Kisah Inspirasi Empat Dekade Suprapto “Pak Tile” Menjaga Arus Jalan Graha Amerta

Suprapto di Graha Amerta
Suprapto sosok pria 86 tahun setia mengatur lalu lintas Graha Amerta Surabaya demi kemanusiaan dan nafkah keluarga secara mandiri. (Din)
Ruang Nurudin
Ruang Nurudin
Print PDF

Ruang.co.id – Suprapto, pria berusia 86 tahun, yang akrab disapa “Pak Tile” atau “Pak Ogah”, telah memperjelas komitmennya dalam menjalankan profesi, sebagai petugas pengaturan jalan lalu lintas secara mandiri, tanpa digaji atau dihonor dari pihak manapun.

Semata – mata Pak Tile lakukan, demi memastikan kelancaran arus kendaraan lancar di sepanjang jalan Airlangga, terutama di pintu keluar masuk parkir Graha Amerta RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Dr. Soetomo.

Kegiatan sosial yang ia lakoni, sangat lama menjadi sebuah profesi dan secara konsisten ini, bertujuan memberikan rasa aman bagi pengguna jalan, sekaligus sebagai sarana mendapatkan upah sukarela, untuk menopang ekonomi keluarga di tengah usia senja.

Langkah ini menjadi penting baginya, sebagai cerminan kegigihan lansia (lanjut usia) yang enggan berpangku tangan dalam menghadapi tantangan hidup diperkotaan. Informasi ini sangat relevan disampaikan kepada masyarakat luas dan otoritas terkait, sebagai bentuk apresiasi terhadap ketertiban umum di kawasan vital kesehatan.

Aksi kemanusiaan ini, begitulah lebih tepat penyebutannya, berlangsung di sepanjang koridor Jalan Airlangga – Karang Menjangan, Surabaya, yang telah ia tekuni sejak tahun 1983 hingga memasuki April 2026.

Kesetiaan di Tengah Arus Jalan

Suprapto, lahir di Semarang, dan telah menetap di Surabaya selama empat puluh tahun terakhir. Bahkan, dia mengaku sangat lama tidak pernah menginjakkan kaki kembali ke tanah kelahirannya.

Dengan latar belakang pendidikan sekolah dasar (SD) yang terhenti di kelas 6 di Semarang, ia memilih jalan hidup sebagai pengatur lalu lintas mandiri, atau yang lazim dikenal publik dengan istilah “Pak Ogah”. Sebutan ini merujuk pada sosok karakter, yang membantu mengarahkan kendaraan, dengan mengharapkan imbalan sukarela.

Setiap hari, tepat pukul 09.00 WIB, sosoknya yang humoris sudah terlihat berdiri sigap, di depan fasilitas medis tersebut. Ia mengenakan rompi keselamatan berwarna hijau terang, sebagai identitas visualnya, agar mudah dikenali pengemudi.

Baca Juga  Tunggu Arahan Gubenur Jatim, Kontingen Kormi Surabaya Siap Kobarkan Semangat Juang di FORNAS 8 NTB

Suprapto menjalankan tugasnya hingga pukul 15.00 WIB, menghadapi terik matahari maupun debu jalanan tanpa mengeluh. Hanya setiap Sabtu dan Minggu, dia sengaja meliburkan diri, dan memanjakan waktunya bersama keluarga kecilnya di kawasan Jojoran.

“Mulai 1983 sampai sekarang saya di sini. Saya hanya menerima upah sukarela, dari pengguna jalan yang melintas, terutama yang keluar masuk parkir Graha Amerta,” ujar Suprapto saat diwawancarai Ruang.co.id dengan penuh semangat juang tinggi.

Kalimat ucapannya masih fasih terdengar, sekalipun ia sudah tak memiliki gigi alias ompong, lantaran dimakan usia. Keunikan fisik Suprapto di usia senjanya, merupakan ketahanannya yang luar biasa.

Ia mengaku hampir jarang mengalami gangguan kesehatan, bahkan tidak pernah terserang batuk maupun pilek (influenza). Sepertinya dia merahasiakan ramuan khusus, untuk vitalitas tubuhnya. Hanya mengatakan kunci sukses kesehatannya, “Menikmati hidup dengan suka cita dalam keadaan apapun benar – benar secara ikhlash”.

Pengakuan soal kesehatan Pak Tile, datang dari Parti (58), warga kampung Karangmenjangan, yang berdagang asongan melayani seduhan kopi dan rokok ecer, di depan pagar gerbang Graha Amerta RSUD Dr. Soetomo.

“Ya begitu itu sosok pak Tile. Orangnya selalu periang, omongannya lucu da menghibur orang di sekitarnya. Selama saya jualan disini saya selalu ketemu dia. Nggak tahu ya apa resep jamunya, dia saya lihat gak pernah sakit,” tutur Suparti.

