Amirul Haj 2026 Kiai Asep Puji Integritas Baja Gus Irfan Pangkas Budaya Fee
- account_circle Mascim
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 13
- print Cetak

Amirul Haj 2026, Kiai Asep Saifuddin Chalim, mengapresiasi keteladanan Menteri Haji Gus Irfan yang sukses pangkas budaya fee dan tekan angka kematian jemaah. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ruang.co.id – Amirul Haj 2026, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA, memberikan apresiasi tinggi terhadap kinerja dan kepemimpinan Menteri Haji dan Umrah, Dr. Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan). Ia menilai, kunci sukses penyelenggaraan haji tahun ini adalah keteladanan integritas sang menteri yang secara tegas memberantas budaya transaksi ilegal.
Kiai Asep, yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, mengaku bangga dapat membersamai Gus Irfan dan menyaksikan langsung kepemimpinannya. Pujian tersebut ia sampaikan di kediamannya usai kembali dari Tanah Suci.
“Saya merasa bangga bisa membersamai Menteri Haji Gus Irfan. Beliau seorang menteri yang harus menjadi teladan bagi menteri-menteri yang lain. Berhasil beliau dalam memimpin haji tahun 2026. Kuncinya: integritas,” ujar Kiai Asep, Senin (8/6/2026).
Ia menuturkan sebuah kesaksian kunci tentang bagaimana Gus Irfan menanamkan prinsip anti-korupsi sejak awal. Kiai Asep menyaksikan sendiri ketika Gus Irfan memberikan instruksi tegas kepada para direktur penyedia layanan.
“Saya menyaksikan sendiri, apa yang beliau sampaikan kepada direkturnya: ‘Di era saya, tolong tidak ada fee-fee-an. Tidak ada cashback-cashback-an, walaupun setengah riyal enggak ada. Kalau ada orang saya yang demikian, laporkan,'” tutur Kiai Asep menirukan instruksi Gus Irfan.
Instruksi itu, menurutnya, disambut baik dan menjadi fondasi etos kerja baru. Para direktur pun merespons dengan komitmen yang sama. Dampaknya, Kiai Asep menilai, budaya kerja bersih ini menular ke seluruh lini petugas haji di lapangan, menciptakan ekosistem pelayanan yang lebih bertanggung jawab. Ia menekankan bahwa keteladanan di pucuk pimpinan akan menjadi acuan bagi seluruh anak buahnya.
Lebih lanjut, Kiai Asep menyoroti keberhasilan operasional di puncak haji yang berjalan lebih efisien. “Satu hal yang mencolok adalah keberangkatan dari Arafah ke Muzdalifah dan Mina. Biasanya dari Muzdalifah berlarut hingga siang, sekarang pagi sudah selesai semua, tidak ada jemaah yang kepanasan,” imbuhnya.
Ia juga memuji strategi penempatan jemaah di kawasan Syisah dan Raudhah yang dekat dengan Mina. Strategi ini memungkinkan jemaah untuk melakukan tanazul atau kembali ke pemondokan lebih awal, sehingga prosesi lempar jumrah dan mabit dapat dilakukan dengan lebih nyaman.
Ke depan, Kiai Asep merekomendasikan perluasan kapasitas Mina secara vertikal dengan membangun hotel-hotel. Gagasan ini ia nilai sebagai solusi jangka panjang untuk mengurai kepadatan yang selalu terjadi di area seluas 8-9 kilometer persegi itu.
Selain kelancaran mobilitas, Kiai Asep turut mengapresiasi tingkat mortalitas jemaah yang berhasil ditekan signifikan. “Sampai hari ini, dan semoga sampai akhir, angka kematian dapat ditekan, mungkin separuhnya dari tahun-tahun sebelumnya. Itu hal yang sangat mencolok,” ungkapnya penuh syukur.
Di akhir keterangannya, Kiai Asep berharap model kepemimpinan yang bertumpu pada integritas, kerja keras, dan disiplin ini dapat menjadi tolok ukur. “Semoga ini menjadi teladan bagi menteri-menteri yang lain,” tutupnya.
- Penulis: Mascim

