Sidoarjo, Ruang.co.id – Dinamika politik tingkat akar rumput di Kabupaten Sidoarjo, kini memasuki babak krusial. Sebanyak 79 desa di 18 kecamatan, bersiap menggelar Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2026 atau Pilkades tahap pertama.
Salah satu titik paling seru adalah Desa Wadung Asri, Kecamatan Waru. Desa Wadung Asri, merupakan Desa yang paling ujung berbatasan dengan Surabaya.
Di wilayah ini, empat kandidat kuat mulai adu visi, yakni Son Haji (Incumbent dua periode), Ainur Rofiq dari Dusun Ngipa, Supriyadi dari warga Perumahan Pondok Chandra, dan Abdillah Nasik dari dusun Wadung Asri Dalam.
Namun nama Ainur Rofiq atau yang akrab disapa Cak Gondes tampil mencolok dan diakui warga Wadung Asri sebagai representasi kaum muda. Pada Senin (9/2/2026) siang, Ainur Rofiq alias Cak Gondes resmi maju sebagai calon Kepala Desa Wadung Asri, Waru, Sidoarjo, demi mewujudkan transformasi tata kelola desa yang lebih modern dan inklusif.
Cak Gondes bukanlah sebaai wajah baru dalam kontestasi ini. Sebagai pengusaha muda sukses di bidang konstruksi, ia membawa etos kerja profesional ke ranah birokrasi desa. Selama ini Cak Gondes dikenal warga seluruh Desa Wadung Asri, sebagai sosok pemuda yang bersahaja dan berjiwa sosial tinggi.
“Sudah lama cak Gondes punya jiwa sosial tinggi, suka bantu banyak warga, jauh sebelum adanya Pilkades. Sekarang cak Gondes mencalonkan pilihan desa, tentunya kami dukung dan kami pilih nanti,” ujar Sari Mahayanti, warga Panjunan, Wadung Asri.
Senada demikian, Ketua RW 01 Wadung Asri, M. Rohimin mengatakan, “Cak Gondes itu dikenal semua lapisan warga. Hampir semua RT dan RW di Wadung Asri Insyaallah mendukungnya, karena beliau terkenal jiwa sosial tinggi”.
Ia sengaja mengusung semangat perubahan yang lebih baik, melalui visi besar pemberdayaan potensi lokal. Cak Gondes memahami bahwa Wadung Asri membutuhkan sentuhan inovasi untuk mengoptimalkan letak geografisnya yang strategis di perbatasan Surabaya-Sidoarjo.
Memang, Cak Gondes mengakui, setidaknya Ia siap menghadapi dua pesaingnya yang dianggapnya cukup berat, yakni incumbent Son Haji dan Supriyadi. Akan tetapi, dia juga mengaku siap dapat meraup suara lebih dari para pesaingnya, dengan penguatan pemilih kalangan muda Desa Wadung Asri.
Potensi yang dimiliki Cak Gondes terletak pada kemampuannya merangkul berbagai elemen masyarakat, mulai dari generasi Z hingga tokoh senior. Ia berkomitmen meningkatkan kualitas infrastruktur yang tidak hanya kuat secara fisik, tapi juga fungsional bagi peningkatan ekonomi warga.
Dalam setiap dialognya, ia menekankan pentingnya transparansi anggaran desa terhadap seluruh warga desa, agar masyarakat tahu ke mana setiap rupiah digunakan.
“Saya wakafkan diri untuk mengabdi demi kemajuan desa kita tercinta. Fokus utama saya adalah memperbaiki infrastruktur dan memperkuat peran pemuda agar Wadung Asri lebih mandiri serta berdaya saing tinggi,” ujar Cak Gondes dengan penuh optimisme.
Dia juga menyoroti pentingnya digitalisasi layanan desa atau e-government (pelayanan pemerintah berbasis elektronik). Menurutnya, warga tidak boleh lagi dipersulit oleh urusan administrasi yang lambat. Dengan sistem digital, pelayanan publik akan menjadi lebih cepat, akurat, dan bebas dari pungutan liar.
Visi ini selaras dengan upaya Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, dalam melakukan sinkronisasi program pembangunan desa dengan visi strategis pusat.
Langkah Cak Gondes didukung penuh oleh relawan “Tim Perubahan”. Mereka melihat sosok ini memiliki integritas dan keberanian untuk memutus pola lama yang tidak efektif. “Cak Gondes adalah solusi nyata untuk regenerasi kepemimpinan. Beliau punya visi yang jelas untuk memaksimalkan potensi ekonomi kreatif warga desa kita,” tegas salah satu pendukung setianya saat pendaftaran.
Secara regulasi, pelaksanaan Pilkades ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Aturan ini mempertegas masa jabatan dan wewenang kepala desa dalam mengelola dana desa untuk kesejahteraan masyarakat secara inklusif (melibatkan semua kalangan tanpa kecuali). Pemerintah Kabupaten Sidoarjo juga sedang memfinalisasi revisi Peraturan Daerah (Perda) guna menjamin seluruh tahapan berjalan jujur dan adil.
Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Wadung Asri, Ahmad Wahyudi, menegaskan bahwa semua bakal calon telah melewati verifikasi awal dan pihaknya menjamin atas netralitasnya.
“Kami menjamin netralitas total. Semua calon memiliki kesempatan yang sama untuk meyakinkan sekitar 7.000 pemilih tetap di Wadung Asri bahwa mereka layak memimpin,” ujar Wahyudi.
Meski demikian, dari seluruh rangkaian pendaftar calon kades, seluruhnya sampai hari terahir sebanyak 4 calon, Ia mengakui bahwa secara fakta pendukung Cak Gondes paling banyak yang mengantarkan pendaftaran bakal calon kades.
“Calon Kades Cak Gondes kami akui massa pendukungnya yang paling banyak dan datang dari berbagai lapisan masyarakat Desa Wadung Asri. Pendukungnya merata dari dusun – dusun di Wadung Asri dan mayoritas anak muda,” ujar Wahyudi.
“Calon kades pak Supriadi dari perumahan Pondok Chandra pendukungnya terbanyak kedua, kurang lebih 25 orang yang mengantarkan dan mayoritas dari warga perumahan, tapi jumlah pendukung yang mengantar pak Supriyadi tidak ada separohnya dari pendukung cak Gondes,” imbuhnya dengan tetap mengedepankan netralitas BPD.
Di tengah persaingan dengan petahana dan tokoh agama, Cak Gondes tetap fokus pada program solutif. Ia berencana membangun pusat pelatihan kewirausahaan bagi anak muda, agar tidak cuma menjadi penonton di tengah pesatnya industri di Kecamatan Waru. Dengan bekal keahlian konstruksi, ia juga menjamin pembangunan fisik di desa akan lebih efisien dan tepat sasaran tanpa ada pemborosan anggaran.
Yang pasti, pesta demokrasi ini nantinya oleh warga desa, diharapkan melahirkan pemimpin yang tidak hanya duduk di balik meja, tetapi terjun langsung mendengar keluhan rakyat.
Cak Gondes dengan jargon “Wayahe Sing Enom Tampil” (Waktunya yang Muda Tampil), memang telah memberikan warna baru yang segar dalam peta politik di Desa Wadung Asri Sidoarjo 2026.

