Massa Geruduk Dipendikbud Sidoarjo, Ketegangan Memuncak Bakar Ban hingga Aksi Saling Dorong Nyaris Robohkan Pagar
- account_circle Ruang Nurudin
- calendar_month 9 jam yang lalu
- print Cetak

Demo di Dispendikbud Sidoarjo memanas hingga pagar roboh. Massa desak usut dugaan penyimpangan proyek SDN 1Wonokasian, copot kepala sekolah. (Din)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sidoarjo, Ruang.co.id – Suasana di depan Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Kabupaten Sidoarjo memanas, pada Senin (12/10/2026).
Massa gabungan dari PT Barata Persada, elemen masyarakat, dan persatuan jurnalis online menggelar aksi unjuk rasa, mendesak pengusutan dugaan penyimpangan proyek rehabilitasi SDN 1 Wonokasian.
Massa aksi juga menuntut evaluasi total terhadap kepala sekolah tersebut.
Aksi yang dimulai pukul 10.00 WIB hingga sore itu, dipicu oleh aksi penolakan dan dugaan rekayasa anggaran pembangunan gedung SDN 1 Wonokasian, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo.
Persoalan makin meruncing, setelah muncul keluhan terkait sikap arogan kepala sekolah, saat sejumlah jurnalis di Sidoarjo berusaha melakukan konfirmasi mengenai penggunaan dana proyek.
Situasi di lapangan berjalan sangat tegang. Massa menyalakan ban bekas hingga kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi, dan mengancam jaringan kabel listrik di sekitar lokasi.
Ketegangan berlanjut, saat mediasi antara perwakilan Dispendikbud Sidoarjo dan massa aksi menemui jalan buntu. Komunikasi yang membal balik tanpa titik temu ini, memicu aksi saling dorong hingga mengakibatkan pagar pintu depan Kantor Dispendik Sidoarjo nyaris roboh.
Pimpinan aksi menegaskan, massa sangat kecewa lantaran Kepala Dispendikbud Sidoarjo tidak berada di tempat, untuk menemui mereka secara langsung.
Meski sempat ada permohonan maaf melalui pengeras suara, hal tersebut dinilai belum menjawab substansi tuntutan.
“Kami menuntut transparansi anggaran proyek SDN Wonokasian 1 dan tindakan tegas berupa pencopotan Kepala SDN Wonokasian 1, yang terkesan tidak kooperatif dan menghalangi tugas jurnalistik,” tegas salah satu orator di lokasi.
Sejumlah aktivis LSM yang hadir turut mengimbau massa agar tetap berada dalam satu komando demi menjaga ketertiban umum.
Aksi ini menegaskan pentingnya keterbukaan informasi publik, terutama dalam pengelolaan anggaran pendidikan, yang bersumber dari uang rakyat.
Jurnalis, menjalankan fungsi kontrol sosial masyarakat yang dilindungi hukum, saat meminta verifikasi data pelaksanaan pembangunan fasilitas pendidikan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Kepala Dispendik Sidoarjo maupun Kepala SDN 1 Wonokasian, terkait dugaan penyimpangan anggaran tersebut.
Massa aksi tersebut kini menunggu langkah tegas dan transparan dari pemerintah daerah, untuk menyelesaikan polemik ini secara objektif.
- Penulis: Ruang Nurudin
