Jemari Difabel Menenun Harapan, Karya Tuna Daksa Sidoarjo Menembus Batas Stigma
- account_circle Ruang Nurudin
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

Kisah perajin tuna daksa Sidoarjo membuktikan keterbatasan bukan penghalang. Karya mereka menembus stigma dan siap bersaing di pasar luas. (Din)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sidoarjo, Ruang.co.id – Jemari Rumani (57), penyandang tuna daksa asal Desa Penambangan, Kecamatan Balongbendo, tekun merangkai handycraft berkualitas tinggi, walau kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat lingkungan sekitarnya.
Di balik keterbatasan fisik akibat polio, karya kerajinan tangan buatan Rumani bersama puluhan UMKM disabilitas di Sidoarjo, terbukti mampu menembus pasar bazar hingga Galeri UMKM.
Namun, daya beli masyarakat luas terhadap produk difabel masih sangat rendah, padahal kualitas hingga kreativitas mereka, teruji jauh melebihi pelaku usaha warga non-disabilitas.
Yojhe Rosana Tisna Dewi, sukarelawan mitra Dinkop UMKM Sidoarjo, mengungkapkan fakta mengejutkan, mengenai perjuangan keras para penyandang disabilitas, dalam mempertahankan kemandirian ekonomi mereka.
“Tantangannya mengendalikan orang yang tidak mau memanusiakan mereka. Di lingkungan tempat tinggal, disabilitas sering direndahkan dan dianggap tidak memiliki masa depan,” ungjap tegas Yojhe.
Rumani pun membeberkan stigma kelam di tingkat lokal, di mana usahanya sempat disisihkan dari kelompok usaha desa, bahkan diindikasikan dimintai praktik pungutan liar bila ingin bergabung di komunitas UMKM lingkungan pasar desanya.
“Di desa ada kelompok UMKM, tapi saya tidak digabungkan. Kalau mau ikut harus nitip uang, semacam pungli, makanya saya pilih keluar,” ungkap Rumani.
Meski diterpa diskriminasi, motivasi belajar para perajin difabel sangat tinggi, bahkan Dinkop dan UMJM Sidoarjo mengakui peserta disabilitas jauh lebih fokus ketimbang warga non-disabilitas.
Pemerintah wajib menjamin perlindungan Hak Asasi Manusia, serta kesetaraan hak usaha mikro bagi penyandang disabilitas, melalui regulasi resmi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.
Informasi pemberdayaan ekonomi inklusif ini, disadur berdasarkan liputan lapangan mendalam serta koordinasi resmi bersama Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Sidoarjo.
Sementara, malam kemarin, buah karya puluhan UMKM penyandang Disabilitas membaur bersama ratusan produk unggulan lokal, memadati pelataran parkir Mal Ramayana Sidoarjo, dalam ajang Gebyar UMKM 2026, yang resmi dibuka pada Jumat (28/8/2026).
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menggelar perhelatan akbar ini selama tiga hari, guna memperingati Hari UMKM Nasional sekaligus menyemarakkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-81.
Wakil Bupati Sidoarjo, Mimik Idayana, mengapresiasi terobosan baru ini dan ia menekankan pentingnya keberpihakan publik, demi mendorong ekonomi kerakyatan agar mampu naik kelas.
“Gebyar UMKM ini bukan sekadar tempat jualan, melainkan ruang perjuangan, kreativitas, dan harapan keluarga untuk hidup jauh lebih sejahtera,” tutur Mimik Idayana, dalam pidato sambutannya.
Kepala Dinkop dan UMKM Sidoarjo, M. Chudlori, mengatakan dalam pidato sambutannya, bahwa acara ini menjadi sarana strategis mempromosikan produk lokal, serta memperluas jejaring pemasaran pelaku usaha.
“Kegiatan ini menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap produk lokal Sidoarjo sekaligus memberikan ruang bagi pelaku usaha mikro untuk menampilkan inovasi daya saing,” ujar Chudlori.
Saat mengunjungi stan UMKM Disabilitas, Mimik Idayana sempat dikejutkan dengan pemberian tali asih, berupa bunga buket handycraft, buah karya penyandang disabilitas bernama Aisah, yang diberikan oleh Rumani.
“Bunga buket dengan hasil bagus itu baru saja dibikin oleh Aisah, hanya membutuhkan waktu hitungan menit, cepat bikinnya, sekitar 5 menit,” ujar Yojhe.
Usai prosesi pembukaan, Kepala Dinkop dan UMKM, M. Chudlori yang didampingi Amat Adi Subhan, Kabid UMKM Sidoarjo, menjelaskan pihaknya dalam Gebyar UMKM ini telah memfasilitasi 30 stan yang diisi hingga 60 perajin binaan, termasuk kelompok penyandang disabilitas yang mandiri, dan stan produk jualan dari KDMP Kab. Sidoarjo.
“Gebyar UMKM ini mereka tidak dipungut biaya sewa stan alias gratis selama tiga hari. Apalagi terhadap para pelaku UMKM Disabilitas, kami serius berikan pelatihan – pelatihan dan kurasi standar produk SNI kepada mereka hingga produk – produknya mampu berdaya saing tinggi di pasar,” ujar Chudlori.
Pemkab Sidoarjo juga memperlakukan serupa terhadap pelaku UMKM binaan lainnya yang hingga saat ini sebanyak 153.288 unit, dengan menggembleng kualitas produk lokal lewat pelatihan kontinu, dan sertifikasi kurasi standar SNI.
Ikhtiarnya demi naik kelas, hingga ada UMKM produk dompet dan tas kulit yang menembus pasar internasional seperti ajang pameran di Paris, Prancis.
- Penulis: Ruang Nurudin

