Transformasi e-Commerce Pasar Tradisional Sidoarjo Mulai Digencarkan, Warga Siap?

Digitalisasi Pasar Sidoarjo
Pemkab Sidoarjo mulai digitalisasi pasar tradisional lewat QRIS, WiFi gratis, dan edukasi jualan online pedagang. (Ist)
Ruang Nurudin
Ruang Nurudin
Print PDF

Sidoarjo, Ruang.co.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo, mulai mendorong transformasi pasar tradisional menuju ekosistem perdagangan digital. Tindakan itu dilakukan, sebagai upaya mempertahankan eksistensi pasar rakyat, di tengah meningkatnya persaingan dengan pasar modern dan platform e-commerce.

Komitmen tersebut mengemuka dalam audiensi Bupati Sidoarjo, Subandi, bersama koordinator dan pengelola pasar tradisional, di Ruang Transit Pendopo Delta Wibawa, Selasa (7/5/2026).

Pertemuan itu, Pemkab membahas persoalan retribusi, kios kosong, kerusakan fasilitas pasar, hingga strategi transformasi digitalisasi perdagangan rakyat.

Subandi didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Bahrul Amig serta Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Happy Setyaningtyas Astrawati.

Ia menegaskan revitalisasi pasar tradisional tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik, tetapi juga harus diiringi inovasi digital.

“Kepala pasar harus bisa berinovasi agar kondisi pasar lebih baik sehingga pembeli dan penjual merasa nyaman. Bila perlu disediakan jaringan WiFi gratis agar transaksi jual beli bisa dilakukan secara online,” ujarnya.

Salah satu program yang disiapkan ialah penerapan sistem retribusi non-tunai yang akan dikawal Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sidoarjo.

Sistem tersebut diharapkan mampu meningkatkan transparansi pendapatan pasar, sekaligus mengurangi persoalan pengelolaan retribusi manual.

Selain itu, Pemkab Sidoarjo juga akan menyiapkan dashboard pendataan pasar dan kios yang dapat diakses seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Sistem data itu akan memuat kondisi kios aktif, tingkat okupansi, hingga kebutuhan infrastruktur masing-masing pasar.

Dorongan digitalisasi muncul karena sejumlah pasar tradisional mulai mengalami penurunan aktivitas perdagangan. Banyak kios tidak lagi beroperasi akibat perubahan pola belanja masyarakat yang beralih ke platform online dan toko modern.

“Pihak pengelola pasar juga mulai mengedukasi pedagang agar dapat melakukan aktivitas jual beli secara online,” ujar koordinator pasar.

Baca Juga  Khofifah Belanja dan Nostalgia di Pasar Legendaris Jumat Legi Sukodono

Di Pasar Wadungasri misalnya, tingkat okupansi kios konveksi di lantai dua disebut hanya mencapai sekitar 10 persen. Sementara di Pasar Porong, pengelola mulai mengedukasi pedagang agar memanfaatkan perdagangan online untuk memperluas pasar.

Sebagai bagian dari strategi adaptasi digital, pemerintah daerah mulai memperluas penyediaan jaringan WiFi gratis di kawasan pasar tradisional.

Fasilitas internet tersebut diharapkan membantu pedagang memasarkan produk, melalui media sosial maupun melayani transaksi daring.

Koordinator Pasar Porong mengungkapkan sejumlah pedagang konveksi mulai merasakan manfaat pemasaran online setelah mendapat pelatihan digitalisasi perdagangan.

“Para pedagang berharap akses internet dapat diperluas agar lebih banyak pelaku usaha pasar rakyat masuk ke perdagangan digital,” ungkapnya.

Transformasi digital pasar tradisional sebenarnya telah dimulai sejak beberapa tahun terakhir. Pada 2021, Pemkab Sidoarjo meluncurkan transaksi pasar berbasis QRIS di Pasar Pekauman, bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) dan perbankan nasional.

Sementara itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan bersama Diskominfo juga telah menggelar pelatihan digitalisasi pedagang sejak 2025. Pelatihan tersebut mencakup pemasaran digital, branding produk, hingga pengelolaan transaksi non-tunai.

Selain mendorong digitalisasi, Pemkab Sidoarjo juga menyiapkan sejumlah perbaikan fisik pasar. Anggaran sekitar Rp 2,3 miliar dialokasikan untuk pembangunan paving, los basah, dan perbaikan pagar di Pasar Taman, Sukodono, dan Wonoayu.