Hari Semangka Sedunia Diperingati Setiap 3 Agustus, Ini Sejarah Panjang dan Fakta Unik Buah Tropis Itu
- account_circle Ruang Ilham
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

Hari Semangka Sedunia diperingati setiap 3 Agustus untuk mengenang sejarah panjang dan manfaat buah kaya air ini. Ilustrasi foto @magnific.com
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Poin utama :
- Hari Semangka Sedunia diperingati setiap 3 Agustus untuk merayakan sejarah panjang dan manfaat kesehatan buah semangka.
- Jejak budidaya semangka tercatat sejak era Mesir Kuno sekitar 2.000 SM, dibuktikan dengan penemuan biji semangka di makam Raja Tutankhamun.
- Semangka mengandung 92 persen air, kaya akan vitamin dan antioksidan, serta memiliki lebih dari 1.200 varietas yang dibudidayakan secara global.
Ruang.co.id – Hari Semangka Sedunia atau World Watermelon Day rutin diperingati masyarakat global setiap tanggal 3 Agustus. Perayaan ini menjadi momen untuk menengok kembali sejarah panjang budidaya semangka sekaligus menyadari manfaat kesehatannya yang melimpah.
Peringatan tahunan ini menyoroti fakta bahwa semangka bukan sekadar buah pelepas dahaga. Lebih dari itu, semangka memiliki rekam jejak historis yang kuat dan kandungan gizi yang sering kali luput dari perhatian.
Berdasarkan data yang dilansir dari National Today, budidaya semangka diyakini telah dimulai sejak zaman Mesir Kuno, tepatnya sekitar 2.000 tahun sebelum Masehi. Panen perdananya bahkan diperkirakan terjadi sekitar 5.000 tahun silam. Jejak arkeologis berupa biji semangka berhasil ditemukan di situs pemukiman Dinasti Mesir ke-12, termasuk di area makam Raja Tutankhamun.
Seiring meluasnya jalur perdagangan internasional, benih semangka perlahan menyebar ke berbagai wilayah. Mobilitas pedagang membawa buah ini keluar dari Afrika, melintasi kawasan Mediterania, masuk ke dataran Eropa, hingga akhirnya populer di Asia. Tiongkok kemudian menjadi salah satu pusat budidaya semangka terbesar di dunia, terutama setelah memasuki akhir abad kesembilan.
Sementara itu dalam literatur bahasa Inggris, istilah watermelon pertama kali tercatat pada tahun 1615. Menariknya, meski kerap disebut melon, buah ini secara taksonomi sebenarnya tidak tergolong dalam genus Cucumis.
Hari Semangka Sedunia tidak semata-mata menjadi perayaan euforia konsumsi buah musiman. Peringatan ini lebih dalam dari itu, yaitu menjadi pengingat bagi publik tentang warisan agrikultur dan pentingnya hidrasi alami bagi tubuh.
Kandungan air dalam daging buahnya bisa mencapai 92 persen, menjadikannya hidrasi instan yang efektif terutama di tengah cuaca terik. Di samping itu, buah ini juga mengandung vitamin A, vitamin C, antioksidan, serta likopen yang krusial dalam menjaga imunitas tubuh. Hampir seluruh bagian buah, tak terkecuali kulitnya yang berwarna putih, sebenarnya masih menyimpan nutrisi dan sering dimanfaatkan untuk olahan pangan alternatif.
Pemuliaan tanaman turut mendorong lahirnya berbagai varietas semangka dengan bentuk yang sangat beragam. Saat ini, tercatat lebih dari 1.200 varietas semangka dibudidayakan secara global. Para petani di Jepang, misalnya, terus berinovasi dengan menghasilkan semangka berbentuk kubus, piramida, hati, hingga menyerupai wajah manusia.
Edukasi mengenai proses panjang di balik sepotong semangka juga terus digaungkan dalam peringatan ini. Waktu tanam semangka hingga siap panen membutuhkan durasi sekitar 85 hingga 100 hari, bergantung pada varietas dan kondisi iklim.
Hari Semangka Sedunia juga kerap diwarnai dengan pencatatan rekor dunia. Pada tahun 2013 silam, seorang petani asal Tennessee, Amerika Serikat, berhasil memanen semangka raksasa dengan berat mencapai 350,5 pon atau setara 159 kilogram. Capaian tersebut menjadi bukti potensi luar biasa dari komoditas hortikultura yang telah mendunia ini.
Melalui peringatan tahunan ini, publik diimbau untuk turut serta dalam perayaan dengan cara sederhana, seperti mengonsumsi semangka lokal untuk mendukung petani dalam negeri. Dengan demikian, peringatan ini tidak hanya menjadi selebrasi konsumtif, melainkan juga berdampak langsung pada penguatan rantai pangan lokal.
- Penulis: Ruang Ilham
