Breaking News
light_mode
Senin, 31 Agustus 2026
Beranda » Daerah » Candi Dermo Menyala, Menguak Benang Merah Pusat Kerajaan Majapahit Ada di Sidoarjo yang Tak Padam

Candi Dermo Menyala, Menguak Benang Merah Pusat Kerajaan Majapahit Ada di Sidoarjo yang Tak Padam

  • account_circle Ruang Nurudin
  • calendar_month Sabtu, 1 Nov 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sidoarjo, Ruang.co.id – Di tengah sawah sunyi Dusun Dermo/ Dusun Santren, Desa Candinegoro, Desa Candinegoro, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, bata merah tua peninggalan “Candi Dermo” masih tegar.

Bangunan kuno itu bukan hanya sisa sejarah, ia adalah denyut nadi masa lalu yang menolak padam.

Candi Dermo, diperkirakan dibangun pada akhir masa Kerajaan Majapahit, sekitar abad ke-13 hingga ke-15 Masehi.

Hal ini didasarkan pada gaya arsitektur dan bahan penyusunnya, yang serupa alias sama dengan bangunan-bangunan era Majapahit, menggunakan bata merah besar dengan teknik susun rapi tanpa semen.

Hal itu termaktub dalam buku budayawan Suhartono, Agus (2018), Arkeologi Sidoarjo, Dari Candi ke Delta, Lembaga Budaya Jawa Timur, memuat tentang sejarah Candi Dermo.

Secara budaya, Candi Dermo termasuk dalam jejak arsitektur Majapahit di Sidoarjo, yang menunjukkan peralihan dari era Hindu-Buddha menuju pengaruh Islam.

Hal ini bisa dilihat dari struktur bata yang sederhana, menandakan masa-masa surutnya pembangunan candi megah.

Nama “Dermo” sendiri dipercaya berasal dari kata “Derma” atau “Dharma”, yang berarti kebajikan, amal, atau pengabdian.

Dalam tradisi lisan masyarakat sekitar, Candi Dermo dianggap sebagai tempat semedi seorang pertapa Majapahit yang disebut Mpu Dermo, seorang tokoh sakti yang meninggalkan kemegahan istana untuk mencari ketenangan batin.

Menurut cerita rakyat, Mpu Dermo melakukan pertapaan panjang di tempat ini dan mencapai moksa (lepas dari siklus kelahiran dan kematian).

Oleh karena itu, lokasi ini kemudian disucikan dan dibangunlah sebuah candi sebagai tanda penghormatan atas kebijaksanaannya.

Sebagian masyarakat juga meyakini bahwa Candi Dermo menjadi penanda spiritual terakhir Majapahit di wilayah delta Brantas, simbol akhir kejayaan dan awal perubahan zaman menuju kerajaan Islam di pesisir utara Jawa.

Baca Juga  Sejarah Awal Mula Kedatangan Bangsa Barat ke Indonesia

Dalam kisah sejarah pula, Candi Dermo juga dikatakan sebagai bangunan candi penanda gerbang/ pintu masuk pusat keraton kerajaan Majapahit.

Data dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud (2023) menunjukkan, struktur Candi Dermo dibangun pada abad ke-14 Masehi dengan teknik bata merah khas Majapahit.

Di sekelilingnya ditemukan fragmen arca, yoni, dan saluran air suci, bukti kuat fungsi ritual spiritual pada masa itu.

Warga sekitar menyebut tempat ini sebagai “tanah tapabrata”, tempat pertapa Majapahit bernama Mpu Dermo mencapai moksa.

Kini, generasi muda Dermo mulai menghidupkan kembali warisan ini. Mereka membersihkan area situs setiap bulan dan menyiapkan festival budaya Majapahit tahun depan.

Candi Dermo bukan hanya tumpukan bata merah. Candi ini sebagai nyala abadi peradaban, pengingat bahwa sejarah tak pernah hilang, hanya menunggu generasi berani untuk menghidupkannya kembali.

