Samantha, Pahlawan Perdamaian Dunia yang Menghangatkan Dinginnya Perang Lewat Sepucuk Surat
- account_circle Ruang redaksi
- calendar_month 30 menit yang lalu
- print Cetak

Samantha Smith dan Ibunya, Jane Goshorn Smith, duduk di bangku belakang sedan Limosin Chaika, pada 8 Juli 1983, dalam perjalanan dari Bandara menuju hotel Moskow, memenuhi undangan dari Yuri Andropov. Foto Dokumen : AP Photo/Boris Yurchenko.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh : Syarif WadjaBae
(Penggiat Seni, Sineas, dan Tokoh Teater)
Ruang.co.id – Dalam catatan hariannya, pada tahun 1982, saat usianya masih sepuluh tahun, Samantha Smith menulis,
“Sebenarnya, semua dimulai saat saya menanyakan kepada Ibu saya, apakah akan terjadi perang? Selalu saja ada sesuatu mengenai misil dan bom nuklir di televisi. Saat saya menonton acara sains di TV nasional dan sang ilmuwan berkata bahwa perang nuklir akan menghancurkan bumi dan merusak di atmosfer. Tidak akan ada pemenang dalam perang nuklir. Saya ingat ketika terbangun pada suatu pagi dan bertanya-tanya, apakah hari ini akan menjadi hari terakhir bagi bumi.”
Sejak kecil, Samanta Smith dihadapkan pada cerita-cerita tentang Perang Dunia II (1939 – 1945) yang sangat mengerikan. Dendam Uni Soviet dan Amerika Serikat beserta sekutunya masing-masing itu nyaris tak pernah usai. Perang dingin atau Cold War, yang dalam bahasa Rusia disebut kholodnaya voyna terjadi lagi pada rentang waktu cukup lama, yakni 1947 hingga 1991. Kehendak kedua negara akan eskalasi senjata nuklir sangat mengganggu pikiranya. Baginya, ketegangan itu akan berbuntut panjang dan perang besar bisa terjadi lagi sewaktu-waktu dan merugikan seluruh masyarakat dunia.
Terpilihnya Yuri Andropov sebagai Kepala Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB) Uni Soviet menimbulkan persepsi negatif karena dianggap menjadi ancaman bagi kestabilan negara-negara barat. KGB adalah badan pemerintah utama dari yurisdiksi serikat-republik, yang menjalankan fungsi keamanan internal, intelijen dan polisi rahasia. Badan serupa beroperasi di masing-masing republik Uni Soviet selain dari Republik Sosialis Federasi Soviet (RSFS) Rusia, dengan banyak kementerian terkait, komite negara, dan komisi negara. Sejak Andropov terpilih, banyak sekali protes yang meneriakan stop perang (nuklir) yang dilakukan oleh Masyarakat Negara-negara Benua Eropa dan Amerika, hingga Asia.
Suatu ketika, Samantha bertanya kepada Ibunya tentang mengapa tidak ada seorang pun yang menulis surat kepada pemimpin Soviet, untuk menanyakan apakah ada rencana perang atau tidak. Ibunya pun menjawab, “Mengapa bukan kamu saja.” Mendengar kalimat Ibunya seperti itu, Samantha pun menulis surat kepada Yuri Andropov,
“Tuan Andropov yang terhormat.
Nama saya Samantha Smith. Usia saya sepuluh tahun. Selamat atas pekerjaan baru Anda. Saya sedang mengkhawatirkan tentang Uni Soviet dan Amerika yang akan terlibat perang nuklir. Apakah anda mendukung terjadinya perang atau tidak? Jika tidak, tolong beritahu saya bagaimana cara Anda untuk membantu agar tidak terjadi perang. Pertanyaan ini tidak perlu anda jawab, tetapi saya ingin tahu mengapa Anda ingin menaklukkan dunia atau setidaknya negara kami. Tuhan membuat dunia untuk kita hidup bersama dalam kedamaian dan bukan untuk bermusuhan.
Salam hormat
Samantha Smith”
Surat dari Samantha tidak langsung dibalas oleh Andropov. Dia justru menemukan bagian kutipan surat itu tercantum dalam surat kabar Soviet, Pravda. Media itu menilai pertanyaan Samantha pada Andropov sebagai suatu kesalahpahaman yang dilakukan anak berumur sepuluh tahun. Meskipun Samantha senang saat mengetahui suratnya disalin dan dicetak oleh Pravda, ia tidak mengerti mengapa tidak ada upaya yang dilakukan Kepala negara Soviet itu untuk membalas suratnya.
Karena perasaan kecewa, Samantha kemudian menulis surat lagi, yang ditujukan untuk Duta Besar Soviet di Amerika Serikat, Anatoly Dorbrynin. Surat kedua Samantha berisi pertanyaan mengenai apakah Kepala Negara Andropov berencana membalas suratnya atau tidak, ditambah dengan kalimat yang cukup tegas di akhir suratnya, “Saya rasa pertanyaan saya bagus, dan tidak masalah usia saya sepuluh tahun.” Akhirnya, pada tanggal 26 April 1983, Samantha menerima surat balasan dari Andropov. Berikut isi surat tersebut,
Surat balasan Andropov yang disertai kalimat Mengundang Samantha dan Orangtuanya untuk berkunjung ke Soviet pada musim panas, terwujud. Dia mempersilahkan Samantha untuk mengenal Soviet secara lebih terbuka melalui beberapa kunjungan dan aktivitasnya di negara itu. Selama di Soviet, Samantha dan Orangtuanya begitu terkesan pada keramahan Orang-orang Soviet, terutama saat mereka berkunjung ke Moskow dan Leningrad.
