Breaking News
light_mode
Rabu, 1 Juli 2026

FK UWKS Perkuat Pengendalian Tuberkulosis dengan Edukasi Nutrisi Warga Sumenep

  • account_circle Ruang Sely
  • calendar_month 36 menit yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumenep, Ruang.co.id – Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (FK UWKS) memperkuat upaya pengendalian tuberkulosis (TB) di Kabupaten Sumenep melalui edukasi nutrisi berbasis komunitas. Tim pengabdian masyarakat (pengmas) menggelar penyuluhan bertajuk “Peran Intervensi Nutrisi Berbasis Komunitas pada Pengendalian Tuberkulosis di Kelompok Usia Rentan” di Balai Desa Batang-Batang Daya, Kecamatan Batang-Batang, Sabtu (27/6/2026). Kegiatan ini menyasar 45 peserta yang terdiri dari warga, kader kesehatan, dan masyarakat dari kelompok usia rentan.

Langkah ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang digerakkan oleh tim dosen FK UWKS. Tim dipimpin oleh Dr. dr. Sukma Sahadewa, M.Kes., bersama anggota Dr. dr. Harry Kurniawan Gondo, Sp.OG., Subsp.Fm., S.H., M.Hum., serta Dr. Atik Sri Wulandari, S.K.M., M.Kes. Dua mahasiswa kedokteran, M. Rizki Cahyo S. dan Ibrahim, juga turut dilibatkan sebagai bagian dari penguatan kompetensi calon dokter dalam pemberdayaan masyarakat.

Dr. dr. Sukma Sahadewa menekankan bahwa pemulihan pasien TB memerlukan lebih dari sekadar kepatuhan minum obat. “Pengobatan yang baik harus diimbangi dengan pemenuhan nutrisi yang adekuat, dukungan keluarga, serta lingkungan yang sehat. Edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting agar penderita TB memperoleh dukungan optimal selama menjalani pengobatan sehingga angka kesembuhan dapat terus meningkat,” ujarnya.

Baca Juga : IBI Jatim Perkuat Garda Pelayanan Ibu Anak Sambut Indonesia Emas

Materi edukasi dirancang untuk langsung dapat diterapkan oleh warga. Tim secara spesifik menyimulasikan cara mengolah pangan lokal seperti ikan, telur, dan sayuran hijau menjadi menu bergizi pendukung terapi. “Kami mengajarkan bagaimana mengolah sumber pangan lokal yang murah dan mudah didapat menjadi makanan pendukung terapi TB. Ini adalah langkah konkret agar edukasi tidak hanya berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi aksi nyata di dapur setiap keluarga,” jelas dr. Sukma.

Selain nutrisi, warga menerima pemahaman tentang pentingnya menyelesaikan pengobatan selama enam bulan sesuai standar tenaga kesehatan, serta peran ventilasi dan pencahayaan rumah dalam memutus rantai penularan. Berdasarkan evaluasi pre-test dan post-test, pengetahuan peserta terhadap materi pengendalian TB dan peran nutrisi mengalami peningkatan yang signifikan.

Baca Juga : Hadapi Tantangan Global, Unusa Luncurkan Sekolah Manajemen dan Kesehatan Berkelanjutan

Kegiatan ini didanai penuh oleh Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dan menghasilkan sejumlah luaran, antara lain media edukasi kesehatan, publikasi ilmiah, dan penguatan kemitraan antara perguruan tinggi dengan Pemerintah Desa Batang-Batang Daya. Di penghujung acara, Dr. dr. Sukma Sahadewa menegaskan harapannya agar program ini memberikan dampak berkelanjutan. “Komitmen kami bukan hanya menjalankan program, tetapi memastikan bahwa setiap individu yang kami edukasi menjadi agen perubahan kesehatan di lingkungannya. Inilah wujud nyata kampus hadir untuk negeri,” pungkasnya.

  • Penulis: Ruang Sely
expand_less