Kisah TPST Berbek: Sepuluh Tahun Mengubah Sampah Menjadi Cuan dan Harapan Kemanusiaan
- account_circle Ruang Nurudin
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

Sepuluh tahun TPST Berbek Sidoarjo mengelola sampah secara profesional demi kesejahteraan warga dan kelestarian lingkungan hidup. (Din)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sidoarjo, Ruang.co.id – Bau busuk yang menyengat, seketika sirna, manakala langkah kaki puluhan orang menapaki kawasan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Berbek.
Di sinilah, denyut nadi kehidupan warga Desa Berbek, Kecamatan Waru, berdetak kencang, merajut asa di tengah kepungan limbah hunian masyarakat berbatasan dengan kota Surabaya.
Tepat pada 1 Agustus lalu, fasilitas TPST mandiri ini merayakan hari jadinya, yang kesepuluh tahun penuh makna kebersamaan.
Sebuah perjalanan panjang, satu dekade penuh keringat, membuktikan bahwa sampah bukanlah akhir melainkan awal kehidupan mereka.
Di bawah komando Koordinator KSM Sudarmadi, pengelolaan tempat ini melibatkan dua puluh dua pengurus terlatih.
Sebanyak 60 persen pengelola merupakan warga lokal, sementara sisanya adalah para pendatang penuh semangat mengais rizki di tengah tumpukan sampah.
Setiap hari, fasilitas TPST ini memilah sembilan hingga sepuluh ton sampah domestik, dari permukiman warga.
Hebatnya, hanya sekitar empat ton saja yang akhirnya harus dibuang menuju TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Jabon, Sidoarjo.
Sisa volume sampah bernilai ekonomis, langsung disalurkan kepada para pengepul dan mitra industri terpercaya.
Sistem manajemen terstruktur rapi ini, bahkan mendapat dukungan penuh dari kepala desa dan BPD (Badan Permusyawaratan Desa) setempat.
“Kepala desa dan ketua BPD aktif hampir setiap hari membantu langsung di lokasi TPS,” ujar Sudarmadi.
Keberhasilan luar biasa ini, berlandaskan pada Peraturan Bupati Sidoarjo Nomor 116 Tahun 2022.
Regulasi tersebut, mengatur standar operasional pengelolaan sampah, agar tetap aman bagi lingkungan masyarakat sekitar.
Dukungan finansial turut mengalir, melalui bantuan keuangan Desa Berbek, serta dana aspirasi Pokir dari dapil (daerah pemilihan) anggota DPRD Sidoarjo.
Warga sekitar menikmati iuran yang terjangkau, mengingat mayoritas penduduk bekerja sebagai buruh pabrik.
“Meski sangat dekat dengan kawasan Industri, kami tidak pernah menerima limbah B3, murni hanya sampah domestik rumah tangga, kami tidak pernah menerima limbah spesifik seperti reruntuhan bangunan, dan sebagainya,” tambah Sudarmadi.
Perayaan ulang tahun kesepuluh ini dilangsungkan, sekaligus meresmikan aula baru hasil sinergi pemdes dan warga, dan memperingati HUT Kemerdekaan RI ke- 81.
Kini, TPST Berbek bukan lagi tampak tempat pembuangan tumpukan sampah yang menggangu kenyamanan warga sekitarnya, melainkan tumpukan kantong sampah besar yang tersusun rapi menunggu cuan dan menjadi simbol kemandirian warga Sidoarjo.
- Penulis: Ruang Nurudin