Sampailah dalam suatu momen konferensi pers. Samantha menyatakan bahwa Orang Uni Soviet sama seperti Orang Amerika. Dia juga mengunjungi Artek, sebuah kamp Anak Internasional di kota Gurzuf, di semenanjung Kremean. Samantha memilih untuk tinggal bersama anak-anak di kamp dibanding menerima fasilitas istimewa yang ditawarkan Pemerintah Soviet kepadanya.
Samantha berbaur bersama sembilan anak gadis (Soviet) lainnya. Mereka bersama-sama melakukan kegiatan menyenangkan seperti berenang, bernyanyi, dan menari. Akan tetapi selama Samantha berada di Uni Soviet, Yuri Andropov tidak bisa menemuinya dikarenakan sedang sakit. Samantha dan Andropov hanya berkomunikasi melalui telepon.
Keberuntungan Samantha tidak sampai disana, dia juga menerima telepon dari Kosmonot Soviet, Valentina Tareshkova. Banyak sekali media mengikuti setiap perjalanan Samantha, mulai dari kedatangannya di Soviet hingga kembali ke Amerika. Nama Samantha menjadi terkenal dan dihargai oleh warga Uni Soviet. Di Amerika, Samantha dijuluki American-Style Public Relations (PR) Stunt. PR stunt adalah program PR yang besar dan terkoordinasi yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran tentang suatu perkara/ permasalahan bersama).
Popularitas Samantha terdengar hingga ke kampung halamannya, di Maine. Bahkan saat Samantha dan Orangtuanya kembali ke Amerika Serikat pada 22 Juli 1983, Masyarakat Maine dengan sukacita merayakan kedatangannya. Tahun 1984, Samantha diakui sebagai seorang politisi dan aktivis perdamaian anak dalam acara betema Disney About Politics. Pada kesempatan itu, Samantha diwawancarai sejumlah kandidat/ calon Presiden Amerika 1984, termasuk George Mcgovern dan Jesse Jackson.
Tidak hanya di Amerika dan Uni Soviet, Samantha juga dikenal hingga Jepang. Dia bersama Ibunya pergi ke Jepang untuk bertemu perdana menteri Jepang saat itu, Yasuhiro Nakasone. Samantha menghadiri simposium anak internasional di Kobe, Jepang, dan menjadi Ambasador termuda. Dalam simposium tersebut ia menggagas agar para pemimpin Amerika dan Uni Soviet melakukan pertukaran cucu perempuan selama dua minggu setiap tahun (The International Granddaughter Exchange). Menurutnya seorang kepala negara tidak mungkin mengirim sebuah bom kepada negara yang akan dikunjungi cucu perempuannya. Kunjungan Samantha ke Jepang telah menginspirasi pertukaran duta anak dari Soviet, Katya Lycheva ke Amerika Serikat.
Pada tahun 1985, Samantha menulis buku yang berjudul Journey to the Soviet Union. Buku tersebut kemudian dibuat serial televisi berjudul Lime Street.
Samantha Smith Meninggal Dunia
Tanggal 25 Agustus 1985 merupakan hari kelam. Jutaan Manusia yang mengenal Samantha melalui kisahnya yang cerdas dan gemilang, berlinang air mata. Pahlawan Dunia itu meninggal dalam kecelakaan pesawat Bar Harbor Airlines-Flight 1808 bersama Ayahnya saat perjalanan kembali ke Amerika Serikat setelah pengambilan gambar untuk film Lime Street. Banyak Kepala Negara menyampaikan ucapan belasungkawa yang begitu mendalam kepada Ibunya. Dibawah satu nisan, Abu jenazah Samantha dan Ayahnya dikubur di Estabrook Cemetery-Aroostook county, Maine.
Penghargaan Duta Kebaikan diberikan Pemerintah Soviet kepada Samantha, ditandai dengan membangun Monumen untuk mengenangnya. Sementara di Maine, Amerika Serikat, sebuah patung perunggu menyerupai dirinya dibangun dan diletakan di Maine State Museum, Augusta, dengan wajah yang penuh senyum dan kedua tangan yang sedang melepas seekor burung dara serta patung beruang kecil yang duduk di sebelahnya. Samantha juga dianugerahi Peace Abbey Courage of Conscience Award pada tahun 2008.
Lahir pada tanggal 29 Juni 1972 di Houlton, Maine, dengan nama lengkap Samantha Reed Smith. Ayahnya, Arthur Smith mengajar literatur dan penulisan di Fakultas Sastra Universitas Maine, di Augusta. Sementara Ibunya, Jane Goshorn Smith adalah pekerja sosial di Departemen Pelayanan Kemanusiaan, Maine.
Bersama Ayahnya, ia kembali ke pangkuan Sang Maha Cinta. Dibalik duka mendalam yang dirasakan Jane, ada kebanggaan tak terkira, Separuh jiwa dan senyum indah anaknya telah bersemayam di hati jutaan manusia yang merasakan manisnya perdamaian.
(Artikel Kolom ini kiriman dari Aktivis Seniman Surabaya, Syarif WadjaBae)
- Penulis: Ruang redaksi

