PAN Jatim Kobarkan Semangat Kejayaan Kerajaan Majapahit untuk Bantu Rakyat dan Rebut Posisi 3 Besar

PAN Jatim Target 3 Besar
PAN Jatim bangkit lewat semangat Majapahit. Zulhas targetkan posisi 3 besar nasional dan fokus bantu rakyat. (Din)
Ruang Nurudin
Ruang Nurudin
Print PDF

Surabaya, Ruang.co.id – Pelantikan pengurus Partai Amanat Nasional (PAN) se-Jawa Timur di JX Expo Surabaya, Minggu (10/5/2026), berlangsung spektakuler megah dan sarat nuansa kebangsaan.

Acara itu tak hanya menjadi momentum konsolidasi politik PAN, tetapi juga menghidupkan kembali semangat kejayaan Nusantara dan kemandirian rakyat.

Ketua Umum Zulkifli Hasan atau Zulhas hadir dan menegaskan bahwa, Jawa Timur merupakan “tulang punggung Indonesia”, yang memiliki peran strategis dalam menentukan masa depan bangsa.

“Kalau Jawa Timur kuat, Insya Allah Indonesia kuat,” tegas Zulhas di hadapan para pengurus DPW hingga DPD PAN se- Jatim yang akan dilantik, ribuan kader, ulama, habaib, tokoh pesantren, hingga kepala daerah yang hadir.

Dalam pidato politiknya, Zulhas menekankan filosofi PAN, yang diibaratkan seperti matahari yang memberi cahaya tanpa membeda-bedakan suku, agama, maupun latar belakang politik.

“Itulah filosofi Partai Amanat Nasional. Tidak pernah membeda-bedakan latar belakang. Siapa pun yang ingin memberikan waktu terbaik untuk Indonesia, kita kasih Karpet Biru,” ujarnya.

Ia juga menegaskan dua fondasi utama perjuangan PAN, yakni nasionalisme dan religiusitas. Menurutnya, kekayaan alam Indonesia harus dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

“Partai Amanat Nasional tidak boleh tawar-menawar, harus wajib berpihak kepada rakyat Indonesia dan bantu rakyat!,” tandasnya sebagai penegasan semangat baru PAN.

Zulhas menyebut keberpihakan PAN kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dilandasi kesamaan visi, tentang kedaulatan pangan dan keberpihakan kepada rakyat kecil.

“Kami tiga kali (tiga periode kepemimpinan nasional) bersama Pak Prabowo jatuh bangun, karena kesamaan cita-cita, kesamaan perjuangan, dan kesamaan kebijakan,” tegasnya.

Ia kemudian memaparkan sejumlah program pemerintah saat ini, yang menurutnya berpihak kepada petani dan nelayan. Salah satunya reformasi distribusi pupuk yang memangkas ratusan aturan birokrasi.

“Saya pangkas 145 aturan tinggal tiga aturan. Produksi beras langsung naik dari 30 juta ton menjadi 34,2 juta ton,” ungkap Zulhas disambut tepuk tangan seisi ruang berisikan sekitar 10 ribu manusia beratribut biru langit. Kapasitas normal sistem teater gedung itu, mencapai sekitar 8.200 orang.

Tak hanya itu, ia juga menyoroti kebijakan pemerintah pembelian gabah petani, tanpa syarat kadar air yang selama ini dinilai merugikan petani kecil.

Baca Juga  Gajah Mada, Mahapatih Legendaris Kerajaan Majapahit

“Para petani sudah puluhan tahun dibuat merugi oleh tengkulak – tengkulak besar, hingga banyak yang menjual lahan sawahnya. Pemerintahan sekarang berapa pun kualitasnya, asal petani menjual gabah harus dibayar Rp6.500, tidak boleh kurang,” ungkap Zulhas yang juga menjabat Menko Pangan lagi dan spontan kembali disambut tepuk tangan.

Zulhas menegaskan swasembada pangan bukan hanya urusan ekonomi, tetapi juga kehormatan bangsa Indonesia.

