HUT ke- 53 PDI-P: Satyam Eva Jayate Jadi Kompas Moral Melawan Pragmatisme Politik

Megawati Soekarnoputri pimpin HUT ke-53 PDIP di Ancol. Tegaskan sanksi pecat koruptor dan luncurkan Balai Kreasi bagi Gen Z. Foto: Istimewa
Ruang Nurudin
Ruang Nurudin
Print PDF

Ruang.co.id – Baru saja Partai Politik (Parpol) PDI Perjuangan tengah merayakan ulang tahunnya yang ke- 53. Berbagai rangkaian kegiatan berlangsung dari DPP hingga DPC mulai Sabtu (10/1/2026).

Di Jakarta, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, membakar semangat ribuan kader dalam pembukaan Rakernas I, sekaligus Peringatan HUT ke-53 partai, di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta, Sabtu (10/1/2026).

Tema yang diusung kali ini, PDI-P menegaskan ideologi Satyam Eva Jayate atau kebenaran pasti menang, sebagai tameng melawan arus pragmatisme politik.

“Kader harus menjadi Pandu Ibu Pertiwi, sosok yang berdiri paling depan saat rakyat dalam kegelapan dan berdiri paling belakang untuk melindungi mereka,” tegas Megawati dalam pidato politik menyentuh nurani ribuan fungsionaris dari seluruh pelosok tanah air.

Ia mengingatkan bahwa jabatan bukanlah segalanya, melainkan keberpihakan pada kebenaran hakiki adalah ujian sejarah yang sesungguhnya.

Menariknya, peringatan tahun ini menjadi krusial, karena PDIP secara resmi menetapkan kebijakan Zero Tolerance (nol toleransi) terhadap korupsi.

Melalui Surat Edaran terbaru, partai berlambang banteng moncong putih ini, memberlakukan sanksi pemecatan seketika bagi kader yang ditetapkan sebagai tersangka korupsi.

Langkah berani ini diambil, untuk menyibak tabir keraguan publik dan membuktikan bahwa moralitas adalah fondasi utama organisasi.

Di sisi lain, PDIP melakukan transformasi radikal, dengan membentuk 7 Komisi Strategis, untuk menjawab tantangan zaman. Salah satu yang terviral adalah mandat pembentukan Balai Kreasi di setiap Dewan Pimpinan Cabang (DPC).

Program ini merupakan inkubasi digital dan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) yang dipimpin oleh Prananda Prabowo, guna merangkul 56 persen pemilih muda pada Pemilu 2029 mendatang.

Megawati juga melontarkan kritik pedas terhadap kerusakan ekologi di Sumatera dan Aceh akibat deforestasi (penggundulan hutan). Ia menginstruksikan seluruh kepala daerah dari PDIP, untuk melakukan moratorium (penangguhan sementara) terhadap izin yang merusak lingkungan.

“Jangan biarkan demokrasi lahir dari moncong senjata atau penghancuran alam,” ujarnya penuh haru saat membahas nasib rakyat terdampak bencana.

Berdasarkan data internal, Rakernas ini juga mengukuhkan kembali Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum periode 2025-2030 hasil Kongres VI.

Konsolidasi ini memastikan partai tetap solid di bawah komando ideologis yang stabil, di tengah dinamika politik nasional yang kian memanas.

Sementara itu di Sidoarjo, DPC PDI Perjuangan memperingati HUT ke-53 melalui aksi kemanusiaan masif, mulai dari pengiriman tenaga medis ke daerah bencana di Aceh, hingga bantuan banjir di Kecamatan Porong.

Ketua DPC PDI Perjuangan Sidoarjo, H. Hari Yulianto, menegaskan bahwa tema “Satyam Eva Jayate” wajib diimplementasikan melalui tindakan nyata, bukan hanya sebatas ucapan seremoni.

“Seluruh kader PDI Perjuangan harus selalu hadir di tengah rakyat, bekerja bersama rakyat, dan berjuang untuk kepentingan rakyat. Kader tidak boleh berjarak,” tegas Hari Yulianto pada Sabtu (10/1/2026).

Momentum ini sekaligus menjadi ajang transparansi melalui “Laporan kepada Rakyat“, sebagai wujud pertanggungjawaban politik fungsionaris partai kepada masyarakat Sidoarjo.