Darjonesia Dance Festival 2026 Menari Lintas Batas demi Panggung Dunia
- account_circle Ruang Nurudin
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

Darjonesia Dance Festival 2026 menghadirkan koreografer membakar semangat seni budaya Sidoarjo menuju panggung kota kreatif internasional. (Din)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sidoarjo, Ruang.co.id – Dekesda (Dewan Kesenian Daerah) Kabupaten Sidoarjo, cukup sukses menggelar Darjonesia Dance Festival 2026. Pentas ini berlangsung dua hari, dari Minggu malam hingga Senin malam ini.
Festival tersebut, menghadirkan perjumpaan sembilan koreografer nasional dan mancanegara. Panggung ini menjadi wadah ekspresi kritik sosial serta fenomena alam.
Gedung Dekesda disesaki penonton, yang antusias menikmati tiap lekuk gerak. Pertunjukan seni gerak ini menyatukan berbagai narasi kehidupan yang sangat mendalam.
“Sidoarjo untuk Indonesia, kami mengisi ruang kosong ketiadaan event pertemuan koreografer,” ujar Ketua Dekesda Sidoarjo, Ribut Wijoto. Latar belakang nama festival diangkat dari gagasan tersebut.
Dekesda Sidoarjo kini tengah memimpikan menyiapkan ruang museum Seni Budaya Sidoarjo. Museum Narotama, nama yang direncanakannya ini, dirancang sebagai sarana edukasi seni sejarah bagi masyarakat.
Museum tersebut akan memperkenalkan sejarah kebudayaan lokal secara mendalam. Di antaranya teater opera modern Dardanella yang lahir pada 21 Juni 1926, Reog Cemandi, hingga Wayang Gagrak Porongan.
Selain gagasan museum, seniman Sidoarjo sangat mengidamkan gedung pertunjukan modern. Gedung representatif dibutuhkan untuk menunjang performa seni berstandar internasional.
“Sidoarjo sebenarnya memiliki kehidupan budaya luar biasa,” tegas Ketua DPRD Sidoarjo, Abdillah Nasih dalam wawancara Ruang.co.id. Ia mendorong pemerintah daerah memberikan kemudahan fasilitas pertunjukan.
Sementara, kata Arif Rofiq, penggagas festival, “Kami membuat sesuatu yang terbaik untuk dunia tari.” Ia meyakinkan pentingnya event berkualitas, serta gedung yang memadai.
Kadispendikbud Sidoarjo, Ridho Prasetyo, menyampaikan dukungan penuh dari pemerintah kepada Dekesda. “Mari bersama-sama meningkatkan solidaritas untuk memajukan Sidoarjo,” tuturnya menirukan pesan Bupati dalam sambutan.
Koreografer asal Jepang, Norie Komuragishi, turut memukau penonton lewat karya “Surya Timur“. Pementasannya, berlangsung Senin malam ini. “Saya menggunakan topeng noh menggambarkan kondisi iklim bumi yang memburuk,” ungkapnya.
Guna memperkuat wacana, partisipasi wilayah festival ini tercatat sangat rinci. Berikut data persebaran asal koreografer yang memeriahkan pagelaran ini:
Data Partisipasi Wilayah Koreografer
Wilayah Asal Daerah/Negara
Luar Jawa Mataram
Jawa Barat & DKI Jakarta, Indramayu
Jawa Tengah & DIY Yogyakarta
Jawa Timur Ponorogo, Kediri, Surabaya, Sidoarjo
Mancanegara Jepang
Sumber: Panitia Pelaksana Darjonesia Dance Festival 2026

Event Darjonesia Dance Festival ini, berhasil menghubungkan jejaring seniman lokal dengan panggung internasional. Penyelenggaraan kegiatan pemajuan kebudayaan ini memiliki landasan hukum yang kuat. Penguatan ekosistem seni berfokus pada regulasi pemerintah yang berlaku.
Regulasi Pemajuan Kebudayaan Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, pemerintah bertanggung jawab melakukan pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan objek pemajuan kebudayaan.
Regulasi itu, menegaskan pentingnya penyediaan sarana dan prasarana seni. Langkah ini krusial demi menjaga keberlangsungan warisan seni budaya bangsa Indonesia.
Cak Nasik, sapaan akrab Abdillah Nasih, terus berupaya mendorong Pemkab Sidoarjo, soal rencana pembangunan gedung pementasan seni budaya, yang cukup lama didambakan seniman Sidoarjo.
Sedangkan Ribut Wijoto berangan – angan pembangunan tribun gedung pertunjukan seni Sidoarjo, dengan fasilitas sesuai standar nasional.
Pementasan Darjonesia Dance Festival 2026, sebagai bukti menjadi katalisator kesenian bagian dari kebudayaan di Sidoarjo. Seni gerak tari berhasil menyatukan perbedaan dan menyuarakan pesan kemanusiaan.
- Penulis: Ruang Nurudin