Penelitian etno-astronomi dan analisis arah/ azimuth pada Candi Dermo menunjukkan, ada orientasi terukur pada struktur candi yang berkaitan dengan arah mata angin (kajian azimuth/ arahan kompas di lokasi). Ini memberi dasar bahwa arsitek kuno. Mungkin memperhitungkan arah mata angin saat membangun.

Beberapa artikel dan tugas ilmiah lokal mendapati konsep geometri dan pola bangunan, yang merefleksikan pemikiran ruang beraturan (susunan teras, fragmen di empat sisi), yang bisa diinterpretasikan sebagai penanda orientasi ke empat penjuru.

Ada variasi lain dalam penamaan lokasi di Desa Candinegoro, Dusun Santren / Dusun Dermo, dan data koordinat yang dipakai, konsistensi lokasi/koordinat menguatkan kekuatan klaim “Titik Nol” dengan pemetaan terintegrasi.

Dalam acara “Bincang Sejarah” di Rumah Budaya Malik Ibrahim, Kelurahan Pucanganom, Kota Sidoarjo, Satriagama Rakantaseta, peneliti muda asal Sidoarjo telah membenarkan, di tengah – tengah titik pusat bangunan Candi Dermo, merupakan “Titik Nol” dari empat arah kutub, bukan di Yogyakarta.

Baca Juga  Suku Dayak, Kekayaan Budaya di Hutan Kalimantan

“Pada bangunan fisik candi, terdapat empat pintu saling bersilang, dan keempat pintu itu mengarah pada arah mata angin kutub Utara, Selatan, Barat dan Timur, ujar Seta, sapaan akrabnya.

Hal ini terdapat indikasi kuat—dari kajian azimuth, studi geometri, dan narasi lokal—bahwa Candi Dermo memiliki relasi yang signifikan dengan arah mata angin dan fungsi ruang ritual.

Seta menyatakan secara tegas bahwa, “Titik Nol dari Empat Penjuru” meyakini klaim tersebut, secara tetap hipotesis penelitiannya, dengan menggunakan metode pendekatan studi Geologis dan Geografis.

Bahkan, dalam keyakinannya pula, dari Candi Dermo merupakan sebuah benang merah yang menguak sejarah penting, bahwa pusat Keraton Kerajaan Majapahit berada di kawasan Krian, Sidoarjo, bukan di Trowulan, Mojokerto.

“Dari studi penelitian saya dengan pendekatan geografis dan geologis, memang di kawasan Krian, ada sumber yang kuat pula, di Kec. Balongbendo, Tarik dan sekitarnya, Merupakan bagian dalam pusat peradaban Kerajaan Majapahit. Meski saat ini masih belum ditemukan satu situs-pun sebagai artefak ilmu arkeologi sebagai peninggalan warisan kerajaan Majapahit,” ungkap Seta.

Ia menerangkan, “Tapi saya sangat meyakini ada chapter kisah sejarah yang lost (hilang/ lepas) sepertinya terkesan disengaja, tentang penanda lokasi pusat Kerajaan Majapahit. Nanti saya akan melaunching buku saya dan kita bedah bersama, Pusat Keraton Modjopait The Lost Majapahit Important Chapter”.

Dalam keyakinan penelitian Seta, yang juga mengaku hasil penelitiannya itu di dukung oleh Dinas Kepurbakalaan Prov. Jatim dan Sidoarjo, bahwa dari terkuaknya Candi Dermo yang membuktikan tentang peradaban Kerajaan Majapahit masa lampau benar – benar ada di Sidoarjo.

  • Penulis: Ruang Nurudin

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sidoarjo Edukasi Kanker

    Perempuan Tangguh DWP Sidoarjo Nyalakan Lentera Edukasi Deteksi Dini Kanker Payudara

    • calendar_month Rabu, 10 Des 2025
    • account_circle Ruang Nurudin
    • 0Komentar

    Sidoarjo, Ruang.co.id – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Sidoarjo, merayakan HUT ke-26 dengan menegaskan komitmen pemberdayaan perempuan melalui santunan anak berkebutuhan khusus, dan edukasi deteksi dini kanker payudara, Selasa (9/12) di Pendopo Delta Wibawa. Kegiatan ini melibatkan 200 anggota DWP dari Organisasi Pemerintahan Daerah (OPD), Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), perkantoran, hingga kecamatan, menjadi puncak […]

