Komisi C Dukung Optimalisasi QRIS untuk Tekan BOPO Bank Jatim

Optimalisasi QRIS Bank Jatim
Anggota Komisi C DPRD Jawa Timur, Pranaya Yudha Mahardika, Foto: Ist
Ruang Gentur
Ruang Gentur
Print PDF

Ruang.co.id – Untuk menekan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional ( BOPO ) di tubuh Bank Jatim, Komisi C DPRD Jawa Timur mendukung peningkatan efisiensi di tubuh Bank milik Pemprov Jatim tersebut melalui optimalisasi layanan digital khususnya QRIS.

Menurut Anggota Komisi C DPRD Jatim, Pranaya Yudha Mahardika, Bank Jatim masih memiliki ruang untuk menurunkan rasio BOPO melalui strategi peningkatan dana murah.

“BOPO memang membaik, tapi masih bisa ditekan lagi,” ujar politikus dari partai Golkar ini mengungkapkan, senin (2/3).

Yudha menyebut, kunci efisiensi terletak pada peningkatan porsi dana murah. Ia menilai QRIS dapat menjadi sumber Dana Pihak Ketiga (DPK) murah yang lebih efisien dibanding deposito berbunga tinggi.

“Salah satu cara yang paling masuk akal adalah mencari dana murah. Dan itu bisa dari optimalisasi QRIS,” tutur legislator yang juga menjabat ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Jatim ini menandaskan.

Menurutnya, perluasan jumlah pengguna QRIS Bank Jatim akan berdampak pada penurunan biaya operasional secara signifikan.

“Kalau pengguna naik, dana murahnya masuk, otomatis BOPO turun,” tambahnya.

Karena itu, Yudha meminta Bank Jatim membentuk satuan tugas khusus untuk mendorong ekspansi pengguna QRIS, terutama di sektor UMKM. Dirinya juga menyoroti potensi transaksi harian UMKM yang nominalnya relatif kecil namun berlangsung secara masif.

“Tiap hari mungkin cuma ratusan ribu atau satu juta. Tapi kalau jumlahnya banyak, dampaknya signifikan,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Utama Bank Jatim, Winardi Legowo, melaporkan kinerja perseroan yang terus menguat. Laba bersih kuartal III-2025 tercatat naik 23,5%–23,66% secara tahunan (YoY) menjadi Rp1,14–1,15 triliun.

Baca Juga  Fraksi Golkar Minta Penjelasan Konfrehensif Gubernur Jatim Soal Raperda Penyertaan Modal Daerah PT Jamkrida Rp 300 Miliar

“Kenaikan ini ditopang pendapatan bunga dan ekspansi kredit produktif,” ujarnya.

Winardi menegaskan, dua fokus utama perseroan, yakni mendorong pendapatan dan meningkatkan efisiensi.

“Kami dorong revenue, sekaligus kami perbaiki efisiensi. Dua-duanya berjalan,” tegasnya.

Dirinya juga memastikan, bahwa penurunan Non-Performing Loan (NPL) tetap menjadi prioritas.

“NPL akan terus kami tekan,” tegasnya.

Secara fundamental, Bank Jatim mencatat penguatan di hampir seluruh lini, dengan total aset mencapai Rp 107,49 triliun, kredit Rp67,74 triliun, DPK Rp 85,19 triliun, serta rasio CASA yang meningkat menjadi 58,96 persen. Adapun NPL berada di level 3,96 persen.