HPN ke-80 di Polda Jatim Jadi Momentum Perkuat Sinergi Pers dan Polri

sinergi pers dan Polri
Polda Jatim gelar tasyakuran HPN ke-80. Kabidhumas Jules Abraham sebut pers adalah maestro penangkal hoaks. Foto: Istimewa
Ruang redaksi
Print PDF

Ruang.co.id – Hari Pers Nasional (HPN) ke-80 yang jatuh pada 09 Februari 2026 menjadi momen istimewa bagi insan media dan kepolisian di Jawa Timur. Bertempat di lingkungan Polda Jatim, tasyakuran sederhana namun penuh makna digelar bersama wartawan Pokja Balai. Rabu, (11/2/2026). Acara ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang dialog yang memperlihatkan bahwa hubungan antara pers dan Polri berada di fase yang lebih hangat dan produktif. Di tengah derasnya arus disinformasi, kolaborasi ini seperti oase yang menyegarkan kepercayaan publik terhadap dua institusi yang sama-sama berperan sebagai penjaga stabilitas informasi dan keamanan.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jatim, Kombespol Jules Abraham Abast, hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Ia didampingi jajaran staf Bidhumas yang sejak awal terlibat dalam perencanaan acara. Dalam sambutannya, Jules menegaskan bahwa peringatan HPN kali ini tidak bisa dimaknai sekadar selebrasi. Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk mempererat sinergi antara kepolisian dan media, terutama mereka yang tergabung dalam organisasi profesi wartawan di Indonesia.

“Pers memiliki peran penting dalam pemberitaan dan edukasi bagi masyarakat. Maka, hubungan baik ini harus terus dijaga agar penyampaian informasi tetap akurat dan terpercaya,” kata Jules. Pernyataan ini menggambarkan kesadaran institusi kepolisian bahwa media bukan mitra yang harus dijauhkan, melainkan pintu masuk menuju masyarakat yang cerdas dan kritis.

Lebih jauh, alumnus Akademi Kepolisian 1995 itu menyoroti ancaman nyata yang kini membayangi ruang digital. Hoaks, menurutnya, bukan sekadar gangguan kecil. Ia menyebutnya sebagai potensi perusak tatanan sosial jika dibiarkan tanpa perlawanan dari kekuatan informasi yang kredibel.

“Dengan kehadiran insan pers, dampaknya sangat besar dan berpengaruh. Pers adalah maestro penangkal hoaks, sekaligus ujung tombak dalam menyajikan kebenaran dan fakta ke publik,” tegasnya. Pemilihan kata “maestro” di sini bukan tanpa makna. Ia ingin menempatkan wartawan bukan sebagai penyampai pesan biasa, melainkan seniman yang meramu fakta dengan keahlian dan integritas.

Baca Juga  Samuel Pembongkar Rumah Nenek Elina Digelandang ke Polda Jatim

Jules juga tidak menutup mata terhadap dinamika buruk dunia digital. Ia menyadari bahwa banyak informasi mentah dan belum terverifikasi melesat bebas di platform media sosial. Tanpa proses filtering yang ketat, informasi tersebut bisa dimanfaatkan oleh oknum berkepentingan untuk menciptakan kekacauan informasi. Namun, ia optimistis bahwa media arus utama masih memiliki daya tawar untuk membendung praktik kotor itu.

“Dengan adanya media arus utama, ruang gerak penyebar hoaks semakin sempit. Upaya menyebarkan informasi tidak benar pun akan gagal karena diuji melalui proses jurnalistik,” tegas alumnus Akpol 1995.

Di sisi lain, Jules juga mengingatkan bahwa pers memiliki fungsi strategis dalam menjembatani negara dan rakyat. Lewat pemberitaan yang akurat, masyarakat dapat mengakses kebijakan publik, program pemerintah, hingga perkembangan situasi keamanan dengan cara yang transparan dan bisa dipertanggungjawabkan. Ia menyebut pers sebagai jendela, mata, sekaligus telinga publik.

“Pers adalah mata dan telinga publik, sekaligus jendela masyarakat dalam memperoleh informasi. Jurnalis berperan menyampaikan kebenaran, mencerdaskan bangsa, dan menghadirkan fakta melalui karya jurnalistik,” pungkasnya. Kalimat penutup itu seperti benang merah yang menyatukan narasi tentang betapa eratnya denyut nadi pers dan Polri dalam melayani publik.

Sementara itu, Wisnu Wardhana dari Departemen Kepolisian PWI Jawa Timur menyampaikan apresiasi mendalam. Ia melihat sendiri bagaimana Polda Jatim membuka diri terhadap kerja sama yang setara. Tidak ada sekat yang mengganjal, yang ada justru semangat berbagi peran. Ia berharap kemitraan ini tidak berhenti di seremoni semata, tetapi terus dirawat dalam praktik sehari-hari, terutama dalam hal akses informasi publik tentang program dan kinerja Kepolisian.

“Fungsi kontrol tetap kita kedepankan untuk memberikan kritikan yang bersifat konstruktif agar pelayanan Polri bisa terus ditingkatkan lebih baik,” ujar Wisnu Wardhana.

Baca Juga  Berkurban 15 Sapi, Cak YeBe Bagikan 4000 Paket Kurban untuk Penerima Tak Terduga di Surabaya