Mojokerto, Ruang.co.id – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Abdul Mu’ti meresmikan gedung baru jurusan Desain Komunikasi Visual di salah satu SMK Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Kamis (12/02/2026). Kunjungan kerja ini menjadi momen bagi menteri untuk menyampaikan sejumlah arah kebijakan, mulai dari penguatan karakter siswa, perluasan program revitalisasi sekolah, hingga perubahan sasaran penerima bantuan Program Indonesia Pintar.
Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya keseimbangan antara kompetensi teknis dan integritas pribadi. Ia berpesan agar sekolah tidak hanya menyiapkan murid untuk bekerja, tetapi juga membentuk kepribadian utama. “Tetap memiliki kepribadian utama apapun pekerjaannya,” kata Menteri Dikdasmen di hadapan pengurus sekolah dan para pelajar yang menyambutnya mengenakan seragam merah.
Kunjungan menteri yang juga politisi Partai Amanat Nasional itu tampak didampingi Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa yang menggunakan batik warna merah. Peresmian gedung baru ini menjadi agenda utama kunjungan, namun Abdul Mu’ti juga menyampaikan sektor lain yang tengah menjadi prioritas pemerintah.
Di luar acara peresmian, Abdul Mu’ti mengungkapkan rencana pemerintah menambah sekitar 60 ribu sekolah yang akan direvitalisasi. Ia menyampaikan bahwa program tersebut merupakan kelanjutan dari rencana Presiden. “Insyaallah sesuai yang direncanakan bapak Presiden ada tambahan sekitar 60 ribu sekolah yang direvitalisasi,” ujarnya. Jumlah ini menunjukkan skala perluasan signifikan dari program revitalisasi yang selama ini berjalan, meskipun dalam pernyataannya menteri tidak merinci rincian teknis maupun alokasi anggaran untuk tambahan sekolah tersebut.
Selain revitalisasi, Abdul Mu’ti juga menyoroti penyaluran Program Indonesia Pintar yang mulai berjalan secara bertahap. Ia menyebut adanya perubahan dalam skema sasaran penerima manfaat. “Ada satu hal yang berbeda. PIP itu PK, akan mendapatkan PIP Rp450.000 per tahun. 880 ribu murid TK dari keluarga yang tidak mampu,” jelasnya. Ia juga menyinggung program pembangunan satu desa satu TK sebagai bagian dari upaya perluasan akses pendidikan anak usia dini. (Djayadi)