  • Pencari Kerja Sidoarjo

    Jumlah Pencari Kerja di Sidoarjo Tembus 76 Ribu, Fakta TPT Mengejutkan Tembus Tertinggi Se-Jatim

    • calendar_month Rabu, 5 Agt 2026
    • account_circle Ruang Nurudin
    • 0Komentar

    Sidoarjo, Ruang.co.id – Kabupaten Sidoarjo kembali mencatat angka mengejutkan. Sebanyak 76.063 jiwa resmi tercatat sebagai pengangguran terbuka. Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) mencatat, total angkatan kerja Sidoarjo mencapai 1.172.557 jiwa. Dari jumlah itu, 1.096.494 jiwa berhasil bekerja. Namun, beban pencari kerja tetap tinggi. Sidoarjo memikul angka terbesar di Jawa […]

  • Dengke Naniura

    Dengke Naniura: Sashimi Batak yang Menggoda Lidah, dari Ritual Adat hingga Tren TikTok

    • calendar_month Minggu, 20 Apr 2025
    • account_circle Ruang Teja
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – Di balik pesona Danau Toba, tersimpan sebuah khazanah kuliner Batak yang memikat: Dengke Naniura. Hidangan ikan mentah yang “dimasak” dengan jeruk jungga dan rempah ini kerap dijuluki sashimi-nya orang Batak. Tak sekadar sajian lezat, Dengke Naniura adalah warisan budaya yang kini mencuri perhatian berkat viralnya di platform seperti TikTok. Apa yang membuat kuliner […]

  • Dock UGreen Mac Mini

    UGreen Jawab Keterbatasan Port Mac Mini dengan Dock 10 Port + Ekspansi SSD NVMe!

    • calendar_month Sabtu, 5 Apr 2025
    • account_circle Mascim
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – Bagi pengguna Mac Mini generasi terbaru, keterbatasan port sering menjadi kendala utama, terutama untuk kebutuhan multitasking seperti transfer data, koneksi monitor eksternal, atau aksesoris tambahan. UGreen, brand aksesoris ternama yang biasanya identik dengan charger berkualitas, kini meluncurkan docking station khusus Mac Mini yang tidak sekadar menambah port, tetapi juga menyediakan slot NVMe SSD […]

  • Ini 5 Faktor Penting Saat Memutuskan memilih Jurusan Kuliah

    Jangan Asal Pilih! Ini 5 Faktor Penting Saat Memutuskan Memilih Jurusan Kuliah

    • calendar_month Minggu, 2 Mar 2025
    • account_circle Ruang Ilham
    • 0Komentar

    Ruang.co.id – Memilih jurusan kuliah itu ibarat memilih jalan hidup. Salah pilih? Bisa jadi selama bertahun-tahun kamu akan bergelut dengan tugas, ujian, dan skripsi yang tidak sesuai dengan minatmu. Lebih buruk lagi, kamu bisa merasa tidak cocok dengan dunia kerja yang menanti setelah lulus. Banyak mahasiswa yang akhirnya menyesali pilihannya karena asal ikut teman, terpengaruh […]

  • Bukti Nyata Made Satria, Swadaya Bangun Crystal Bay Untuk Tata Pedagang Indahkan Pantai

    Bukti Nyata Made Satria, Swadaya Bangun Crystal Bay Untuk Tata Pedagang Indahkan Pantai

    • calendar_month Senin, 29 Jul 2024
    • account_circle Ruang Hadilies
    • 0Komentar

    Klungkung, Ruang.co.id – Bukti nyata Made Satria, swadaya bangun Crystal Bay untuk tata pedagang indahkan Pantai. Pantai Crystal Bay, menjadi daya tarik menarik di kawasan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali. Sayangnya, keberadaan pedagang masih kurang tertata rapi. Hal itu pun menarik perhatian Anggota DPRD Klungkung, I Made Satria untuk melakukan penataan secara swadaya bersama masyarakat. […]

expand_less