“Pangan bukan sekadar pangan. Swasembada pangan itu kedaulatan, dan kedaulatan itu kehormatan bangsa. Dari pada kita impor beras dari Thailand,” katanya.

Panitia acara menyampaikan, pelantikan pengurus PAN se- Jatim kali ini sengaja mengambil tema dengan nuansa simbol dan atribut kerajaan Majapahit.

Secara historis dan berdasarkan sumber-sumber akademik, serta naskah kuno seperti Nagarakretagama dan Pararaton, Kerajaan Majapahit didirikan pada tahun 1293 Masehi oleh Raden Wijaya yang kemudian bergelar Kertarajasa Jayawardhana.

Berdirinya Majapahit terjadi, setelah runtuhnya Kerajaan Singasari dan berhasilnya Raden Wijaya mengalahkan Jayakatwang serta mengusir pasukan Mongol utusan Kubilai Khan.

Nama “Majapahit” sendiri diyakini berasal dari buah Maja (Mojo), yang rasanya pahit (“tikta”), ketika wilayah hutan Tarik dibuka sebagai pusat pemerintahan baru di kawasan yang kini dikenal sebagai Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Masa kejayaan Majapahit, secara umum diakui berlangsung pada era pemerintahan Hayam Wuruk, yang memerintah antara tahun 1350–1389 M, didampingi oleh Mahapatih legendaris Gajah Mada.

Masa kejayaan Majapahit, berlangsung sekitar 39 tahun di bawah pemerintahan Hayam Wuruk. Namun proses ekspansi menuju kejayaan sebenarnya sudah dimulai sejak masa pemerintahan Tribhuwana Wijayatunggadewi bersama Gajah Mada sebelum tahun 1350.

Pada periode emas itu, pengaruh Majapahit meluas ke banyak wilayah Nusantara, mulai Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Semenanjung Malaya, hingga sebagian kawasan timur Indonesia.

Histori kerajaan Majapahit itu, ditampilkan dalam gelaran tarian kolosal secara spektakuler, yang dimainkan oleh ratusan pelajar SMA dan mahasiswa perguruan tinggi di Jatim.

Dari nilai historis yang tinggi inilah, menjadi penyemangat PAN, untuk bangkit menggapai kejayaan Nusantara. Dari Kejayaan ekonomi hingga kejayaan politik pemerintahan.

Baca Juga  Jejak Kemegahan Majapahit Dari Trowulan hingga Nusantara

Oleh karenanya, Zulhas di atas panggung spektakuler itu, membakar semangat para pengurus dan relawan se- Jatim, untuk merebut posisi peringkat ke- 3 perolehan suara nasional.

“Apakah sanggup kita meraih posisi ke- tiga?,” tantang Zulhas seraya disambut ”sanggup!”. “Apa bedanya PAN dengan parpol besar lainnya? Kalau kita disiplin kerja keras satu komando, insyaAllaah kita bisa meraih posisi ke-tiga!,” tandasnya lagi.

Kehadiran Verrell Bramasta Fadilla Soedjoko, artis sinetron dan bintang film, menjadi ikon dan daya pesona bagi ribuan relawan PAN Jatim. Terutama kaum emak – emak relawan, yang memberikan aplause setiap langkah gerak Varel.

Tak kalah memikatnya juga sederetan artis penyanyi dan hiburan ibu kota yang hadir, diantaranya Sigit Purnomo Syamsuddin Said alias Pasha Ungu, Dedy “si tenda biru” Ratnasari, Eko “Patrio” Hendro Purnomo, mewarnai semarak panggung spektakuler PAN itu.

Sedangkan dari sejumlah tokoh kyai, ulama, dan pengasuh Ponpes yang turut hadir, antara lain, KH. Fuad Noerhasan, pengasuh Ponpes Sidogiri Pasuruan, sekaligus didaulat mendoakan penutup prosesi acara, Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah di Mojokerto, Prof. KH. Asep Saifuddin Chalim, dan masih banyak lagi.

