Garda Terdepan Digital, IKWI Jatim Dorong Perempuan Lawan Hoax

IKWI Jatim literasi digital
Perempuan dominasi 56,3% pengguna medsos di Jatim. IKWI Jatim dorong literasi digital keluarga agar ibu jadi garda terdepan cegah hoax. (Ruangcoid)
Mascim
Mascim
Print PDF

Ruang.co.id – Perempuan tercatat mendominasi pengguna media sosial di Indonesia hingga 56,3 persen. Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Provinsi Jawa Timur pun mendorong literasi digital berbasis keluarga sebagai benteng utama melawan hoax.

Fakta ini terungkap dalam seminar bertajuk “Peran Perempuan Dalam Mengakses dan Menyebarkan Informasi di Era Digital” di Aula Kantor PWI Jatim, Jalan Taman Apsari 15-17, Surabaya, Jumat (10/4). Acara diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai komunitas, termasuk Ikatan Pelukis Wanita Indonesia Jatim.

Ketua IKWI Jatim, Endang Suprapti, menegaskan bahwa ibu-ibu adalah garda terdepan dalam menyaring informasi untuk keluarga.

“Ibu-ibu harus bisa menyaring informasi yang benar dan tidak hoax untuk anak-anak. Wanita adalah garda terdepan dalam akses dan penyebaran informasi untuk keluarga,” ujar Endang dalam laporan pembukaan acara.

Ia menambahkan bahwa ibu juga wajib membedakan mana informasi yang benar dan hoax, serta memastikan konten yang diakses bernilai positif.

Keynote speaker, Arumi Bachsin Emil Dardak, Ketua Tim Penggerak PKK Jatim, memaparkan data mengejutkan. Demografi Jatim 2025 mencatat 42,352 juta jiwa, dengan jumlah perempuan (21,25 juta) sedikit lebih banyak dibanding laki-laki (21,10 juta).

“Yang menarik, perempuan mendominasi pengguna media sosial sekitar 56,3 persen. Tren ini sudah terlihat sejak 2021, di mana 52,6 persen pengguna Instagram adalah perempuan,” jelas Arumi.

Ia juga merinci aplikasi paling banyak diakses di Indonesia: WhatsApp (91,7 persen), Instagram (84,6 persen), Facebook (83,0 persen), TikTok (77,4 persen), Telegram (61,6 persen), dan Messenger (50,5 persen).

Arumi mengimbau para ibu agar selalu melakukan check and recheck sebelum menyebarkan informasi. Ia juga memperingatkan bahaya update status real time di media sosial.

Baca Juga  Survei Masih Rendah, Kominfo dan Komisi A DPRD Sidoarjo Genjot Literasi Digital Warganya

“Hindari update status real time. Ini berbahaya karena orang jahat bisa tahu posisi kita sebenarnya. Saya biasanya update status setelah pulang ke rumah,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan Dinas Komunikasi dan Informasi Jatim, Ketut, mengatakan ada aplikasi untuk mengontrol akses media sosial anak. “Ibu-ibu bisa cari di Google,” katanya singkat.

Ketua Komisi E DPRD Jatim, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP, menambahkan bahwa selain membatasi akses, doa ibu juga sangat penting.

“Doa ibu lebih mustajab. Alhamdulillah, anak-anak saya berhasil dan sukses,” ungkapnya.

Dr. Eko Pamuji, M.I.Kom, Wakil Direktur UKW PWI Pusat, mengingatkan agar masyarakat bersikap skeptis dan waspada di era digital.

“Dunia internet di genggaman tangan kita seperti hutan dengan banyak binatang buas. Tetap waspada, check and recheck jangan lupa,” pungkasnya.