Evaluasi TPT Tuberkulosis, Pemerintah Perkuat Kontak Erat Serumah
- account_circle Ruang Nurudin
- calendar_month 16 jam yang lalu
- print Cetak

Program Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) di Indonesia terus mendapat sorotan tajam. Pemerintah pusat menilai capaian nasional di tahun-tahun sebelumnya, masih sangat rendah dan perlu perombakan strategi yang masif, terutama dalam menyasar kontak erat di tingkat rumah tangga. (Din)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sidoarjo, Ruang.co.id — Program Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) di Indonesia terus mendapat sorotan tajam. Pemerintah pusat menilai capaian nasional di tahun-tahun sebelumnya, masih sangat rendah dan perlu perombakan strategi yang masif, terutama dalam menyasar kontak erat di tingkat rumah tangga.
Ketidaksinkronan data yang dimiliki Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo terkait TPT TBC, terungkap saat pemaparan Dinkes dalam Kunjungan Kerja Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) di Pendopo Delta Wibawa Sidoarjo, pada Selasa (29/9/2026).
Hal tersebut diungkapkan dalam sebuah forum evaluasi kunker Wamenkes, yang turut membahas kondisi di berbagai daerah, termasuk Sidoarjo.
Kedatangan Wamenkes di Sidoarjo, disambut hangat oleh Wakil Bupati (Wabup) Mimik Idayana,S.A.P., dan didampingi Kepala Dinkes dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina,M.Kes., Ketua DPRD Abdillah Nasih,SM, beserta jajaran forkompimda Sidoarjo.
Wamenkes dua, dr. Benjamin Paulus Octavianus,Sp.P.,FISR, mengatakan cukup banyak dinas kesehatan di daerah – daerah salah mencatat data TPT, di antaranya data TPT dari Dinkes Sidoarjo.
Wamenkes Benjamin Paulus hadir bersama Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) RI, Komjen. Pol. (purn.) Drs. Akhmad Wiyagus,S.I.K., M.Si., sebelumnya melakukan kunjungan kerja meninjau suasana pasien TBC di RSUD RT. Notopuro dan Liponsos Dinsos Sidoarjo.
TPT, merupakan pengobatan yang diberikan kepada orang yang sudah terinfeksi bakteri TBC (tetapi belum sakit atau dalam kondisi laten), agar bakteri tersebut tidak berkembang menjadi penyakit TBC aktif.
Berdasarkan laporan resmi dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo, serta pembaruan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), rincian data kasus penderita TBC dan capaian TPT, untuk tahun 2025 dan data terbaru hingga September 2026:
Tahun 2025 (Data Kumulatif Akhir Tahun), tercatat ada sebanyak 6.061 kasus TBC. Angka ini mencakup penderita dewasa serta 548 kasus TBC pada anak usia 0–14 tahun, yang berhasil disaring melalui deteksi dini puskesmas.
Tahun 2026 (Data Terbaru hingga September 2026), Dinkes Sidoarjo mencatat temuan berkisar antara 5.800 hingga 6.200 kasus TBC.
Dari total temuan kasus di tahun 2026 tersebut, sebanyak 5.641 pasien telah berhasil memulai pengobatan medis, dengan tingkat capaian penanganan atau treatment rate mencapai 91 persen.
Meskipun angka deteksi TBC aktif sangat tinggi (bahkan menjadi salah satu yang tertinggi di Jawa Timur dengan tingkat penemuan 106,7% dari target estimasi), pemberian TPT masih menghadapi tantangan besar pada aspek kepatuhan konsumsi obat pencegahan bagi kontak erat pasien.
Pada laporan terbaru per September 2026, Dinkes Sidoarjo bersama Kementerian Kesehatan tengah menggencarkan gerakan TPT berskala komunitas dari hulu ke hilir. Fokus utama TPT di Sidoarjo saat ini dialokasikan untuk kontak erat dari penderita TBC aktif yang tinggal serumah.
Kelompok rentan khusus, termasuk pendampingan bagi pasien dengan koinfeksi (seperti 93 pasien TBC-HIV yang tercatat).
Skrining massal investigasi kontak erat di tingkat desa/kelurahan, guna memutus rantai penularan menuju target eliminasi TB Sidoarjo tahun 2028.
Sedangkan berdasarkan data nasional, cakupan pemberian obat pencegahan TBC secara nasional sempat berada di angka yang memprihatinkan, yakni hanya 1% dari Aceh hingga Papua pada 2022.
Angka tersebut hanya merangkak naik secara lambat menjadi 2% pada 2023, 12% pada 2026, dan mencapai 17% pada tahun lalu. Rendahnya capaian ini dinilai mencerminkan kondisi serupa di banyak kabupaten/kota, termasuk Sidoarjo.
