritakan kepada Adipati bahw dialah yang sebenarnya mengalahkan pangeran Situbondo. Karena perlu klarifikasi kebenarannya. Maka Adipati menanyai Joko Taruno. Namun Joko Taruno yang sudah terlanjur malu hanya diam saja tidak menjawab. Sehingga Adipati mengatakan Joko Taruna diam saja seperti dolog atau batu. Maka seketika itu juga tubuh Joko Taruna berubsh menjadi patunh Joko Dolog yang hingga saat ini dikeramatkan oleh umat Hindu di Surabaya. Joko Taruna inilah yang disebut wong salah berakhir Seleh.

Usai pentas, Cak Sabil mengatakan kalau anak asuhnya yang sebagian besar masib duduk di SD dan SMP ini praktis hanya berlatih beberapa kali. Namun ternyata bisa bermain bagus di pentas. Bahkan mainnya lebih bagus.

“Saya senang anak- abak busa pentas dengan baik. Daya harapkan mereka bisa membawa kesenian ludruk ini dalam jiwanya hibgga mereka besar dan meraih cita-citanya nanti tidak lupa terhadap Ludruk. Sehingga meski nantinya berprofesi lain seperti menjadi dokter, polisi, TNI maupun pengusaha. Mereka tetap bisa berpartisipasi melestarikan ludruk yang saat ini mulai diambang kepunahan,” tutur Csk Sabil.

Memang diakui, kesenian ludruk secara utuh sudah jarang ditemui di masyarakat saat ini, karena sudah jarang ada orang nanggap ludruk. Sehingga banyak seniman ludruk yang berubah menjadi pelawak.