Seniman DKS Duduki Balai Pemuda dan Gelar Pentas Seni

seniman DKS Surabaya
Aksi teatrikal para seniman Dewan Kesenian Surabaya yang tergabung dalam komunitas DKS saat menggelar ritual budaya dan protes di depan gedung Balai Pemuda yang telah dikosongkan Satpol PP. (Gentur)
Ruang Gentur
Ruang Gentur
Print PDF

Ruang.co.id – Pasca pengosongan kantor sekretariatan Dewan Kesenian Surabaya (DKS), yang dilakukan Pemkot Surabaya, selasa, 4 mei 2026 lalu, puluhan seniman Surabaya yang tergabung dalam komunitas DKS menduduki gedung Balai Pemuda. Selama 2 hari, sabtu (9/5) dan minggu (10/5).

Para seniman yang dipandegani Taufik Monyong itu menggelar pentas seni dengan menggelar ritual budaya dan kreasi seni teatrikal, tari, musik hingga orasi budaya di depan kantor sekretariat DKS yang sebelumnya sudah dikosongkam Satpol PP Pemkot Surabaya.

Dalam gelaran tersebut, para seniman memulai aksi ritual dengan membakar dupa dan diiringi dengan tembang Jawa yang dimaksudkan agar para penguasa kota Surabaya sadar bahwa kebijakan mengosongkan DKS adalah tidak benar.

Selain happening art yang menampilkan gerak tari tradisional kontemporer dan pembacaan puisi serta pentas musik reage simbol perlawanan. Para seniman juga membeber spanduk yang menegaskan bahwa gedung Balai Pemuda dalam pengawasan para seniman.

“Kami akan terus melawan ketidak adilan yang dilakukan Pemkot Surabaya. Selain happening art di depan gedung DKS, sabtu dan minggu. Kami juga akan melakukan aksi damai dengan turun ke jalan memprotes kebijakan Pemkot Surabaya yang hendak menyingkirkan DKS, ” ujar Taufik Monyong.

Menurut perupa yang juga dikenal sebagai aktivis ’98 ini, gedung Balai Pemuda yang identik dengan markas DKS adalah warisan untuk generasi muda Surabaya. Bahkan gedung ini merupakan sejarah perlawanan pemuda Surabaya saat melawan penjajah tahun 1945. Sedangkan DKS yang berdiri sejak tahun 1971 merupakan wujud dari kehadiran pemuda dan seniman yang menjaga nilai-nilai jiwa perjuangan gedung tersebut.

” Gedung balai pemuda ini adalah warisan budaya untuk anak cucu kita. Sehingga harus dijaga kelestariannya. Pemkot sudah mematikan kreatifitas generasi muda dengan mengambil gamelan yang digunakan anak-anak kecil berlatih ludruk. Kita tahu saat ini banyak anak kecil tidak bisa lepas dari gadget. Namun adak sekelompok anak kecil berlatih gamelan tapi dihentikan minat dan kreatifnya justru oleh Pemerintah kota sendiri,’ tutur Toufik Monyong lagi.

Baca Juga  Lukisan “Anak Palestina” Guncang Pameran Dejavu di Galeri Merah Putih Balai Pemuda Surabaya

Seperti diberotakan sebelumnya, DKS yang berditi sejak tahun 1971 oleh pemkot dan seniman Surabaya pada saat itu dipaksa pergi dan digantikan dengan Dewan Kebudayaan Surabaya (DKbS) yang komunitasnya malah bukan seniman.