Sidoarjo, Ruang.co.id – Puluhan warga Balongdowo berjibaku menyelamatkan seperangkat sound system horeg sebuah perahu dari 39 Perahu Sound Horeg, yang karam bersama perahu akibat beban muatan berlebih saat persiapan tradisi Nyadran di perairan Desa Balongdowo, Candi, Sidoarjo pada Sabtu, (7/2/2026).
Suasana insiden haru menyelimuti lokasi kejadian saat para pemuda desa dengan heroik terjun ke air sungai, demi menyelamatkan aset budaya mereka.
Tangis dan pekikan instruksi bersahutan di tengah riuhnya persiapan pesta rakyat yang seharusnya penuh suka cita. Beban perangkat audio yang terlampau berat membuat lambung perahu tak kuasa menahan tekanan air hingga akhirnya oleng dan tenggelam.
Insiden mengejutkan ini terjadi tepat saat tim teknis melakukan proses check sound (uji coba suara) untuk memastikan kualitas audio menggelegar besok pagi.
Mesin-mesin pengolah suara yang biasanya memekakkan telinga, kini membisu tertelan air keruh sungai Balongdowo. Namun, semangat warga tak ikut tenggelam, mereka justru semakin solid menunjukkan solidaritas tanpa batas.
PJ Kepala Desa Balongdowo Arif Wibowo memberikan pernyataan tegas terkait musibah ini, sebagai bahan evaluasi mendalam.
“Kejadian ini murni musibah akibat semangat yang terlalu tinggi untuk memeriahkan tradisi, kami memastikan tidak ada korban jiwa dan acara tetap berlanjut besok dengan pengamanan yang jauh lebih ketat serta teknis yang lebih aman,” ujarnya penuh keyakinan.
Perayaan tradisi Nyadran kali ini, memang berlangsung spektakuler, jauh berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya. Perahu berisikan rangkaian instalasi Sound Horeg, mewarnai kemeriahan perayaan Nyadran Balongdowo tahun ini.
Terdapat 39 unit Perahu Sound Horeg yang ikut berpartisipasi. Kreasi spektakuler itu murni swadaya warga Desa Balongdowo, yang rata – rata sumbangsih kreasi anak mudanya. Sedikitnya untuk sebuah Perahunya, terdapat pengeras suara berkekuatan 120 kva.
Sedangkan biayanya cukup fantastis, per Perahu Sound Horeg, menghabiskan biaya sewa sebesar Rp55 juta sampai Rp75 juta. Unit – unit Perahu dan Sound Horeg itu menyewa didatangkan dari sejumlah daerah luar Sidoarjo.
Demi memeriahkan tradisi Nyadran ini, Pemuda Desa Balongdowo rela merogoh kocek patungan individunya paling sedikit senilai Rp2,5 juta dalam satu kelompok Perahu dengan jumlah rata – rata 15 orang.
Maka tidaklah heran, kalau mereka menggoreskan tulisan tagline-nya “Budal Pamit, Moleh Gegeran”, yang diartikan Berangkat Nyadran pamitan sama istrinya, namun pulangnya mereka sampai rumah siap – siap bertengkar dengan istrinya, lantaran pembiayaan Perahu Sound Horeg.
Nyadran merupakan tradisi leluhur berupa sedekah laut atau ritual doa syukur, yang dilakukan masyarakat pesisir dan nelayan pencari Kupang (Kerang kecil berwarna hijau keputihan). Istilah ini merujuk pada pembersihan diri dan lingkungan serta penghormatan kepada arwah leluhur sebelum memasuki bulan suci.
Di Desa Balongdowo, Sidoarjo, Nyadran identik dengan parade perahu hias yang kini kerap dimeriahkan oleh tren Sound Horeg (perangkat suara berskala besar dengan getaran bass tinggi).
Secara regulasi, kegiatan ini merujuk pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang mengamanatkan perlindungan dan pelestarian tradisi lokal. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo juga mengatur ketertiban umum melalui Peraturan Daerah (Perda) Sidoarjo Nomor 10 Tahun 2013, yang menekankan pentingnya aspek keselamatan dalam setiap penyelenggaraan hiburan umum.
Meski satu perahu mengalami kendala teknis, antusiasme masyarakat justru meningkat untuk memberikan dukungan moral. Solidaritas warga Balongdowo menjadi bukti nyata bahwa nilai kemanusiaan jauh lebih berharga daripada tumpukan speaker mahal yang terendam.
Panitia pelaksana segera mengerahkan tim tambahan untuk melakukan pengosongan air dan pengangkatan beban yang tenggelam.
Mereka berkomitmen agar esok hari (Minggu pagi), prosesi sakral doa bersama tetap berjalan khidmat. Tradisi ini bukan cuma tontonan, melainkan tuntunan tentang cara manusia bersyukur kepada Tuhan atas hasil bumi yang melimpah.

