Wisata Panen Melon Hidroponik BUMDes Gapura Candinegoro Sidoarjo Sentuh Hati Warga Pensiunan Pupuk Bontang
- account_circle Ruang Nurudin
- calendar_month 21 jam yang lalu
- print Cetak

Wisata petik melon hidroponik BUMDes Candinegoro Sidoarjo tawarkan sensasi panen premium yang memikat hati para pengunjung lokal. (Din)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sidoarjo, Ruang.co.id – Kebun agrowisata Desa Candinegoro, menggelar launching petik melon hidroponik. Pejabat Sidoarjo menyaksikan langsung panen inovasi pangan lokal ini.
Desa Candinegoro sendiri, berjarak 18 kilometer dari Alun-alun Sidoarjo. Lokasi tersebut dapat ditempuh sekitar 35 menit berkendara.
BUMDes Gapura Candinegoro bertindak selaku pengelola budidaya modern ini. Mereka memproduksi melon premium berteknologi greenhouse tahan cuaca.
Kunjungan agrowisata menyajikan pengalaman edukatif sangat menarik perhatian. Pengunjung leluasa memilih, serta memetik langsung dari pohon.
Pengunjung rombongan asal Surabaya ini, mengaku terkesan usai memetik buah. Rasa penasaran warga akhirnya terobati berkat informasi sosmed.
“Kami rombongan pensiunan Pupuk Bontang Kaltim di Surabaya,” kata Sri Indah, warga Gunungsari Indah Surabaya. “Kami tahu lokasi petik melon dari konten TikTok dan IG.”
Terdapat pula kedatangan pengunjung warga lokal sekitar wilayah Sidoarjo. Warga Desa Mulyodadi Wonoayu, sengaja hadir meramaikan suasana.
“Program ini berasal dari anggaran ketahanan pangan pemerintah pusat,” ujar Ahmad Wildani Arifana, Ketua BUMDes Gapura Candinegoro. “Kami optimalkan anggaran untuk mengembangkan budidaya melon.”
“Kami gunakan smart farming technology untuk memonitoring dari luar,” ungkap Wildani. “Kondisi nutrisi pH (power of Hydrogen / potential of Hydrogen) atau derajat keasaman, potensial hidrogen, atau kekuatan hidrogen dan suhu terpantau secara otomatis.”
“Greenhouse berukuran 400 meter persegi diisi 1.050 tanaman,” tuturnya. “Anggaran pembangunan menghabiskan dana APBDes Rp215 juta murni,”
Wildan mengaku bibit atau benih tanaman varietas ini berasal dari negeri Kincir Angin, Belanda, beli dari jejaring yang sudah dipercayainya di Jawa Timur.
“Varietas utama yakni Intanon jenis premium asal negara Belanda, Harga jual petik dibandrol Rp30.000 per kilogram,” tambah Wildani.
Pengakuannya, hasil panen melon mencapai 1,5 ton untuk satu kali panen. “Sistem monitoring menjaga perawatan tanaman berjalan stabil presisi,” pungkas Wildani.
Wildani menceritakan pula bahwa pihaknya sudah melakukan dua kali penanaman. Ia juga menceritakan pengalamannya pahit gagal panen pada tanam sebelumnya.
“Ya, pernah mengalami kegagalan sekali, karena kita memang belajar mandiri dan tidak beli sistem. Karena akarnya ada di dalam air, pH-nya tidak stabil tingginya perkembangan jamur. Makanya kita harus mengontrol pH-nya se- stabil mungkin untuk meminimalisir perkembangan jamur pada akar,” ungkap Wildani.
Pada masa tanam kedua ini, BUMDes Gapura Candinegoro akhirnya berhasil memanennya, hingga diselenggarakan pembukaan atau launching yang menghadirkan Bupati Sidoarjo.
Pada acara Gand Launching ini, dihadiri Bupati Subandi dan ia menyampaikan apresiasi tinggi atas capaian Desa Candinegoro. Pemerintah kabupaten mendukung penuh pengembangan potensi pertanian modern.
“Satu kali panen mendulang omzet Rp38 juta,” terang Subandi. “Tiap 70 hari sekali kebun bisa dipanen.”
“Saya mengajak desa lain memanfaatkan lahan kosong produktif,” katanya. “Hasilnya bisa disalurkan mendukung program Makan Bergizi Gratis.”
Tabel Produksi BUMDes Gapura Candinegoro (2026):
Parameter Catatan Kinerja
Kapasitas Panen 1.500–1.800 buah (±1,5 Ton)
Tingkat Kemanisan 12–14 Brix (Refraktometer)
Siklus Panen 3–4 kali pertahun (60–75 hari)
Estimasi Harga Rp25.000 – Rp35.000 per kg
Sumber Data: BUM Desa Gapura Candinegoro (2026).
Data produksi membuktikan efektivitas sistem hidroponik modern desa. Kualitas buah terjamin serta meningkatkan tingkat pendapatan masyarakat.
Pengelolaan dana terarah memicu kemandirian ekonomi warga lokal. Inovasi teknologi pertanian memperkuat fondasi kesejahteraan desa berkelanjutan.
- Penulis: Ruang Nurudin