Kehadiran Tile, membantu mengurai kemacetan di area rumah sakit, yang seringkali padat, memberikan kontribusi nyata bagi kelancaran mobilitas ambulans dan pasien.

Hampir sehari dalam pengamatan Ruang co.id, tidak semua kendaraan yang lalu lalang keluar masuk di lahan parkir Graha Amerta, memberikan saweran uang receh, sebagai rasa terima kasihnya dibantu.

Baca Juga  Apel ASN Peduli di BKKBN Jatim, Berbagi dan Berempati di Bangunan Bersejarah

Dalam sehari itu, terhitung belasan mobil yang keluar dari areal parkir Graha Amerta, tak membuka kaca memberi imbalan uang. “Lho Blong maneh, yo gak opo – opo, seng penting digawe seneng (Lho Blong lagi, ya tidak apa – apa, yang penting dibikin senang),” spontanitas ucapan pak Tile dengan ekspresi humor kepada Ruang.co.id.

Ketika dia disawer uang receh Rp2 ribu dari pengendara yang membuka kaca mobilnya saat diberi jalan pak Tile, dia juga langsung gerakan gestur spontanitas berekspresi humor lucu, pertanda suka citanya ditunjukkan kepada Ruang.co.id.

Jelang sore kemudian, di trotoar jalan, pak Tile mula menghitung uang receh yang dikumpulkannya. Total ada Rp52 ribu, terkumpul dari jerih payahnya berkeringatan. “Ya rata – rata paling banyak dapat segini seharinya. Kadang dapat separohnya, dan pernah dalam sehari dapat Rp10 ribu,” ujar polos ucapan pak Tile.

Suprapto pengatur lalu lintas di Graha Amerta
Suprapto pengatur lalu lintas di Graha Amerta
Kemandirian dan Apresiasi dari Jalanan

Penampilan Suprapto, cukup menarik perhatian, karena jam tangan mewah berlapis warna keemasan, dan empat buah cincin batu akik besar yang melingkar di jari-jarinya. Aksesoris tersebut bukan hasil pembelian pribadi, melainkan simbol apresiasi dari para pengguna jalan tetap datang dari internal manajemen Graha Amerta, yang menaruh hormat pada dedikasinya.

Ia menyebut barang-barang tersebut merupakan pemberian dari figur yang ia sebut dengan istilah “Pak Rektor” dan “Pak Dosen”, tak lain “Direktur” dan “Dokter” yang berpraktik di Graha Amerta.

“Jam tangan mewah keemasan ini pemberian pak Rektor, maksud saya pimpinan atau Direksi di Graha Amerta. Kalau cincin-cincin ini dari pak Dosen, maksud saya para dokter spesialis yang praktik di sini,” jelas Suprapto sembari menunjukkan perhiasannya.

Secara ekonomi, Suprapto mampu meraup penghasilan rata-rata Rp50.000 per hari dari pemberian pengguna jalan. Uang tersebut ia gunakan untuk membiayai kehidupan bersama istri keempatnya, yang berusia 56 tahun, di rumah milik pribadi sang istri, di kawasan Jojoran. Meski sebagai warga ber-KTP (Kartu Tanda Penduduk) Surabaya, ia mengaku tidak menerima santunan atau honor rutin dari instansi manapun.

Baca Juga  Nyawa Baru Transformasi Eks Hi-Tech Mall Surabaya Jadi Jantung Kreativitas Pemuda

Berdasarkan data rujukan bantuan sosial, hanya istrinya yang terdaftar sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH). PKH adalah program pemberian bantuan sosial bersyarat kepada Keluarga Miskin (KM), yang ditetapkan sebagai keluarga penerima manfaat, sesuai Peraturan Menteri Sosial Nomor 1 Tahun 2018.

“Istri saya dapat bantuan PKH dari pemerintah sebesar Rp300 ribu per bulan. Kalau saya sendiri tidak pernah mendapat santunan atau honor dari pihak manapun, murni dari jalanan ini,” tambahnya lagi.

Suprapto merupakan ayah dari empat orang anak, terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan. Meski tidak merinci keempat anaknya dari buah perkawinan dengan istri yang mana. Perjuangannya menunjukkan nilai kemanusiaan yang tinggi, di mana di usia yang tidak lagi muda, ia tetap memilih produktif dan inklusif (terbuka untuk semua kalangan) dalam melayani publik.

Kisah ini memberikan pesan edukatif bahwa, pengabdian tulus tidak mengenal batas usia, dan kemandirian adalah kunci menjaga martabat hidup. Dedikasinya selama lebih dari empat dekade membuktikan bahwa, setiap peran di masyarakat memiliki nilai yang sangat berarti.