Mahasiswa peserta KKN Internasional Universitas Airlangga bersama peneliti dan warga lokal melakukan kegiatan penanaman pohon dan pemasangan pagar pelindung vegetasi di kawasan hutan Tenryu, Prefektur Shizuoka, Jepang. (Ist)
Oleh : Athaya Maheswari Jumhur
Mahasiswi Ilmu Sejarah Universitas Airlangga
Peserta KKN-BBK 8 International Shizuoka University
Ruang.co.id – Di Prefektur Shizuoka, Jepang, hamparan hutan tidak hanya dipandang sebagai sumber daya alam, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang harus dijaga keberlanjutannya. Mulai dari pemanfaatan hasil hutan oleh komunitas lokal hingga keterlibatan warga dalam kegiatan konservasi, setiap praktik mencerminkan komitmen bersama dalam mewujudkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Lingkungan inilah yang menjadi ruang belajar bagi mahasiswa Universitas Airlangga melalui KKN-BBK 8 Internasional, untuk memahami secara langsung bagaimana konservasi hutan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesempatan tersebut diwujudkan melalui kolaborasi Universitas Airlangga dengan Delve Education dan Shizuoka University, Jepang, dalam Forest Management Educational Program. Selama sembilan hari, para peserta mengikuti rangkaian kegiatan akademik dan praktik lapangan yang dipandu oleh dosen, peneliti, serta praktisi kehutanan di Prefektur Shizuoka. Tidak hanya mempelajari konsep pengelolaan hutan berkelanjutan di dalam kelas, mahasiswa juga terlibat langsung dalam berbagai aktivitas lapangan, mulai dari mengenali keanekaragaman vegetasi, mempelajari teknik konservasi, hingga berpartisipasi dalam upaya pelestarian hutan bersama masyarakat setempat.
Program ini diikuti oleh 15 mahasiswa Universitas Airlangga, yaitu Angela Putri Togu Corinthia Sinaga, Muhammad Azkal Azkiya, Firdivana Alifia Fitzcy, Darren Willis Hutarso, Lim Khai Xiang, Arifa Izza Fidela, Muhammad Fikri Hidayat, Immanuel Michael Erbian Dara, Aisha Saraswati Pratama, Pasha Vallerie Royce, Muhammad Daffa Tristan, Dwi Jatmiko, Vaiq Veto Daniswara, Athaya Maheswari Jumhur, dan Ronald Gerry Pratama.
Selama satu pekan, peserta tidak hanya mengikuti perkuliahan, tetapi juga tinggal di sebuah kabin yang berada di tengah kawasan hutan Tenryu. Jauh dari hiruk pikuk perkotaan, lingkungan tersebut menjadi ruang belajar yang mengajarkan pentingnya hidup berdampingan dengan alam sekaligus membangun kerja sama antar peserta dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Melalui berbagai kegiatan lapangan, mahasiswa diajak mengenal beragam spesies tanaman dan mempelajari karakteristik morfologi serta ekologi masing-masing. Peserta juga belajar mengidentifikasi jenis-jenis pohon, memahami faktor yang memengaruhi pertumbuhannya, hingga memprediksi perkembangan tanaman berdasarkan kondisi hutan dan teknik pengelolaan yang diterapkan. Pembelajaran tidak berhenti pada aspek teori. Mahasiswa turut berpartisipasi dalam kegiatan konservasi dengan memasang pagar pelindung untuk mencegah kerusakan vegetasi akibat rusa liar yang banyak ditemukan di kawasan tersebut. Selain itu, peserta juga mengikuti kegiatan penanaman pohon sebagai bentuk kontribusi nyata dalam mendukung keberlanjutan ekosistem hutan
“Satu nilai yang paling saya ingat dan benar-benar saya dapatkan dari program ini adalah kerja sama. Dalam arti yang lebih holistik, kerja sama bukan hanya tentang berkolaborasi dengan tim, tetapi juga tentang mengendalikan diri agar dapat menjalankan setiap tanggung jawab dengan baik,” ujar Ronald Gerry Pratama.
Selain mempelajari konservasi hutan, mahasiswa juga dituntut untuk mengasah kemampuan berpikir kritis melalui kegiatan penelitian. Dalam kegiatan ini, peserta melakukan survei dengan membagikan kuesioner kepada masyarakat lokal di Kota Iwata dan Kakegawa guna mengumpulkan data terkait topik penelitian yang telah ditentukan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dan dipresentasikan pada akhir program.
“Dari proses pengambilan data, saya belajar bahwa hard skill dan soft skill harus berjalan beriringan. Kami tidak hanya dituntut memahami kondisi lapangan dan menyusun strategi penelitian, tetapi juga membangun komunikasi dengan masyarakat. Dari situlah saya belajar bahwa keberhasilan penelitian bukan hanya ditentukan oleh metode, melainkan juga oleh kemampuan beradaptasi dan menjalin interaksi dengan orang lain,” lanjut Ronald Gerry Pratama.
Melalui Forest Management Educational Program, mahasiswa Universitas Airlangga tidak hanya memperoleh wawasan mengenai pengelolaan hutan berkelanjutan di Jepang, tetapi juga mengembangkan kemampuan bekerja sama, berpikir kritis, serta beradaptasi dalam lingkungan dan budaya yang berbeda. Pengalaman belajar yang memadukan teori, praktik lapangan, dan penelitian berbasis masyarakat tersebut menjadi bekal berharga bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan global sekaligus mendorong lahirnya generasi yang memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan. Diharapkan, nilai-nilai dan pengetahuan yang diperoleh selama program ini dapat diimplementasikan di Indonesia serta menjadi inspirasi untuk menciptakan inovasi dalam pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.