Ketua Komisi A DPRD Surabaya Dorong Urban Farming di Kedurus
- account_circle Mascim
- calendar_month 9 jam yang lalu
- print Cetak

Ketua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko reses dan meninjau kebun hidroponik Sri Rejeki Jitu di Kedurus, Karang Pilang. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ruang.co.id – Ketua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko mendorong pengembangan urban farming Surabaya saat reses di RT 7 RW 1, Kelurahan Kedurus, Kecamatan Karang Pilang, Rabu (7/10/2026).
Dalam kunjungan itu, Cak Yebe sapaan akrabnya meninjau kebun hidroponik Sri Rejeki Jitu yang dikelola warga. Menurut dia, kebun itu punya potensi menjadi kegiatan produktif tingkat kampung. Hasil panennya tidak hanya dijual, tetapi juga dimanfaatkan untuk kebutuhan gizi warga sekitar.
“Selain disuplai ke supermarket dan pasar modern, juga didistribusikan kepada balita, ibu hamil, dan lansia di wilayah sekitar. Jadi manfaat urban farming ini tidak hanya untuk ekonomi, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan gizi warga,” ujar politisi Gerindra itu.
Pada reses tersebut, Yona menyerahkan dukungan dana Rp10 juta. Bantuan itu ditujukan untuk operasional kebun hidroponik Sri Rejeki Jitu. Ia berharap kegiatan yang sudah berjalan bisa lebih produktif dan memberi manfaat ekonomi bagi warga.
“Bantuan ini saya berikan untuk mendukung operasional kebun hidroponik Sri Rejeki Jitu. Harapannya, kegiatan yang sudah berjalan ini bisa semakin produktif dan memberikan manfaat ekonomi bagi warga,” kata dia.
Selain dana, ia memberikan empat unit tong komposter. Menurutnya, sampah organik bisa diolah dan diintegrasikan dengan kegiatan urban farming. Dengan begitu, lingkungan dan aktivitas pertanian warga tumbuh dalam satu ekosistem.
“Pengelolaan sampah organik juga harus berjalan bersama dengan urban farming. Karena itu, saya memberikan empat unit tong komposter agar limbah organik yang ada bisa dikelola dan dimanfaatkan kembali,” ujar Cak Yebe.
Ia juga mendorong warga memanfaatkan lahan yang masih tersedia. Salah satu usulan yang muncul ialah peternakan ayam petelur sebagai pelengkap usaha hidroponik. Konsepnya bukan hanya menghasilkan sayuran, tetapi juga membuka produksi pangan lain yang dikelola bersama.
“Lahan yang ada jangan hanya dimanfaatkan untuk hidroponik. Kalau masih memungkinkan, bisa dikembangkan untuk ternak ayam petelur sehingga ada diversifikasi usaha dan hasil yang bisa mendukung ketahanan pangan warga,” kata dia.
Menurut Cak Yebe, model Sri Rejeki Jitu bisa menjadi contoh bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari permukiman. Pengelolaan lahan, sampah organik, produksi pangan, dan pemasaran bisa berkembang bertahap sesuai kemampuan masyarakat.
“Yang kita dorong adalah bagaimana warga bisa mengelola potensi yang ada di lingkungannya sendiri. Dari hidroponik, pengolahan sampah, kemudian bisa berkembang ke peternakan dan kegiatan produktif lainnya,” tuturnya.
Ia berharap warga tidak hanya menjadi penerima bantuan. Kegiatan ini perlu dikelola bersama dan konsisten agar urban farming Surabaya menjadi kekuatan ekonomi sekaligus penopang ketahanan pangan tingkat kampung.
“Harapannya, warga tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi bisa terus mengembangkan usaha ini secara mandiri. Kalau dikelola bersama dan konsisten, urban farming bisa menjadi kekuatan ekonomi sekaligus mendukung ketahanan pangan di tingkat kampung,” pungkas Cak Yebe.
- Penulis: Mascim