Dalam arahannya, pemerintah menekankan pentingnya ketepatan perhitungan target sasaran TPT yang kerap kali keliru di tingkat daerah.
Sebagai contoh, jika jumlah suspek TBC tercatat sebanyak 6.000 orang, maka target penanganan tidak boleh disamakan mentah-mentah dengan angka tersebut.
Dengan estimasi satu rumah dihuni oleh rata-rata empat orang, target minimal penerima TPT seharusnya dikalikan dengan jumlah anggota keluarga serumah, yang berkisar antara 24.000 hingga 30.000 orang.
Strategi utama yang kini digalakkan, yakni pemeriksaan berbasis klaster rumah tangga atau contact tracing secara menyeluruh.
Pemerintah memberikan alokasi anggaran khusus—seperti contoh program penanganan untuk 27.000 sasaran—agar petugas dapat fokus memeriksa orang-orang yang tinggal satu atap dengan pasien positif.
“Kalau memeriksa itu ibarat memancing di kolam; yang diperiksa harus orang serumah karena risiko penularan tertinggi berada di dalam rumah, sementara orang dengan jarak jauh belum tentu tertular,” ujar Benjamin Paulus Octavianus, dalam evaluasi tersebut.
Pemerintah juga berkaca dari kasus penanganan TBC di Kabupaten Bandung pada 2024. Meski angka keberhasilan pengobatan pasien sakit (TBC aktif) mencapai 97% dari total 15.000 kasus, jumlah kasus baru di tahun berikutnya tetap tinggi di angka 15.000 orang.
Fenomena ini terjadi, karena penanganan sering kali hanya berfokus pada pasien yang sakit, sementara kontak erat di rumahnya terabaikan sehingga rantai penularan terus berlanjut.
Untuk menuntaskan persoalan ini, agenda peninjauan dan penguatan program TPT terus dikebut across-province.
Hingga saat ini, program intervensi telah menjangkau 29 provinsi, dan ditargetkan rampung menuntaskan sisa provinsi lainnya hingga akhir tahun mendatang, demi memutus rantai penularan TBC secara tuntas di Indonesia.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Sidoarjo, Lakhsmie Herawati Yuwantina memberikan tanggapan terkait koreksi dan arahan yang disampaikan oleh Wamenkes, mengenai target TPT. Koreksi tersebut, menyoroti perbedaan cara pandang dalam menetapkan target sasaran TPT di daerah.
Menurut Lakhsmie, target penemuan kasus TBC di Kabupaten Sidoarjo tahun ini, dipatok untuk menemukan sekitar 6.000 kasus, yang menunjukkan peningkatan dibanding tahun sebelumnya.
Sementara itu, koreksi yang disampaikan oleh pihak kementerian, berfokus pada potensi penularan dalam satu rumah.
“Kalau versi beliau (Benjamin Paulus Octavianus) itu adalah bahwa dimungkinkan satu rumah isinya beberapa orang, dan kalau satu orang kena TBC, otomatis anggota keluarga serumah yang lain harusnya diberi TPT. Targetnya jadi harusnya lebih besar daripada yang dipakai sekarang,” jelas Kadinkes Sidoarjo.
Kendati demikian, pihak Dinas Kesehatan mengakui bahwa, penerapan TPT di lapangan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tantangan terbesar yang dihadapi tenaga kesehatan saat ini, berkaitan dengan tingkat kesadaran dan kepatuhan dari kontak erat pasien, untuk mengonsumsi obat pencegahan.
Banyak anggota keluarga serumah yang merasa dirinya sehat, sehingga terjadi tarik ulur atau tawar-menawar ketika diminta meminum obat pencegahan TBC.
“Susahnya kenapa? Karena orang yang di sekeliling pasien ini ditanya mau atau tidak minum obat. Sementara ini kan masih tawar-menawar, ‘Oh, saya sehat kok, kenapa harus minum obat?'” ungkapnya.
Meski menghadapi tantangan penolakan halus dari masyarakat yang merasa sehat, Dinkes Sidoarjo tetap berupaya mendorong edukasi, agar aturan dan kewajiban minum obat pencegahan bagi kontak erat dapat dipahami serta dijalankan, demi memutus rantai penularan TBC di Sidoarjo secara efektif.
Karya berita Ruang.co.id yang dilindungi oleh UU Hak Cipta dan Hak Karya Intelektual yang tidak boleh di copy paste/ ditiru/ dijiplak.
- Penulis: Ruang Nurudin

