Buku Serangan terhadap PBNU Beredar di Arena Muktamar NU Jombang
- account_circle Ruang Gentur
- calendar_month 3 menit yang lalu
- print Cetak

Buku berisi kritik tajam terhadap PBNU beredar di arena Muktamar NU ke-35 Jombang. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jombang, Ruang.co.id – Arena Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, mendadak riuh oleh beredarnya buku yang dinilai sebagai serangan terhadap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 2021–2026. Sejumlah pengurus cabang mengecam keras peredaran materi tersebut karena dianggap jauh dari tradisi dan akhlak warga Nahdliyin.
Buku berjudul “Dosa-dosa Besar Kepemimpinan PBNU Periode 2021–2026: Mengapa Kita Harus Memilih Pemimpin Baru PBNU di Abad ke-2” itu menyebar di tengah para muktamirin pada Sabtu (29/8/2026). Buku tersebut mencantumkan nama Forum Kedaulatan Warga Nahdliyin sebagai pihak penerbit.
Dalam daftar isinya, buku itu memuat sejumlah narasi yang sangat keras. Salah satu bab diberi judul “Nafsu Kuasa Otoriter dan Sentralistik (Markaziyah): Pudarnya Musyawarah, Rontoknya Ukhuwah Nahdliyin.” Ada pula bab berjudul “Jebakan Nafsu Duniawi Kongsi Tambang: Mirip Syahwat Serigala Berebut Daging.”
Beberapa bagian buku bahkan mengaitkan PBNU dengan isu ideologi transnasional. Judul seperti “Gurita Holland Taylor di PBNU: Memberi Panggung Kelompok Agama Fundamentalis Kanan hingga Cuci Otak Warga Nahdliyin” serta “Jaringan Pro-Zionis Israel di PBNU dan Pengkhianatan atas Khittah NU yang Mendukung Perjuangan Rakyat Palestina” ikut tercantum dalam materi tersebut.
Salah seorang pengurus PCNU di Jawa Barat yang hadir sebagai muktamirin menyayangkan kemunculan buku semacam itu di forum tertinggi NU. Ia menilai kontestasi kepemimpinan seharusnya tidak diwarnai cara-cara yang menyudutkan dan menyerang pribadi.
“Para muktamirin mengecam pelaku kampanye hitam dalam pemilihan Ketua PBNU. Cara-cara seperti itu bukan ciri khas NU dan para santri maupun kiai. Tidak berakhlak,” ujarnya kepada awak media di sela kegiatan Muktamar.
Ia menegaskan bahwa kritik terhadap kepemimpinan adalah bagian dari dinamika organisasi. Namun, penyampaian kritik harus tetap berada dalam koridor etika dan semangat kebersamaan.
“Kalau memang ada kritik terhadap kepemimpinan PBNU, sampaikan melalui forum yang sesuai dan dengan cara-cara yang bermartabat,” tambahnya.
Kemunculan buku tersebut menambah panas suasana menjelang pemilihan Ketua Umum PBNU. Sejumlah muktamirin berharap seluruh proses pemilihan tetap berlangsung damai, jujur, dan mengedepankan akhlakul karimah.
Muktamar NU adalah forum tertinggi organisasi yang menjadi penentu arah perjalanan NU. Karena itu, perbedaan pilihan tidak seharusnya berubah menjadi ajang saling serang.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak yang disebut dalam buku mengenai tudingan-tudingan yang dimuat di dalamnya. Para muktamirin diimbau untuk kritis, melakukan tabayun, dan tidak mudah terprovokasi oleh materi yang berpotensi memperkeruh suasana Muktamar NU ke-35.
- Penulis: Ruang Gentur

