Dari Lapangan Hijau ke Balai Desa, Mimpi Wasit Nasional Nyalon Kades untuk Olahragakan Anak-Anak Barengkrajan

Wasit Nyalon Kades
Wasit Liga 1 Syaiful Arif maju Pilkades Sidoarjo demi wujudkan desa sehat, olahraga, dan masa depan anak muda. (Ist)
Ruang Nurudin
Ruang Nurudin
Print PDF

Sidoarjo, Ruang.co.id – Data menunjukkan 230 peserta Calon Kepala Desa (Kades), di 80 Desa di sejumlah kecamatan, dalam kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serempak di Sidoarjo.

Mereka kebanyakan ada yang berlatar belakang incumbent kades, pengusaha atau wiraswasta, bahkan sosok tokoh masyarakat desa sekitarnya.

Tapi ajang Pilkades kali ini, ada yang tidak umum, sosok wasit sepak bola bertaraf nasional, mencalonkan diri sebagai kepala desa atau Kades.

Syaiful Arif, Wasit yang mengantongi lisensi C1, yang biasanya memimpin pertandingan sepak bola Liga 1, mencoba mengadu nasib untuk berebut memimpin desanya.

Kamis pagi (7/5)2026), dia turut hadir mengikuti pembekalan Pilkades, di Pendopo Delta Wibawa Kabupaten Sidoarjo.

Di lapangan sepak bola, peluit di tangan Syaiful Arif kerap menjadi penentu jalannya pertandingan. Keputusan yang diambilnya harus cepat, tegas, dan adil.

Namun kini, pria berlisensi wasit nasional itu sedang memasuki “pertandingan” yang jauh lebih besar: memperjuangkan masa depan desanya sendiri.

Syaiful menjadi salah satu sosok yang mencuri perhatian, dalam kontestasi Pilkades serentak di Sidoarjo. Pagi itu di Pendopo, dia mengenakan pakaian batik rapi, bukan mengenakan Jersey wasit.

Dengan sikap tenang berdiri tegap, saat diwawancara Ruang.co.id, khas seorang pengadil lapangan. Pria asal Desa Barengkrajan itu, mengaku pencalonannya bukan sebatas ambisi politik.

“Ini panggilan hati. Saya ingin desa saya berkembang dan masyarakatnya punya kesempatan hidup yang lebih baik,” ujarnya kepada Ruang.co.id.

Bagi Syaiful, sepak bola bukan hanya olahraga. Dunia itu telah membentuk perjalanan hidupnya sejak muda. Sebelum menjadi wasit profesional, ia pernah bermain di kompetisi internal memperkuat squad Persebaya dan menjadi ofisial Deltras.

Pengalaman bertahun-tahun di lapangan, membuatnya memahami arti disiplin, kerja keras, dan kebersamaan.

Baca Juga  Wabup Mimik Tinjau Hasil Bedah Warung Sarirogo, yang Jadi Harapan Baru UMKM Desa

Namun yang paling membekas dalam dirinya, justru kondisi anak-anak desa yang menurutnya membutuhkan ruang tumbuh yang sehat.

Di sela kesibukannya memimpin pertandingan Shopee Liga 1 maupun BRI Liga 1, Syaiful tetap meluangkan waktu membina Sekolah Sepak Bola (SSB) Garuda FC, di kampung halamannya. Dari lapangan sederhana di desa, ia menyaksikan sendiri bagaimana olahraga mampu mengubah karakter anak-anak.

Ia sering menemui remaja yang awalnya pemalu, mudah terpengaruh lingkungan, hingga kurang percaya diri, perlahan berubah lebih disiplin setelah rutin berlatih sepak bola.

Karena itu, bila terpilih menjadi kepala desa, pembangunan sarana olahraga menjadi salah satu program yang paling ingin ia wujudkan.

“Anak-anak desa harus punya tempat untuk berkembang. Jangan sampai mereka kehilangan arah karena tidak punya kegiatan positif,” katanya.

Keinginan Syaiful bukan semata membangun lapangan sepak bola. Ia ingin menghadirkan ruang kebersamaan bagi warga, tempat generasi muda belajar sportivitas, disiplin, dan mimpi besar tentang masa depan.

Selain fokus pada olahraga, ia juga menaruh perhatian pada penguatan ekonomi masyarakat melalui UMKM dan penciptaan lapangan kerja baru.

Menurutnya, desa yang maju bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga tentang menghadirkan harapan bagi warganya.

Pengalaman menjadi wasit nasional, kata Syaiful, telah melatihnya untuk bersikap objektif dan berani mengambil keputusan sulit.

Bekal itulah yang kini ingin ia bawa dari lapangan hijau menuju pelayanan publik di desanya sendiri.

Penghujung wawancara, siapa proyeksi pendukung terbanyak untuk mencoblosnya? “Harapan pasti saya emak – emak SSB kami yang nyoblos,” ujar optimisnya.