Silaturahmi Gus Yahya dan Kiai Kafa Bahas Arah Baru NU Jelang Muktamar
- account_circle Ruang Gentur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Gus Yahya dan Kiai Kafa berbincang santai di kediaman Lirboyo Kediri membahas arah organisasi NU jelang muktamar. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kediri, Ruang.co.id – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf bersilaturahmi dengan Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, Selasa malam (26/8/2026). Pertemuan berdurasi sekitar 30 menit itu menyorot masa depan organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Kiai Kafa yang juga menjabat Rais Syuriyah PBNU menerima langsung kedatangan Gus Yahya di kediamannya, Jalan KH Abdul Karim, Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Silaturahmi ini menjadi bagian dari safari Gus Yahya ke sejumlah ulama dan pengasuh pesantren sebelum Muktamar ke-35 NU digelar.
Dalam perbincangan itu, Gus Yahya secara terbuka meminta masukan dari Kiai Kafa tentang langkah konkret agar NU kian dirasakan manfaatnya oleh umat, pesantren, bangsa, dan negara. Kiai Kafa menyebut permintaan itu sebagai bentuk keteladanan seorang pemimpin yang tidak menutup diri dari pandangan ulama.
“Gus Yahya meminta saran bagaimana agar NU lebih baik, bermanfaat untuk umat, pesantren, bangsa dan negara,” ujar Kiai Kafa kepada media usai pertemuan.
Kiai Kafa menambahkan, tradisi silaturahmi semacam ini penting untuk merekatkan hubungan antara struktur organisasi dan akar rumput, terutama kalangan pesantren. Ia menilai, pemimpin yang baik mesti membuka ruang dialog dengan berbagai lapisan, bukan hanya lingkaran elite.
Sebagai ulama yang lahir dan besar di lingkungan pesantren, Kiai Kafa menegaskan bahwa pesantren memiliki tanggung jawab moral terhadap keberlangsungan NU. Ia menolak pandangan yang menempatkan pesantren sebagai penonton dalam perjalanan organisasi.
“Pesantren harus turun tangan agar NU lebih baik,” tegasnya.
Kiai Kafa menilai keterlibatan aktif pesantren dibutuhkan untuk memastikan arah kebijakan NU sejalan dengan nilai-nilai keislaman Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi fondasi organisasi. Ia menyebut sinergi antara syuriyah dan tanfidziyah tidak boleh berhenti pada tataran simbol, melainkan harus diwujudkan dalam gerakan nyata.
Gus Yahya tidak datang sendirian. Ia didampingi Katib Syuriyah PBNU KH Nurul Yaqin Ishaq, Wakil Ketua Umum PBNU H Amin Said Husni, serta Ketua PBNU KH Masyhuri Malik. Kehadiran sejumlah pengurus ini memperkuat kesan bahwa silaturahmi tersebut bukan sekadar agenda seremonial.
Setelah bertolak dari Lirboyo, rombongan Gus Yahya melanjutkan perjalanan ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Di sana, mereka dijadwalkan melakukan ziarah ke makam para pendiri NU, termasuk KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim.
Kiai Kafa berharap silaturahmi yang dibangun menjelang muktamar ini mampu menjadi energi baru bagi konsolidasi organisasi. Ia juga menyampaikan doa agar Muktamar ke-35 NU yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang membawa keberkahan.
“Mudah-mudahan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang akan menjadi lebih baik. Amin ya rabbal alamin,” pungkasnya.
- Penulis: Ruang Gentur

