Gus Rozaq Jaga Jarak dari Pusaran Kepentingan demi Kendalikan Keamanan Ring 1 Muktamar NU
- account_circle Ruang Gentur
- calendar_month 39 menit yang lalu
- print Cetak

Di tengah pusaran kepentingan Muktamar ke-35 NU, Gus Rozaq memilih netral dan memegang kendali penuh pengamanan Ring 1 Tambakberas Jombang. (Ilustrasi Foto Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jombang, Ruang.co.id – Di tengah suhu kontestasi yang mulai menghangat menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, Ketua Panitia Lokal KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq justru memilih berdiri di luar pusaran kepentingan.
Dari Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Minggu (23/8/2026), ia menegaskan posisinya dengan tenang namun tegas: netral.
“Saya dari awal sudah menyampaikan bahwa saya netral,” kata Gus Rozaq.
Sikap itu bukan tanpa alasan. Sebagai tuan rumah, ia menyadari Jombang adalah kota dengan catatan sejarah panjang bagi dinamika persidangan NU. Termasuk kenangan deadlock pada Muktamar ke-33 NU tahun 2015 yang masih lekat di ingatan banyak orang.
Karena itu, Gus Rozaq menempatkan netralitas sebagai pijakan utama. Ia tidak ingin panitia lokal terseret ke dalam arus kepentingan yang bisa mengganggu jalannya forum musyawarah tertinggi organisasi.
Langkah konkretnya pun jelas. Pengamanan kawasan Ring 1 akan berada sepenuhnya di bawah kendali Panitia Lokal.
“Semua pengamanan adalah dari panitia lokal,” tegasnya.
Bahkan saat sidang pleno berlangsung, personel yang bertugas di Ring 1 hanya berasal dari keamanan internal Pondok Pesantren Bahrul Ulum dan Panitia Lokal. Tidak ada celah bagi pihak luar untuk masuk ke area paling vital itu.
“Panitia lokal yang akan mengambil keamanan di Ring 1 dan ketika nanti pleno, itu harus dari keamanan Pondok Pesantren Bahrul Ulum atau panitia lokal,” ujarnya.
Kebijakan ini menjadi sinyal kuat bahwa tuan rumah ingin menjaga marwah persidangan. Perbedaan pandangan, kata Gus Rozaq, adalah hal wajar dalam organisasi sebesar NU. Namun semuanya harus tetap dalam koridor adab dan tata krama.
Ia berharap para muktamirin menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Sebab, muktamar bukan panggung untuk memenangkan kubu, melainkan ruang musyawarah mencari arah bersama.
“Muktamar harus menjadi ruang musyawarah untuk mencari jalan keluar dan menentukan arah organisasi ke depan,” tutupnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum PBNU Amin Said Husni menyampaikan sebanyak 556 kepengurusan wilayah dan cabang telah ditetapkan sebagai peserta sah Muktamar ke-35 NU.
“Sudah diputuskan 556 cabang dan wilayah yang berhak mengikuti Muktamar Ke-35 NU, dan ada potensi bertambah lagi, maksimal lima,” ujar Amin.
Ratusan kepengurusan itu berasal dari berbagai provinsi di Indonesia serta sejumlah cabang istimewa NU di luar negeri. Mereka telah melewati proses verifikasi administrasi sebagai syarat mengikuti agenda muktamar.
Di luar dinamika persidangan, geliat ekonomi mulai terasa di kalangan warga. Sejumlah rumah di sekitar lokasi kegiatan mulai disewa para muktamirin yang datang lebih awal.
Dengan kendali penuh di tangan panitia lokal dan sikap netral yang dijaga pemimpinnya, Jombang kini bersiap menjadi tuan rumah yang tenang bagi ribuan warga NU dari berbagai penjuru.
- Penulis: Ruang Gentur

