Breaking News
light_mode
Selasa, 28 Juli 2026

Mengintai di Peringatan Hari Hepatitis Sedunia, Hati Rusak di Sidoarjo Jadi Fokus Utama Penanganan

  • account_circle Ruang Nurudin
  • calendar_month 39 menit yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sidoarjo, Ruang.co.id – Penyakit hepatitis masih menjadi ancaman serius di Jawa Timur. Surabaya dan Sidoarjo tercatat sebagai wilayah dengan kasus tertinggi.

Data resmi Dinas Kesehatan menunjukkan, Surabaya menduduki peringkat pertama dengan estimasi 950–1.150 kasus aktif per tahun. Surabaya menjadi pusat skrining ibu hamil dan tenaga kesehatan.

Kabupaten Jember menyusul dengan 480–530 kasus, didominasi Hepatitis B. Wilayah agrikultur padat membuat pengawasan lebih intensif.

Sidoarjo berada di posisi ketiga dengan 390–430 kasus. Puskesmas Krian menjadi pusat rujukan terapi antiviral.

Hepatitis masih jadi ancaman senyap bagi Dinkes Sidoarjo. Kini bergerak cepat, memetakan kelompok berisiko, sebelum hati rusak.

Kepala Dinas Kesehatan, Lakhsmie Herawati Yuwantina, mengatakan, “Musuh terbesar hepatitis adalah keterlambatan. Deteksi dini harus dimulai dari kelompok paling rentan.”

Sasaran utamanya meliputi ibu hamil, pengguna jarum suntik tidak steril, ODHA, penerima transfusi darah, hingga pasien hemodialisa.

“Kalau menunggu pasien datang dengan hati rusak, kita tertinggal. Maka pemetaan risiko jadi senjata utama,” tegasnya kepada wartawan Senin (27/7/2026).

Program Triple Eliminasi di Sidoarjo diprioritaskan. Hasil awal menunjukkan penurunan signifikan kasus Hepatitis B pada ibu hamil.

Di tingkat kecamatan, Sidoarjo Kota mencatat 40–50 kasus per tahun. Waru dan Medaeng menjadi titik rawan karena mobilitas penduduk tinggi.

Data menunjukkan pula, Terminal Bungurasih menjadi lokasi edukasi utama pencegahan Hepatitis A.

Klaster desa juga menjadi perhatian. Kelurahan Magersari dan Sidokare, di Sidoarjo Kota, menjadi fokus deteksi Hepatitis B pada ibu hamil.

Program Triple Eliminasi sangat penting untuk mencegah penularan ke bayi,” tegas Lakhsmie.

Di kawasan industri Taman dan Trosobo, kasus pekerja mendominasi. Data menyebut, skrining pekerja rutin dilakukan, karena risiko penularan tinggi.

Meski data desa tidak dipublikasikan demi menjaga kerahasiaan medis, pola sebaran menunjukkan konsentrasi kasus di wilayah urban dan industri. Pemerintah menekankan pentingnya skrining dini.

Di Kabupaten Malang dan Banyuwangi, juga mencatat angka tinggi. Malang memiliki 360–400 kasus, sementara Banyuwangi 290–320 kasus. Skrining antenatal menjadi kunci deteksi dini.

Upaya eliminasi hepatitis di Jawa Timur menjadi tantangan besar. Surabaya dan Sidoarjo kini menjadi barometer keberhasilan program nasional.

  • Penulis: Ruang Nurudin
expand_less