Jerat Racun Dapur Massal, Ratusan Anak Tanggulangin Terkapar Akibat Longgarnya Pengawasan Gizi
- account_circle Ruang Nurudin
- calendar_month 11 jam yang lalu
- print Cetak

Ratusan anak Tanggulangin keracunan MBG, 567 korban dilarikan ke RS. Pengawasan dapur SPPG lemah, 21 unit belum kantongi izin higiene. (Din)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sidoarjo, Ruang.co.id – Jerit kesakitan ratusan anak sekolah menyayat hati nurani, saat program pemenuhan gizi gratis, justru berujung pada penderitaan massal yang sangat memprihatinkan.
Hari kedua pascainsiden keracunan di Tanggulangin, Sidoarjo, lonjakan korban mencapai angka fantastis. Ruang perawatan di berbagai rumah sakit, dipenuhi rintihan santri yang lemas.
Bupati Subandi dan wakil bupati (Wabup) Mimik Idayana, hadir dalam sidak bersama, Selasa kemarin, di SPPG Kalitengah. Subandi meminta pengawasan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diperketat, buntut dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan santri dan siswa, di Kecamatan Tanggulangin.
Saat meninjau SPPG Kalitengah, Rabu (2/9/2026), Subandi mengungkap hasil evaluasi perizinan bersama instansi terkait. Dari 174 SPPG di Sidoarjo, terdapat 21 unit operasional yang belum mengantongi izin.
Pemkab Sidoarjo telah melaporkan temuan tersebut ke Badan Gizi Nasional (BGN) pusat, untuk ditindaklanjuti. Dari dapur SPPG yang tercatat itu di antaranya belum mengantongi izin lengkap atau Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Data resmi Dinas Kesehatan Sidoarjo mencatat dampak racun makanan meluas hingga ke 19 lembaga pendidikan. Anak-anak sekolah dasar hingga santri pesantren menjadi korban kepolosan ini.
Jumlah korban sementara yang dilarikan ke rumah sakit, terus meningkat pesat. Data dari Dinas Kesehatan Sidoarjo hingga Rabu sore, mencatat jumlah korban melejit hingga Total 567 pasien.
Daei jumlah itu, dengan rincian korban Masuk Rumah Sakit (MRS) sebanyak 80 pasien. Korban Keluar Rumah Sakit (KRS) berjumlah 457 pasien. Sedangkan korban yang menjalani Observasi, sebanyak 30 pasien.
Pada Rabu ini, terdapat tambahan 35 santri baru yang dievakuasi dan dirujuk ke rumah sakit, setelah baru merasakan gejala susulan.
Mayoritas korban sudah membaik dan diperbolehkan pulang, mulai Selasa jelang tengah malam. Namun, setidaknya 88 pasien masih harus menjalani rawat inap dan observasi intensif di beberapa rumah sakit.
Dampak keracunan makanan ini tidak hanya menimpa santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam (Desa Putat), sebagai titik awal episentrum. Kasus ini dipastikan meluas ke 19 lembaga pendidikan di sekitar wilayah Tanggulangin.
Lembaga terdampak mencakup jenjang TK, SD, SMP, SMA, hingga madrasah/pesantren. Di antaranya juga menimpa belasan santri dari Pondok Pesantren Roisus Shobur yang bersekolah di SMP dan SMA Tribhakti Tanggulangin.
Para korban yang mengalami gejala mual, muntah, pusing, dan diare massal dirawat secara tersebar di delapan rumah sakit rujukan di Sidoarjo, namun dari data Dinkes Sidoarjo terdapat tujuh rumah sakit.
Yakni meliputi RSUD RT Notopuro Sidoarjo (menampung volume pasien terbesar), RSI Siti Hajar, RS Delta Surya, RSU Aisyiyah Siti Fatimah Tulangan, RS Bhayangkara Pusdik Porong, RS Pusura Candi, RS Anwar Medika, dan tambahan ke delapan, Klinik Azka.
Rekapitulasi Korban Keracunan MBG (Data Per Rabu Siang)
Status Pasien Jumlah Korban Keterangan
Rawat Inap (MRS) 80 Pasien Perawatan intensif
Rawat Jalan (KRS) 457 Pasien Kondisi membaik
Observasi Medis 30 Pasien Pemantauan ketat
Total Korban 567 Pasien Tidak ada korban jiwa
Sumber Data: Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo (Diolah)
Angka di atas membuktikan, betapa dahsyatnya dampak kelalaian pengelolaan dapur produksi MBG. Fasilitas kesehatan seperti RSUD RT Notopuro langsung diserbu ratusan pasien yang mual dan muntah.
Badan Gizi Nasional (BGN) Jawa Timur mengambil tindakan tegas. Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah mulai kejadian kemarin, resmi dihentikan total dari seluruh aktivitas memasaknya.
“Operasional dapur kami bekukan total untuk evaluasi menyeluruh,” tegas perwakilan tim BGN Jatim di lokasi inspeksi dadakan, Rabu sore.
Sidak BGN menemukan fakta mengejutkan di balik sertifikat kebersihan dapur tersebut. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) ditemukan rusak dan sarana sanitasi dinilai sangat buruk.
Secara hukum, penyedia jasa boga wajib mematuhi Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 14 Tahun 2021 tentang Standardisasi Kegiatan Usaha dan Produk Pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Sektor Kesehatan.
Regulasi ini menegaskan, bahwa setiap dapur pengolah makanan massal wajib menjamin kelayakan sanitasi, serta bebas dari pencemaran bakteri biologis maupun zat kimia berbahaya.
Dapur pengolah 2.800 porsi per hari ini terancam sanksi penutupan permanen. Polresta Sidoarjo kini telah memasang garis polisi untuk menyelidiki dugaan tindak pidana kelalaian.
Tragedi ini menjadi tamparan keras bagi masih lemahnya pengawasan sarpras dan pengawasan menu serta mutu gizi yang tepat sasaran sesuai yang dibutuhkan siswa, atas program nasional.
“Masak MBG untuk anak usia TK dikasih lauk telor bumbu merah semacam ada cabai merah. Anak saya ya jelas nggak suka dan sama gurunya disuruh bawa pulang dipindahkan ke tempat makan yang dibawa istri saya. Di rumah, saya yang makan, ada agak pedasnya,” ungkap Fadli, keluarga penerima manfaat MBG di tempat dan waktu berbeda.
Pelbagai kritikan tajam tersebut, dengan harapan penerima manfaat, nyawa dan kesehatan generasi penerus bangsa tidak boleh dikorbankan, demi mengejar target katering dan profit semata.
- Penulis: Ruang Nurudin

