Dentuman Sound Horeg Karnaval Budaya Kedungbanteng Sidoarjo Sukses Menggelegar di Tengah Kontroversi Desa Santri
- account_circle Ruang Nurudin
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Dentuman sound horeg Sidoarjo menggelegar, tradisi budaya meriah jadi kontroversi, memicu perdebatan hukum, moral, dan HAKI kearifan lokal. (Din)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sidoarjo, Ruang.co.id – Dentuman musik yang keluar dari tumpukan sound (pengeras suara), menggelegar di ruas jalan depan Balai Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.
Dentuman itu, juga menggetarkan jiwa dan relung jantung setiap peserta dan kerumunan pengunjung. Warna warni sorot lampu dan asap warna beserta kembang api, secara berirama mengikuti genre musik yang dimainkannya.
Kemeriahan malam pada Minggu (9/8/2026) pesta musik Sound Horeg yang diangkut Truck, menorehkan sebuah tradisi baru di Desa Kedung Banteng, Kecamatan Tanggulangin.
Seluruh desa malam itu, menyambut dirgahayu kemerdekaan republik Indonesia yang ke- 81 tahun. Budiono, sang kepala desanya, membenarkan, dalam memperingati kemerdekaan RI, Desa Kedungbanteng menggelar Karnaval Budaya diiringi Sound Horeg.
“Ini semua murni swadaya warga di RT (rukun tetangga) dan RW (rukun warga) Desa Kedungbanteng. Ada 9 peserta RT dan 5 RW yang partisipasi memeriahkan Karnaval Budaya ini,” ujarnya.
Beragam nama sound horeg yang diangkut Truck, mengiringi sekelompok penari RT/RW masing – masing, dengan cosplay budaya. Mereka bergerak pelan sejak sore, berangkat dari jalan batas desa berkeliling sepanjang ruas jalan desa Kedungbanteng dan pemberhentian terakhir di lapangan desa.
“Saya tanya satu persatu untuk sound horegnya, seperangkat yang diangkut truk menghabiskan biaya dari Rp45 juta hingga Rp75 juta. Semua itu biayanya dari urunan warga sendiri, tidak pakai uang desa. Desa hanya mengakomodir termasuk mengakomodir UMKMnya, dan panggung untuk perform (penampilan) mereka di depan balai desa,” terang Budiono.
Bukan hanya warga Desa Kedungbanteng berduyun – duyun menyaksikannya d sepanjang jalan yang dilintasi peserta karnaval. Ribuan orang itu juga ada keluarga yang datang dari desa lain, bahkan dari kecamatan yang cukup jauh dari Tanggulangin.
Saya sama suami dan anak – anak penasaran sama sound horeg ini, dan luar biasa meriah saya jadi ikut senang melihatnya langsung,” ungkap Rini warga Desa Sidokepung, Kec. Buduran.
Kemeriahan karnaval itu sungguh menghibur warga pengunjung. Sesekali peserta karnaval berhenti sejenak, para penarinya melakukan selebrasi dengan dentuman sound yang menggetarkan jiwa mereka, di hadapan kerumunan pengunjung.
Pusat lokasi di panggung utama depan bala desa, di hamparan karpet merah (red carpet) setiap peserta menunjukkan atraksi kehebatan dan kedahsyatan sound mereka selama 15 menit. Kemudian berlanjut melaju pelan menghibur kerumunan pengunjung hingga di lapangan desa.

“Sesuai dengan arahan Forkompimka kita ikuti. Pesertanya tidak boleh lebih dari 10 sap sound. Semoga acara ini berjalan lancar, aman tanpa keluhan,” ucap Budiono lagi.
Yang dimaksud 10 sap, jumlah dan tumpukan sesuai dengan batas ketentuan yang disampaikan oleh Forkompimka Tanggulangin, agar tidak mengganggu masyarakat lainnya. Termasuk aturan saat azan berkumandang dan salat, mereka wajib menghentikan sejenak.
Meski tidak dijelaskan batas kepekaan, kekerasan, kekuatan atau intensitas suara yang dikeluarkan dalam satu rangkaiannya di Truck, maksimal 10 dB (desibel). Namun gelegar acara tersebut, dianggap pihak desa masih aman dan masih terkendali.
“Tradisi karnaval budaya diiringi sound horeg ini sudah berlangsung tiga tahun dalam menyambut hari besar nasional kemerdekaan RI. Mungkin tahun ini yang terakhir kalinya diselenggarakan,” ungkap Budiono.
- Penulis: Ruang Nurudin
