Guru Besar Unusa Cetak Gagasan Softbrain Engineer, Jurus Jitu Hadapi Disrupsi Teknologi

Softbrain Engineer
Pengukuhan Guru Besar Unusa. Foto: Istimewa
Mascim
Mascim
Print PDF

Ruang.co.id – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) baru saja mencatat sejarah penting dalam pengembangan akademiknya. Pada Sabtu (14/2/2026), kampus ini mengukuhkan Mohamad Yusak Anshori sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen. Yang menarik perhatian publik, dalam pidato pengukuhannya ia memperkenalkan gagasan segar bernama Softbrain Engineer, sebuah konsep untuk merekonstruksi manajemen di era disrupsi.

Gagasan Softbrain Engineer yang diusung Yusak Anshori menekankan pentingnya penggabungan sistem teknologi dengan empati manusia. Menurut pandangannya, masa depan organisasi tidak bisa hanya bertumpu pada presisi data semata. Lebih dari itu, diperlukan kesadaran emosional dan nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam agar organisasi tetap relevan dan manusiawi di tengah gempuran kecerdasan buatan.

Yusak memandang teknologi sebagai mitra strategis yang harus ditempatkan secara proporsional, bukan sebagai entitas yang menggantikan peran nurani manusia. Ia menegaskan bahwa kecanggihan algoritma tidak akan pernah bisa sepenuhnya menggeser intuisi dan hati nurani yang hanya dimiliki manusia. “Teknologi memang mampu mempercepat langkah, tetapi hanya manusia yang dapat menentukan arah,” tutur Yusak dalam pidatonya yang mengundang decak kagum para hadirin.

Baca Juga  ARJUNU AWARD 2026, Puncak Apresiasi untuk Kerja Sunyi Pengelola Jurnal PTNU

Dalam kesempatan itu, pria yang dikenal aktif dalam pengembangan manajemen pendidikan ini juga menyoroti fenomena minimnya perhatian terhadap subjek di balik pengembangan teknologi digital. Ia mengamati bahwa saat ini sistem terus dikembangkan secara masif tanpa diimbangi kesiapan pengelolanya. Kondisi ini menurutnya berisiko membuat peran manusia justru tereliminasi oleh teknologi yang seharusnya ia kendalikan. “Dalam organisasi modern, teknologi harus ditempatkan sebagai alat yang bermoral, bukan sebagai pengganti nurani,” ujarnya tegas.

Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono, menyambut antusias pencapaian ini dan menyebut pengukuhan Yusak sebagai momentum penting bagi institusi. Ia menjelaskan bahwa Yusak merupakan guru besar yang lahir murni dari proses pertumbuhan akademik internal di lingkungan Unusa. “Ini menjadi momen pecah telur bagi kami,” ujar Tri Yogi dengan nada bangga. Ia berharap pencapaian ini dapat meningkatkan kepercayaan diri para dosen lain, terlebih setelah Unusa sukses melahirkan 20 doktor baru sepanjang tahun 2025 lalu.

Baca Juga  PW IPPNU Jatim dan ARJUNU Kolaborasi Tingkatkan Kualitas Jurnal Ilmiah Kader Muda NU

Momentum pengukuhan guru besar ini rupanya menjadi pelecut semangat bagi Unusa untuk terus bergerak maju. Saat ini kampus tersebut tengah menyiapkan pendampingan intensif bagi calon profesor lainnya. Pendampingan tersebut meliputi penyelesaian syarat administratif hingga pengawalan proses birokrasi yang selama ini kerap menjadi kendala. Targetnya, dua guru besar baru akan segera menyusul dan dikukuhkan dalam waktu dekat ini.

Optimisme Unusa untuk melahirkan lebih banyak profesor dalam waktu dekat bukan tanpa alasan. Saat ini beberapa kandidat telah memenuhi persyaratan kredit poin akademik yang dibutuhkan. Mereka hanya tinggal menunggu pemenuhan regulasi masa kerja minimum sepuluh tahun sebagai syarat formal pengusulan guru besar. Dengan berbagai persiapan matang ini, Unusa optimistis jumlah profesor akan bertambah signifikan dalam waktu dekat.