Ruang.co.id – Guyuran hujan yang membasahi kawasan Rungkut Mapan Barat (RMB) pada Sabtu malam (11/04/2026) tidak melunturkan tekad warga RW 08, Kelurahan Rungkut Tengah, untuk merajut kembali benang silaturahmi. Agenda Halalbihalal rutin tetap berlangsung khidmat, menjadi bukti bahwa kohesi sosial warga perumahan lebih kuat daripada sekadar kendala cuaca.
Hadi Siswanto, Ketua Dewan Masjid Al-Haq sekaligus Ketua Panitia, menegaskan bahwa kegiatan ini digelar sebagai langkah konkret menjaga keharmonisan antarpenghuni. Dalam sambutannya, ia menyebut momentum ini krusial untuk meredam potensi friksi yang kerap muncul dalam dinamika hidup bertetangga di perkotaan.
“Interaksi sehari-hari di kompleks perumahan itu pasti ada gesekan, entah soal parkir, kebisingan, atau batas tanah. Halalbihalal ini ibarat tombol reset hubungan sosial kami. Ini bukan sekadar jabat tangan, tapi komitmen bersama untuk menjaga suasana batin lingkungan tetap adem,” ujar Hadi Siswanto di sela acara.
Kegiatan yang dipusatkan di kawasan Masjid As-Shobirin ini semakin semarak dengan penampilan kesenian rebana Flying Band Humaira. Irama tabuhan terbang dari kelompok Muslimat RMB itu mampu menyedot perhatian warga yang memilih berteduh di bawah tenda dan teras masjid, menciptakan suasana guyub yang hangat meski udara malam cukup dingin.
Materi inti tausiah disampaikan oleh Ustaz Abdul Wahid Al-Faizin, figur otoritatif yang menjabat sebagai Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Surabaya. Dalam paparannya, ia mengingatkan bahwa hakikat Halalbihalal melampaui sekadar tradisi pasca-Ramadan, melainkan implementasi nyata dari tuntunan Rasulullah SAW perihal pentingnya menyelesaikan hak adamī (sesama manusia).
“Kita sering abai, merasa cukup dengan istighfar kepada Allah. Padahal, dosa yang berkaitan dengan lisan atau perbuatan kepada tetangga tidak akan luruh sebelum kita meminta kehalalan dari yang bersangkutan. Di sinilah urgensi forum seperti ini, menyediakan ruang bagi kita untuk berbenah diri secara sosial,” tegas Ustaz Abdul Wahid di hadapan jemaah.
Lebih lanjut, Ustaz Abdul Wahid memberikan panduan praktis bagi warga untuk menjaga konsistensi ibadah pasca-Lebaran. Ia merinci empat amalan yang ia sebut sebagai “investasi akhirat” di tengah kesibukan urban, yaitu menjaga salat sunah rawatib, memprioritaskan salat berjamaah di masjid kompleks, membiasakan puasa sunah tiga hari per bulan, serta tidak menunda-nunda sedekah meskipun dalam jumlah kecil.
Menutup rangkaian acara, Hadi Siswanto kembali menyuarakan harapan agar agenda tahunan ini tidak berhenti pada aspek seremoni. Ia mengajak seluruh elemen warga, mulai dari tingkat RT hingga pengurus RW, untuk menjadikan nilai-nilai yang disampaikan malam itu sebagai budaya hidup sehari-hari di Perumahan RMB.
“Harapan kami sederhana, selepas acara ini, tidak ada lagi sekat di antara blok-blok rumah. Kita ingin RMB ini bukan hanya tempat pulang untuk tidur, tetapi benar-benar menjadi kampung halaman bersama yang aman, nyaman, dan penuh berkah,” pungkasnya.

