Breaking News
light_mode
Jumat, 24 Juli 2026

Menggugah Nurani: Angka Anak Korban Kekerasan Sidoarjo Sangat Rentan, Butuh Perlindungan Nyata

  • account_circle Ruang Nurudin
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sidoarjo, Ruang.co.id – Hari Anak Nasional 2026, menjadi momentum refleksi mendalam di Kabupaten Sidoarjo. Di balik senyum anak-anak, tersimpan luka yang tak terlihat.

Data UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Kab. Sidoarjo mencatat 213 kasus ditangani hingga 2026. Sebanyak 123 kasus melibatkan anak sebagai korban.

Jenis kasus beragam, mulai pencabulan, pelecehan seksual, hingga perebutan hak asuh, anak ditelantarkan, hingga lebih miris lagi, beberapa kasus bapak kandung cabuli atau setubuhi anak terungkap hingga berbulan – bulan.

Angka itu menunjukkan betapa sangat rapuhnya benteng perlindungan terhadap anak. Anak kerap menjadi korban kekerasan di sekitar lingkungan kita.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kab. Sidoarjo, Henny Kristiani kepada Ruang.co.id Kamis (23/7/2026) mengatakan dan menekankan, “Peran keluarga sangat penting. Keluarga adalah garda terdepan melindungi anak dari kekerasan dan diskriminasi.”

Program sosialisasi 2P (Pelopor dan Pelapor) digencarkan di sekolah. Anak diajak berani melapor, bila melihat atau mengalami kekerasan. Itu wajib.

Selain itu, kampanye BERLIAN (Bersama Lindungi Anak) menjadi gerakan bersama masyarakat. Tujuannya menciptakan lingkungan aman dan nyaman bagi tumbuh kembang anak.

Seorang relawan Forum Anak, Rani, mengungkapkan, “Kami ingin anak-anak tahu, melapor bukan aib. Itu langkah berani menyelamatkan masa depan.”

Kasus bullying atau perundungan di sekolah juga menjadi perhatian. Sosialisasi anti-perundungan dilakukan saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah.

Program SI-KRIAN memperkuat Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak. Desa menjadi benteng pertama, melindungi anak dari ancaman kekerasan.

Revitalisasi Forum Anak memberi ruang partisipasi. Anak-anak diajak menyuarakan aspirasi, termasuk pengalaman pahit yang mereka alami.

“Ketika anak berani bicara, itu tanda mereka merasa aman,” ujar psikolog pendamping, Lilis, yang menangani korban pelecehan.

Pelaporan kini lebih mudah. Pesan penting terakhir Henny, Kepala Dinas P3AKB Sidoarjo, masyarakat bisa mengakses Hotline SIGAP KEPAK melalui WhatsApp 0813-29920683, atau datang langsung ke UPTD PPA, di Jalan Pahlawan Sidoarjo.

Harapannya, kesadaran masyarakat meningkat. Laporan bukan lagi dianggap membuka aib keluarga, melainkan langkah melindungi hak anak.

DP3AKB memastikan pendampingan hukum dan psikologis gratis bagi korban. Identitas dijaga, kepentingan anak selalu diutamakan.

“Setiap anak berhak tumbuh tanpa rasa takut. Itu tanggung jawab kita bersama,” tegas Henny.

Hari Anak Nasional di Sidoarjo bukanlah sekadar perayaan seremonial. Buat apa diperingati setiap tahunnya, jika setiap angka kekerasan terhadap anak selalu meningkat.

Henny mengingatkan, setiap diri kita menjadi pengingat bahwa, perlindungan anak adalah tugas kolektif seluruh elemen masyarakat dan bangsa.

Generasi Emas Indonesia 2045 hanya terwujud, bila anak-anak hari ini bebas dari kekerasan. “Sidoarjo berkomitmen mewujudkan itu dengan nyata”, demikian kalimat penutup Henny Kristiani, Kepala DP3AKB Sidoarjo.

  • Penulis: Ruang Nurudin
expand_less