Pasuruan, Ruang.co.id – Menjelang pergantian tahun yang dinanti, Klenteng Tjoe Tik Kiong di Kota Pasuruan mulai menunjukkan wajah barunya. Bukan sekadar sapu dan kemoceng, ritual menyambut Tahun Baru Imlek ke-2577 Kongzii di penanggalan Masehi 2026 ini dilakukan dengan penuh khidmat. Tahun yang memasuki shio kuda api ini menjadi momen spesial bagi umat Khong Hucu setempat untuk membersihkan tidak hanya bangunan, tetapi juga jiwa.
Sejak Jumat pagi, 13 Februari 2026, hiruk-pikuk terlihat di setiap sudut Klenteng Tjoe Tik Kiong. Pengurus dan umat bergotong-royong menggelar kegiatan bersih klenteng yang sudah menjadi tradisi turun-temurun. Tidak seperti bersih-bersih biasa, ritual ini memiliki makna mendalam. Mereka mengayak abu altar yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya arwah dewa-dewi, memastikan tidak ada debu yang tersisa. Abu yang telah diayak kemudian dikembalikan dengan rapi, pertanda kesiapan menyambut kedatangan kembali para dewa dari kayangan.
Salah satu prosesi yang paling menyita perhatian adalah memandikan patung dewa-dewi. Patung-patung yang selama setahun setia menemani umat beribadah itu dibersihkan satu per satu menggunakan air mawar. Wewangian alami dari bunga mawar dipilih bukan tanpa alasan—keharumannya melambangkan kesucian hati dan harapan baru yang segar. Mellyana Sukistiawati, Ketua Harian Klenteng Tjoe Tik Kiong Kota Pasuruan, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan ini memiliki filosofi yang tidak bisa dilepaskan dari keyakinan mereka. “Ini kegiatan rutin setiap jelang hari raya Imlek, kita bersihkan seluruh isi Klenteng hingga menghias taman dalam menyambut tahun baru,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar membersihkan benda, ritual ini menjadi simbol penyambutan. Umat percaya bahwa saat dewa-dewi pergi ke kayangan untuk melaporkan kondisi umat manusia, mereka meninggalkan klenteng dalam keadaan “ditinggal”. Ketika arwah dewa-dewi kembali, klenteng harus dalam kondisi terbaiknya: bersih, harum, dan indah. Oleh karena itu, setiap sudut tak luput dari perhatian. Taman klenteng pun dihias ulang, memberi nuansa segar yang langsung terasa begitu melangkahkan kaki ke area klenteng.
Tahun 2026 dalam penanggalan Tionghoa dikenal sebagai tahun kuda api. Elemen api yang menyala-nyala dan karakter kuda yang lincah dipercaya membawa energi besar. Namun, energi itu tidak serta-merta memberi keberuntungan instan. Mellyana mengingatkan bahwa makna kuda dalam shio kali ini justru mengajarkan ketangguhan. “Tahun ini kita harus kuat seperti pada lambang kuda, dimana kita kuat kesuksesan menghampiri kita,” pesannya. Filosofi ini menjadi pengingat bahwa hanya mereka yang berani berlari kencang dan tak mudah menyerah yang akan memenangkan perlombaan.
Kegiatan bersih klenteng di Kota Pasuruan ini bukan hanya agenda seremonial belaka. Lebih dalam dari itu, tradisi ini mengajarkan nilai gotong royong lintas generasi. Kaum muda tampak antusias membantu para sesepuh mengangkat patung dan menata altar. Kehangatan terasa dari cara mereka saling bahu-membahu, menunjukkan bahwa ritual sakral tidak selalu harus kaku—bisa juga diisi dengan tawa dan canda ringan di sela-sela kerja bakti.
Menjelang sore, Klenteng Tjoe Tik Kiong berubah tampilan. Lampion-lampion mulai dipasang, altar berkilau tanpa noda, dan aroma mawar masih samar menguar. Umat yang datang untuk sekadar melihat perkembangan persiapan tampak puas. Ada rasa tenang yang terpancar dari wajah mereka. Seakan semua debu yang dibersihkan hari ini juga ikut menghapus penat dan luka setahun ke belakang.
Ritual ayak abu, mandikan patung, hingga menghias klenteng memang terlihat sederhana di mata awam. Namun, bagi umat Khong Hucu Kota Pasuruan, semua itu adalah wujud syukur dan harapan. Tahun kuda api telah di depan mata. Kini, tinggal bagaimana mereka—dan kita semua—menguatkan diri seperti kuda yang siap berpacu. (*)

