Separuh Lebih Wisudawan UNUSA Telah Bekerja Sebelum Diwisuda
- account_circle Mascim
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Lebih dari 50 persen wisudawan Program Studi D-IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya sudah bekerja sebelum diwisuda pada prosesi ke-22, Selasa (29/9). (Dok Humas)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ruang.co.id – Lebih dari 50 persen wisudawan Program Studi D-IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya sudah bekerja sebelum diwisuda pada prosesi ke-22, Selasa (29/9).
Fenomena itu terungkap dalam wisuda ke-22 Unusa. Di Prodi D-IV K3, mahasiswa dibekali Sertifikat Kompetensi Ahli K3 Muda dari LSP Unusa. Zulfi Ahmad Ruhan, mahasiswa D-IV K3, menyebut mata kuliah praktik di Unusa sesuai kebutuhan dunia kerja. “Ada beberapa mata kuliah di Unusa itu tidak ada di kampus lain. Bahkan kampus negeri, jadi saya merasa beruntung bisa masuk di K3 Unusa,” tegas Zulfi. Kini ia bekerja di perusahaan keramik dan kaca di Cikarang.
Naufal Bafiq Belvatrivano menambahkan sertifikasi K3 difasilitasi kampus. Meski belum menerima ijazah, ia sudah diterima di perusahaan batu bara di Kalimantan Utara. Hal serupa dialami Anis Nailun, wisudawan S1 Gizi yang bekerja sebagai petugas gizi Pemkot Surabaya sejak Januari 2024. Ia sempat ditugaskan di Puskesmas Krembangan Selatan lalu Sidotopo Wetan. “Capek pasti, karena setelah pulang kerja jam setengah tiga, saya langsung lanjut PKL di rumah sakit. Harus pintar-pintar membagi waktu antara kerja dan kuliah,” ungkapnya.
Dari 1.038 wisudawan, 14 orang non-Muslim. Sebanyak 11 di antaranya atau 78,6 persen lulus dengan predikat sangat memuaskan. Meylani Fernanda Bessie, Maria Dolorosa Gale, dan Maria Franciska Xaveria mengaku nyaman karena dosen tidak membeda-bedakan. “Di Unusa, meskipun non-Muslim, kami tidak dibeda-dibedakan. Saling menghargai dan toleransi yang tinggi membuat kami nyaman berkuliah,” kata Maria Franciska.
Rektor Unusa Prof Ir Tri Yogi Yuwono menitipkan tiga pesan. Pertama, tekun dan kerja keras. “Orang yang tekun dan rajin akan selalu mengalahkan orang pintar yang malas,” tegasnya. Kedua, jaga integritas, adab, dan empati di tengah kecerdasan buatan. Ketiga, jangan lupakan jasa orang tua dan keluarga.
Unusa menegaskan pendidikan tinggi harus dekat dengan kebutuhan dunia kerja. Kesiapan lulusan dibangun sejak masa perkuliahan melalui praktik, sertifikasi, dan pengalaman kerja. Dengan begitu, wisudawan tidak hanya membawa gelar, tetapi juga kompetensi yang siap dipakai.
- Penulis: Mascim

