Ruang.co.id – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menggelar program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) “Praktisi Mengajar 2026” dengan menghadirkan Branch Manager CMA CGM Surabaya, Gunawan, untuk membekali para pemagang internalnya dengan wawasan rantai pasok langsung dari kacamata perusahaan pelayaran global. Langkah ini merupakan respons strategis perusahaan dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul di tengah kompleksitas logistik modern. Kamis, (14/5).
Program bertajuk “Understanding Supply Chain Logistics From The Shipping Line Perspective” ini berlangsung di Toba Meeting Room, Gedung Customer Service TPS, pada Rabu (13/5). Puluhan pemagang dari berbagai departemen vital seperti Operasi, Komersial, HSSE, dan Teknologi Informasi, mengikuti sesi intensif yang membedah bagaimana shipping line memandang kinerja terminal sebagai kunci reliabilitas jadwal dan efisiensi biaya logistik global.
Sekretaris Perusahaan TPS, Erika Asih Palupi, menegaskan bahwa inisiatif ini didorong oleh kebutuhan untuk menjembatani pengetahuan teoritis dengan realitas industri. “Melalui program ini, TPS berharap dapat memperkaya wawasan pemagang dengan insight langsung dari pelaku industri, sehingga mampu meningkatkan kapabilitas dan daya saing perusahaan dalam menghadapi tantangan logistik global,” ujarnya saat membuka acara.
Dalam pemaparannya, Gunawan menekankan bahwa terminal petikemas bukan sekadar titik bongkar muat, melainkan simpul kritis yang performanya berdampak langsung pada reputasi dan efisiensi biaya sebuah perusahaan pelayaran. “Bagi kami di shipping line, setiap menit keterlambatan di terminal adalah biaya. Sinkronisasi dan keandalan layanan terminal adalah faktor determinan dalam memilih hub logistik, dan di sinilah peran strategis TPS diuji,” terang Gunawan di hadapan para peserta.
Lebih lanjut, Gunawan memaparkan langkah-langkah konkret yang diambil industri pelayaran dalam menghadapi disrupsi. “Kami terus berinvestasi dalam sistem tracking real-time dan mengembangkan protokol komunikasi yang lebih adaptif dengan mitra terminal. Tujuannya satu, menciptakan visibilitas penuh atas kargo sehingga potensi bottlenecks bisa diantisipasi sebelum terjadi,” imbuhnya, menjelaskan pentingnya kolaborasi digital antara terminal dan pelayaran.
Ke depan, TPS berkomitmen untuk terus menghadirkan program serupa dengan tema-tema strategis yang relevan dengan dinamika kepelabuhanan. “Kami ingin memastikan bahwa pembelajaran di TPS tidak pernah berhenti. Program ini adalah salah satu jalan tol kami untuk mengakselerasi kompetensi insan TPS agar setara dengan standar global,” pungkas Erika, menutup sesi dengan optimisme.

