SMP Al Muslim Sidoarjo dan BNN Gelar FGD, Bekali Siswa Teknik Asertif Tangkal Narkoba dan Peer Pressure
- account_circle Ruang Mujiono
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

Siswa SMP Al Muslim mengikuti sesi diskusi interaktif bersama petugas BNN Kabupaten Sidoarjo dalam FGD pencegahan narkoba dan peer pressure. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sidoarjo, Ruang.co.id – SMP Al Muslim bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sidoarjo menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Berani Beda, Menolak Tanpa Ragu” pada Jum’at (7/8/2026). Kegiatan ini digelar sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman narkoba jenis baru dan tekanan teman sebaya yang menyasar kalangan pelajar.
FGD interaktif yang diikuti seluruh siswa kelas VIII dan IX ini dirancang untuk membangun ketahanan diri. Melalui pendekatan diskusi dua arah, para murid dibekali kemampuan komunikasi asertif agar mampu menolak ajakan negatif tanpa merusak relasi pertemanan.
Kepala SMP Al Muslim, Ustazah Ika Sriyaningsih, S.Pd., M.Pd., menekankan bahwa pendekatan yang relevan dan tidak menggurui menjadi kunci agar pesan pencegahan terserap optimal oleh remaja.
“Tantangan pergaulan anak-anak hari ini jauh lebih kompleks. Ancaman narkoba kini mengintai lewat berbagai celah, baik di dunia nyata maupun media sosial. Anak usia remaja cenderung defensif jika hanya diberi doktrin satu arah. Lewat FGD ini, kami ciptakan ruang diskusi terbuka dan aman agar mereka mampu berpikir kritis serta menemukan kesadaran dari dalam diri untuk membentengi diri sendiri,” ujar Ustazah Ika.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Ustaz Yogi, menambahkan bahwa faktor kerentanan remaja terhadap perilaku negatif sering kali berakar dari kecemasan sosial. Ia menyoroti bahwa banyak siswa terjerumus bukan karena niat buruk, melainkan karena rasa takut diasingkan dari lingkungannya.
“Siswa sering kali terjerumus karena tidak enak hati atau takut ditolak teman. Bersama BNN Sidoarjo, kami memberikan simulasi keadaan nyata agar mereka punya keterampilan praktis dan keberanian mental untuk menolak secara tegas tanpa merusak pertemanan,” jelas Ustaz Yogi.
Tim narasumber dari BNN Sidoarjo, yang terdiri dari Widiati Dyah K.W., S.I.Kom., Yusuf Rizal, S.H., Eka Januar W., S.I.Kom., Amalia Purnasari R., S.I.Kom., dan Bayu Purnama R., S.Pd., memaparkan empat materi utama. Materi tersebut mencakup pengenalan mendalam bahaya dan modus baru penyebaran NPS (New Psychoactive Substances), dampak psikologis tekanan teman sebaya, pelatihan teknik komunikasi asertif, serta manajemen lingkungan pertemanan positif.
Perwakilan BNN Sidoarjo menegaskan bahwa ketegasan tanpa kekerasan, keteguhan pada prinsip, serta kecerdasan memilih lingkaran pertemanan merupakan tiga benteng utama agar siswa tidak mudah terpengaruh ajakan negatif.
Pendekatan simulatif yang diterapkan dalam FGD ini mendapat respons positif dari para peserta. Juna, salah satu siswa kelas VIII, mengaku memperoleh perspektif baru dalam menghadapi tekanan sosial.
“Dulu kalau ada ajakan teman yang kurang baik, saya sering bingung dan takut dibilang tidak kompak. Setelah ikut FGD dari BNN Sidoarjo, saya paham kalau menolak hal buruk itu bukan berarti sombong, tapi wujud sayang pada masa depan sendiri. Sekarang saya lebih berani bilang ‘tidak’ secara sopan tapi tetap tegas,” tutur Juna.
Pihak sekolah berharap model edukasi preventif berbasis kesadaran kritis ini dapat direplikasi oleh institusi pendidikan lain. Sinergi antara sekolah, orang tua, dan BNN dinilai sebagai fondasi utama dalam membentuk generasi muda yang berkarakter kuat dan berdaya tangkal tinggi terhadap bahaya narkoba.
- Penulis: Ruang Mujiono
