Sidoarjo, Ruang.co.id – Fenomena meningkatnya kekerasan terhadap anak di Sidoarjo, kembali menjadi sorotan serius. Data terbaru dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kab. Sidoarjo, yang dipaparkan dalam forum pembangunan gender menunjukkan bahwa, anak perempuan kini menjadi kelompok korban tertinggi dalam berbagai kasus kekerasan dan perlindungan sosial.
Data yang mencengangkan dan menghawatirkan itu, selama tiga tahun ke belakang, spesifik angkanya semakin cenderung meningkat.
Data diagram kategori kasus terhadap perempuan dan anak di 2026 menunjukkan 47,9 persen dengan jumlah angka spesifik kekerasan terhadap anak perempuan sebanyak 39 kasus, dari jumlah kasus yang dialami perempuan dan anak, termasuk anak laki – laki, sebanyak 82 kasus, yang ditangani DP3AKB Sidoarjo.
“Saya kalau setiap ada korban yang datang dalam penanganan rasanya saya menangis mendengar penuturan ceritanya. Miris sekali. Salah satu contoh, ada korban anak umur 3 tahun dicabuli bapak kandungnya sendiri! Orang tua korban bercerai, perlakuan itu terjadi saat bapaknya saat gantian mengambil anaknya untuk tinggal bersamanya,” ungkap Heni Kristiani, Kepala DP3AKB Sidoarjo, Narasumber talk show dengan tema “Kiprah Perempuan di Era Digital”.
Acara tersebut berlangsung di kantor DP3AKB Sidoarjo, yang merupakan kerja sama DP3AKB dengan organisasi profesi wartawan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sidoarjo, dalam memperingati Hari , pada Sabtu (9/5/2026).
Selain talk show, acara tersebut juga menggelar Launching Buku Antologi Puisi ke- 15 dari Komunitas Guru Penulis Sidoarjo (KGPS) dalam pembinaan jurnalis senior Kris Maryono alumni perguruan tinggi AWS (Akademi Wartawan Surabaya) yang kini menjadi kampus Stikosa AWS (Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya), dengan tajuk “Perempuan Pencerah Hati”.
Dalam paparan Heni di talk show tersebut tercatat, jumlah kasus anak perempuan terus mengalami kenaikan dalam lima tahun terakhir. Pada 2021 terdapat 56 kasus, meningkat menjadi 69 kasus pada 2022, lalu melonjak hingga 88 kasus pada 2023. Meski sempat turun tipis menjadi 85 kasus pada 2024, angka itu kembali naik tajam pada 2025 hingga mencapai 98 kasus.
Ironisnya, angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding korban perempuan dewasa maupun anak laki-laki. Dalam komposisi kasus tahun 2025, anak perempuan mencapai hampir separuh total korban yang ditangani.
Tak hanya itu, jenis kasus yang mendominasi juga tergolong berat. Data menunjukkan kasus pencabulan meningkat signifikan hingga 42 kasus pada 2025. Selain itu, kekerasan dalam rumah tangga, bullying, kekerasan berbasis gender online, hingga persoalan pemenuhan hak anak turut mengalami peningkatan.
Kondisi ini menjadi alarm serius bagi keluarga, sekolah, aparat penegak hukum (APH), dan pemerintah kab. Sidoarjo. Data meningkatnya kasus anak perempuan, dapat menunjukkan masih lemahnya sistem perlindungan anak, terutama dalam pengawasan lingkungan sosial dan ruang digital.
Di tengah capaian pembangunan gender yang cukup tinggi di Sidoarjo, fakta meningkatnya kekerasan terhadap anak perempuan menjadi ironi, yang tidak bisa lagi dianggap sebagai persoalan biasa.
Populasi Nyaris Setara, Tantangan Kerja Masih Menganga
Jumlah perempuan di Indonesia hampir setara dengan laki-laki. Itu yang disampaikan oleh Siti Chomsiyah, Ketua Biro Pemberdayaan Perempuan dan Wakil Ketua PGRI Jatim, yang juga sebagai narasumber acara ini.
Data BPS per April 2026 menunjukkan, populasi perempuan mencapai 49,6 persen, sementara laki-laki 50,4 persen. Secara global, komposisi penduduk dunia juga relatif seimbang.
“Siapa bilang sekarang ini jumlah perempuan lebih banyak dari laki – laki di seluruh dunia. Anggapan yang keliru karena jumlah perempuannya lebih banyak laki – laki, sehingga laki – laki bisa kawin lebih dari satu. Data BPS dan data global seluruh dunia menunjukkan, kaum laki – laki jumlahnya masih banyak,” ungkap Chomsiyah.
Namun di balik angka tersebut, perempuan masih menghadapi tantangan besar dalam dunia kerja. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan pada November 2025 tercatat 56,91 persen, jauh di bawah laki-laki yang mencapai 84,83 persen. Mayoritas perempuan juga masih bekerja di sektor informal, penjualan, dan pertanian.
Kesenjangan upah kerja, menurutnya, turut menjadi sorotan. Pada Februari 2026, rata-rata upah buruh perempuan sebesar Rp2,80 juta per bulan, lebih rendah dibanding laki-laki yang mencapai Rp3,55 juta.
Di tengah perkembangan era digital dan kecerdasan buatan, perempuan dinilai tetap memiliki peran penting sebagai sumber empati, pendidik utama generasi, sekaligus penggerak perubahan sosial melalui karya, kreativitas, dan kemampuan membaca peluang di tengah perubahan zaman.

