Mengapa Tulus Memilih “Teh Hijau” sebagai Simbol Kehampaan di Single Barunya?
- account_circle Ruang Ilham
- calendar_month 53 menit yang lalu
- print Cetak

Penyanyi Tulus merilis single terbaru berjudul Teh Hijau dengan nuansa musik ceria dan lirik mendalam tentang fase kehampaan. (foto by IG_filmusiku)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ruang.co.id – Setelah beberapa lama menepi dari hingar-bingar industri musik, penyanyi dan penulis lagu Tulus akhirnya kembali menyapa penggemar lewat single terbarunya yang berjudul “Teh Hijau”. Lagu yang dirilis secara resmi pada Rabu (01/7/2026) ini sudah dapat dinikmati di berbagai layanan musik digital dan langsung menarik perhatian karena perpaduan unik antara aransemen ceria dan lirik yang kontemplatif.
Secara musikal, “Teh Hijau” hadir dengan sentuhan pop ringan yang mudah dicerna. Namun, Tulus membungkusnya dengan narasi yang dalam tentang kehampaan dan proses menerima fase kosong dalam kehidupan. Sang penyanyi menjelaskan bahwa lagu ini lahir dari refleksi personal tentang momen-momen di mana seseorang kehilangan rasa bahagia tanpa tahu penyebab pastinya.
Tulus mengungkapkan alasan di balik pemilihan diksi yang kuat dalam lagu tersebut. Dalam keterangan resminya di Surabaya, ia menyebut bahwa lagu ini tidak bermaksud menggurui, melainkan mengajak pendengar untuk merayakan jeda emosional yang kerap dihindari banyak orang.
“Kehampaan itu tidak selalu harus dilawan atau dipaksa segera hilang. Kadang, kita hanya perlu duduk, menyeduh teh hijau, dan menyadari bahwa ada hal-hal kecil yang masih bisa kita kendalikan,” ujar Tulus, Selasa (30/6/2026).
Lirik lagu ini merekam perjalanan seseorang yang berusaha mencari pemicu lenyapnya semangat hidup. Beragam saran diterima, mulai dari mencari udara segar hingga membaca buku baru. Namun, semua itu belum kunjung menjadi penawar. Hingga kemudian, sebuah momen sederhana menyeduh teh hijau menjadi titik balik kesadaran bahwa proses pemulihan bisa dimulai dari langkah terkecil.
Baca Juga : Mangu Fourtwnty dan Charita Utami: Lirik yang Menggantung di Hati Netizen Setelah 3 Tahun
Lebih lanjut, Tulus membeberkan bahwa proses kreatif di balik lagu ini turut menjadi terapi personal baginya. Ia mengaku bahwa menulis lirik “Teh Hijau” membantunya memetakan ulang prioritas di tengah tekanan sebagai musisi.
“Saya mencoba memahami alurnya sendiri. Proses menulis lagu ini jadi pengingat bahwa tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja. Yang penting, kita tetap bergerak mencari hijau kecil di tengah gersangnya situasi,” tambah Tulus menjelaskan langkah konkretnya dalam menerjemahkan ide menjadi karya.
Berikut adalah lirik lengkap lagu “Teh Hijau” yang menjadi perbincangan hangat di media sosial:
Hari-hari berulang
Misteri lenyap senang
Ada saran kudengar
Lebih sering keluar ke alam
Saran lain kudengar
Cari hal asing yang menantang
Keluar dari benteng
Dari tempatmu yang sekarang
Ada yang hilang dariku belakangan
Sedang tak mudah bertemu rasa senang
Sedang kucari yang jadi pencetusnya
Mungkin hilangnya atau siklus hidupku
Mungkin aku sedang tak bisa
Tak bisa jatuh cinta
Membuka hati tuk apa pun siapa pun
Dan mungkin aku memang sedang tak bisa
Tak bisa jatuh cinta
Membuka hati tuk apa pun siapa pun
Tambah gerak tubuhmu
Baca buku yang baru
Ragam saran brilian
Yang belum kunjung jadi penawar
Untuk yang hilang dariku belakangan
Sedang kucoba memahami alurnya
Semoga segera kutemukan jawaban
Tapi kini kurayakan hampa ini
Kulihat mana di kendaliku
Teh hijau ini yang di tanganku
Di tengah seram sedih yang menghantamku
Lepaslah lepas kemurunganku
Hijau kembali jiwa gersangku
Ambillah sayang sebanyak waktu yang kau perlu
Tanpa itu
Tanpanya
Apa pun yang mungkin hilang itu
Mungkin ini siklusnya
Sudah garis jalannya
Esok
Esok akan lebih elok
Pihak manajemen Tulus juga mengonfirmasi bahwa single ini merupakan bagian dari rangkaian menuju album baru yang masih dalam tahap penggarapan. Mereka berharap kejujuran lirik dalam “Teh Hijau” dapat menjadi teman bagi pendengar yang sedang melalui masa-masa transisi emosional.
Baca Juga : For Revenge & Elsa Japasal: ‘Menunggu Giliran’ – Lirik Penuh Makna yang Menyayat Hati
Tulus menutup pernyataannya dengan harapan agar pesan dalam lagu ini tersampaikan dengan utuh. Baginya, tidak ada target komersial yang lebih penting daripada kebermanfaatan lirik bagi para pendengar setianya.
“Saya cuma berharap, siapa pun yang mendengar lagu ini bisa merasa lebih ringan. Bahwa esok akan lebih elok, dan untuk saat ini, menikmati teh hijau di tangan kita saja sudah cukup,” tutup Tulus penuh optimisme.
- Penulis: Ruang Ilham

