Ruang.co.id – Surabaya menjadi pusat perhatian dunia catur internasional dengan Kembali digelarnya Cap Kapal Checkmate Fide Rated International Chess Tournament 2025. Kamis, (19/12/2025). Fakta bahwa 8 negara ikuti turnamen bergengsi ini menegaskan skalanya yang benar-benar global. Gelaran yang berlangsung dari tanggal 19 hingga 23 Desember 2025 ini bukan hanya sekadar event lokal, tetapi sebuah kompetisi catur berstandar FIDE yang ketat. Keikutsertaan peserta dari berbagai negara tersebut menunjukkan daya tarik dan kredibilitas ajang catur internasional di Surabaya yang kini sudah memasuki penyelenggaraan ketiga kalinya.
Antusiasme turnamen catur Cap Kapal Checkmate tahun ini dari lonjakan jumlah peserta yang luar biasa. Dari hanya sekitar 80 peserta pada debutnya di Juli 2024, kemudian 84 peserta di Desember 2024, angka tersebut melesat menjadi total 214 peserta pada 2025. Peningkatan hampir tiga kali lipat ini diisi oleh para pecatur yang tidak hanya berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, seperti Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, hingga Sulawesi, tetapi juga oleh kontingen internasional. Keragaman asal peserta ini, baik dari dalam maupun luar negeri, menciptakan sebuah babak baru bagi olahraga catur kompetitif di tanah air.
Mengulik lebih dalam tentang konstelasi 8 negara peserta, Hesnud Daulah, M.Psikolog, selaku Ketua King Knight Creative, memberikan penjelasan rinci. “Event catur standar internasional diikuti dari 8 negara diantaranya Indonesia, Malaysia, Filipina, Rusia, Australia, Uzbekistan, Korea dan dari Jerman,” ujarnya. Daftar negara-negara peserta turnamen ini menunjukkan jangkauan geografis yang luas, dari Asia Tenggara, Eropa, hingga Australia. Namun, kekuatan turnamen ini tidak hanya terletak pada kuantitas negara. Hesnud menambahkan bahwa gelaran ini “di ikuti 2 master internasional dan 2 Fide master, serta puluhan master nasional dan lainya adalah pemain-pemain kuat juga dari berbagai provinsi di Indonesia.” Kehadiran grandmaster dan master internasional ini menjamin bahwa kompetisi catur di Surabaya berlangsung pada level tertinggi.
Untuk mengakomodasi kualitas pemain yang tinggi, sistem dan standar pertandingan yang diterapkan pun sangat ketat. Turnamen catur berformat FIDE ini menggunakan aturan waktu 90 menit + 30 detik, yang merupakan format baku di kejuaraan-kejuaraan catur berkelas dunia. Sebuah kebijakan penting juga diterapkan untuk menjaga kompetitifitas: “Dimana seluruh peserta yang hadir memiliki elo rating maksimal 2200,” jelas Hesnud. Kebijakan batas rating ini secara strategis menciptakan lingkungan yang ideal bagi pecatur nasional Indonesia untuk bertarung secara seimbang, sekaligus menjadi peluang emas mengumpulkan poin rating FIDE yang berharga bagi karier mereka.
Menyaksikan geliat turnamen yang diikuti 8 negara ini, Hesnud Daulah melihat peluang yang lebih besar di balik papan catur. Beliau menyampaikan visinya, “Kita berharap mudah-mudahan kedepan, olahraga catur bisa menjadi industry.” Pernyataan ini menegaskan bahwa gelaran catur internasional semacam ini adalah pondasi untuk mentransformasi hobi menjadi sebuah ekosistem olahraga yang berkelanjutan. Apresiasi setinggi-tingginya diberikan kepada penyelenggara, “mengapresiasi Cap Kapal Checkmate yang rutin menggelar dan ini menjadikan suatu semangat kami. mudah-mudahan garam cap kapal ini terus konsisten untuk selalu menggelar turnamen level internasional di Kota Surabaya.”
Dampak langsung yang paling terasa adalah pada sektor pariwisata olahraga atau sport tourism. “Dan ini sekaligus mengangkat sport tourism,” tegas Hesnud. Kedatangan ratusan atlet dan ofisial dari berbagai negara secara otomatis menyuntikkan kehidupan baru bagi ekonomi lokal. Mereka tidak hanya datang untuk bertanding, tetapi juga menjelajah. “Banyaknya peserta dari berbagai provinsi dari berbagai negara itu menikmati Kota Surabaya, misalnya kuliner gitu kan tadi malam itu saya juga… mengantarkan beberapa pemain luar seperti Malaysia Filipina ya berburu kuliner rawon,” tuturnya. Aktivitas sederhana seperti berburu kuliner khas Surabaya ini merupakan bukti nyata bagaimana sebuah event olahraga bertaraf internasional mampu menjadi katalisator bagi kepariwisataan kota.
Kesuksesan menghadirkan turnamen bertaraf dunia dengan peserta 8 negara ini tentu membutuhkan fondasi legitimasi yang kuat. Hesnud Daulah menekankan hal ini. “Dan tak lupa turnamen ini juga mendapatkan rekomendasi ya dari PB Percasi, sehingga kita bisa menggelar turnamen level internasional ini,” paparnya. Rekomendasi resmi dari PB Percasi merupakan prasyarat mutlak untuk menyelenggarakan turnamen catur FIDE Rated yang diakui secara global, sehingga setiap kemenangan dan poin rating yang diperoleh memiliki validitas internasional.
Di tingkat pemerintah daerah, dukungan juga diberikan secara nyata. Event ini mendapat “apresiasi support dari pemerintah kota Surabaya.” Peran Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, Hidayat Syah, disebutkan sangat mendukung. “Yang selalu support selalu dan pesannya beliau adalah tetap semangat untuk menggelar event-event di Surabaya untuk memajukan Kota Surabaya,” ujar Hesnud menyampaikan arahan pejabat tersebut. Kolaborasi tripel antara penyelenggara swasta, asosiasi olahraga nasional, dan pemerintah kota ini adalah formula sukses yang menciptakan ekosistem subur bagi pertumbuhan olahraga prestasi sekaligus pemromosian citra Surabaya sebagai kota yang kompeten menjadi tuan rumah event berskala global.

