Sidoarjo, Ruang.co.id – Ratusan warga Dusun Telogo, Desa Sidokerto, Buduran, Sidoarjo menggelar tradisi Memetri Deso (merawat desa) dan Haul Akbar leluhur pada Sabtu ini (31/1/2026), guna membendung arus modernisasi yang mengancam hilangnya jati diri budaya lokal di tengah kawasan industri.
Langkah masyarakat ini menjadi oase spiritual di tengah bisingnya deru mesin pabrik Kabupaten Sidoarjo. Mereka memilih berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan menyapa ruh perjuangan para perintis desa atau yang dikenal dengan istilah babat alas (membuka lahan hutan menjadi pemukiman).
Fokus utama penghormatan tertuju pada empat pilar “paku bumi” Dusun Telogo, Mbah Malang, Mbah Buyut Khori, Eyang Tirto Agung, dan Eyang Raden Kuludusu. Keempatnya merupakan tokoh sentral yang menanamkan nilai unggah-ungguh (tata krama) dan tepa selira (tenggang rasa) sebagai fondasi sosial kemasyarakatan.
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Sidoarjo Nomor 11 Tahun 2017 tentang Pelestarian Budaya Daerah, kegiatan ini merupakan implementasi nyata dalam menjaga warisan budaya tak benda.
Data dari Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Sidoarjo menunjukkan bahwa desa yang menjaga tradisi memiliki tingkat kohesi sosial 40% lebih tinggi dibanding kawasan urban murni.
Panitia pelaksana sekaligus pegiat sejarah, Wempy Yohanes, menegaskan pentingnya literasi sejarah bagi generasi Z dan milenial agar tidak tercerabut dari akar asalnya.
“Ini adalah cara warga Dusun Telogo melawan lupa. Para leluhur bukan sekadar nama masa lalu, melainkan fondasi peradaban desa. Merawat makam berarti merawat nilai perjuangan mereka,” tegas Wempy Yohanes saat ditemui di lokasi prosesi.
Suasana menyentuh hati terjadi saat sesi Umbul Dungo (memanjatkan doa bersama). Warga bersimpuh mengelilingi gunungan hasil bumi, memohon keselamatan desa dari segala balak (marabahaya).
Puncak acara ditutup dengan Kembul Bujana, tradisi makan bersama di atas daun pisang yang menyimbolkan semangat egaliter tanpa sekat kasta sosial.
Sesepuh desa, Mbah Rokhim, memberikan pesan tajam yang menggetarkan empati seluruh hadirin. Beliau mengingatkan bahwa kemajuan ekonomi tidak boleh membunuh karakter bangsa.
“Tradisi mendoakan leluhur adalah pagar budaya. Sidoarjo boleh maju, gedung-gedung boleh menjulang, tapi jangan sampai hilang identitasnya. Wong Sidoarjo ojo nganti lali jawane (Orang Sidoarjo jangan sampai lupa identitas Jawanya),” ujar Mbah Rokhim penuh wibawa.
Kini, Dusun Telogo telah membuktikan bahwa kemajuan zaman dan kelestarian tradisi bisa berjalan beriringan. Perjuangan mereka adalah pengingat bagi kita semua, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah mengkhianati sejarahnya sendiri.