Sementara itu, Ketua DPW PAN Jawa Timur Habib Ahmad Rizki Sadiq dalam pidato sambutan, menyampaikan komitmennya memperkuat konsolidasi partai hingga tingkat desa dan TPS.

“Kami punya komitmen melakukan kerja keras, kerja cepat, kerja konkret menyelesaikan konsolidasi struktur sampai kecamatan, desa, bahkan TPS,” ujar Rizki.

Ia mengakui Jawa Timur bukan wilayah mudah bagi PAN untuk meraup suara mayoritas, karena memiliki kultur politik yang sangat beragam, dan kuatnya basis santri serta nasionalis.

Namun hal itu justru menjadi tantangan yang harus dijawabnya, melalui pendekatan budaya dan kerja nyata kepada masyarakat.

“Kami harus berada di tengah-tengah masyarakat untuk gerak cepat bantu rakyat,” katanya.

Rizki juga menegaskan DPW PAN Jatim ingin membangun sinergi dengan seluruh elemen masyarakat, mulai budayawan, ulama, habaib, organisasi keagamaan, hingga pemerintah daerah.

“Kami mohon restu agar bisa menjalankan amanah dan memberi kontribusi lebih besar untuk pembangunan Jawa Timur,” tuturnya.

Baca Juga  Sejarah Kerajaan Singosari, Titik Awal Kebangkitan Kerajaan di Nusantara

Dalam sesi wawancara usai acara, Zulhas kepada Ruang.co.id., memberikan apresiasi tinggi terhadap pelantikan PAN Jawa Timur, yang disebutnya sebagai pelantikan terbaik secara nasional.

“Saya istilahkan Jawa Timur penampilan terbaik, paling bagus dan paling militan. The best pelantikan selama ini Jawa Timur,” katanya.

Namun, Ia kembali mengingatkan para pengurus PAN agar tidak hanya fokus pada pemilu, tetapi benar-benar hadir membantu masyarakat.

“Pengurus itu harus hidup dan berguna untuk masyarakat di sekitarnya. Soal pemilu itu hasil, tapi berbuat dulu sekarang,” tegas Zulhas.

Di sisi lain, terkait ada kepala daerah kabupaten yang tidak memiliki kendaraan politik saat ini, konon ada DPC yang menyatakan siap bekerja sama.

Hal ini ditanggapi Sekretaris DPW PAN Jatim, Husnul Aqib, kepada Ruang co.id. menegaskan, PAN merupakan partai terbuka bagi siapa pun kepala daerah atau tokoh politik yang ingin berjuang bersama PAN ke depan.

“PAN itu partai yang terbuka. Siapa pun kader terbaik yang ingin meminta rekomendasi dari PAN tetap akan kami usung,” ujarnya.

Terkait kemungkinan komunikasi politik dengan kepala daerah di Jawa Timur yang belum memiliki kendaraan politik tetap, Husnul menyebut keputusan nantinya tetap melalui mekanisme partai.

“Kita kembali kepada DPC dan mekanisme partai. PAN siap membuka komunikasi politik,” katanya.

Diketahui, susunan nama pengurus DPW PAN Jatim periode 2024 – 2029 yang disahkan dan dilantik oleh Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan atau antara lain: Ahmad Rizki Sadig — Ketua DPW PAN Jatim, Husnul Aqib — Sekretaris, Beky Herdihansah — Bendahara, Masfuk — Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP), Zainudin Maliki — Ketua Dewan Pakar Wilayah, Anang Nafiuzzaki, Edward Dewaruci, Citra Eka Febri Indrawati, Achmad Rubai, dan Abdullah Abu Bakar.

Sedangkan dari 38 pengurus Ketua, Sekretaris, dan Bendahara, atau KSB DPD PAN kabupaten/kota se-Jatim, berikut susunan pengurus DPD PAN Sidoarjo, antara lain: Khulam Junaidi – Ketua, Bangun Winarso – Sekretaris, dan Roky Wardoyo sebagai Bendahara DPD PAN Sidoarjo. Turut hadir pula sebagai undangan dalam pelantikan itu, Subandi, Bupati Sidoarjo.