Unusa Redesain Kurikulum OBE untuk Cetak Pembelajar Sejati yang Adaptif terhadap AI
- account_circle Mascim
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menggelar sarasehan redesain kurikulum berbasis Outcome Based Education guna mencetak lulusan adaptif dan berdaya saing di era kecerdasan buatan. (Dok Humas Unusa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ruang.co.id – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menegaskan komitmennya menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif melalui redesain kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE). Langkah strategis ini digulirkan untuk mencetak generasi pembelajar sejati yang tidak sekadar mengejar ijazah, melainkan mampu memberi nilai tambah di tengah perkembangan kecerdasan buatan.
Penegasan tersebut mengemuka dalam Sarasehan Redesain Kurikulum bertema “Kurikulum Berdampak Berbasis Outcome Based Education (OBE) untuk Lulusan Unggul dan Berdaya Saing” yang berlangsung di Surabaya, Selasa (4/8). Forum ini mempertemukan pandangan strategis dari Staf Ahli Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Hermawan Kresno Dipojono, Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (YARSIS) Prof. Mohammad Nuh, serta Rektor Unusa Prof. Tri Yogi Yuwono.
Dalam paparannya, Prof. Hermawan menyoroti gelombang otomatisasi yang kian menggerus pekerjaan rutin. Ia menegaskan, kurikulum masa depan harus didesain ulang agar lulusan memiliki kompetensi yang tidak tergantikan mesin. “Robot dan AI akan mengambil alih pekerjaan yang bersifat rutin. Karena itu, perguruan tinggi harus mempersiapkan lulusan yang memiliki kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, berinovasi, berempati, serta mampu menyelesaikan persoalan nyata,” ujarnya.
Ia menambahkan, transformasi ini tidak cukup berhenti pada penguasaan teknologi semata. Prof. Hermawan memperkenalkan paradigma Digital Khalifah 2050, sebuah konsep yang memadukan kecerdasan digital dengan nilai moral dan kepemimpinan spiritual. Menurutnya, visi tersebut merupakan fondasi pengembangan sumber daya manusia untuk menopang cita-cita Indonesia Emas 2045.
Senada dengan hal itu, Ketua YARSIS Prof. Mohammad Nuh menekankan pentingnya mengembalikan tujuan pendidikan pada misi kemaslahatan. Ia menolak paradigma perguruan tinggi yang hanya bertindak sebagai mesin produksi tenaga kerja. “Arah pengembangan Unusa sebagai Islamic Sustainable Digital University menempatkan keberlanjutan dan nilai keislaman sebagai fondasi. Mahasiswa harus tumbuh sebagai true learner yang terus beradaptasi, bukan sekadar pencari ijazah,” tegas Prof. Nuh.
Rektor Unusa Prof. Tri Yogi Yuwono menjelaskan secara konkret mekanisme redesain yang sedang berjalan. Pihaknya menerjemahkan filosofi tersebut dengan merancang kurikulum secara mundur, mulai dari profil lulusan yang diharapkan oleh masyarakat dan industri. “Implementasi OBE ini tidak lagi berorientasi pada materi dosen, tetapi pada capaian pembelajaran mahasiswa. Kami mendorong pengalaman belajar yang lebih fleksibel, kolaboratif, dan langsung bersentuhan dengan penyelesaian masalah nyata di masyarakat,” jelas Prof. Tri.
Dengan penyelarasan antara transformasi digital, kebutuhan industri, dan pengabdian masyarakat, Unusa optimistis dapat melahirkan lulusan yang berkarakter dan kompeten. Melalui pendekatan ini, kampus berharap para alumninya tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga menjadi inovator dan agen perubahan yang membawa kemaslahatan.
- Penulis: Mascim
