Ruwatan dan Tirkatan RPS, Merawat Sidoarjo Tentram Sejahtera untuk Lebih Baik
- account_circle Ruang Nurudin
- calendar_month 12 jam yang lalu
- print Cetak

Komunitas RPS dan tokoh lintas agama Sidoarjo menggelar ruwatan mandiri demi kedamaian serta keselamatan Sidoarjo dari bahaya korupsi. (Din)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sidoarjo, Ruang.co.id — Komunitas Ruang Publik Sidoarjo (RPS), sebuah grup komunitas .masyarakat Sidoarjo melalui WA (WhatsApp), menggelar malam ruwatan dan tirakatan di Pendapa Graha Saba, Disporapar (Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata) Kab. Sidoarjo, Kamis (20/8/2026) malam.
Kegiatan tersebut, sekaligus menjadi momentum doa bersama untuk keselamatan, kedamaian, dan kemajuan Kabupaten Sidoarjo.
Nuansa kebersamaan terasa kuat dalam kegiatan tersebut melalui doa bersama melibatkan tokoh lintas agama, kepercayaan dan sesepuh serta tokoh budaya, yang hadir di Sidoarjo, mulai dari Islam, Katolik, Kristen, hingga penganut kejawen.
Kegiatan itu sekaligus menjadi simbol toleransi dan semangat saling merangkul di tengah keberagaman masyarakat Sidoarjo.
Kegiatan itu didukung oleh Dirgantara Jaya Sound dan komunitas kebudayaan Palenggahan Tombho Urip dibawah asuhan Gus Achmad Shodiq,SH.,M.H.,M.Kn., yang juga pengacara Sidoarjo.
Ketua Panitia Malam Ruwatan dan Tirakatan sekaligus Bupati Swasta Sidoarjo, Sujani, menyampaikan apresiasi kepada seluruh tamu undangan yang hadir di tengah kesibukan masing-masing.
“Sebuah perjuangan membutuhkan pengorbanan. InsyaAllah malam hari ini, bapak dan ibu semua akan tercatat sebagai manusia-manusia yang peduli terhadap bangsanya, wilayahnya, kabupatennya, terutama keluarga dan diri kita masing-masing,” katanya.
Sujani menjelaskan, malam ruwatan dan tirakatan yang digelar RPS kali ini merupakan pelaksanaan kedua. Sebelumnya, kegiatan serupa pernah digelar di GOR Sidoarjo dengan melibatkan para lurah dan kepala desa.
Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya, kegiatan kedua digelar secara mandiri tanpa menggunakan anggaran pemerintah.
“Alhamdulillah untuk yang kedua kali ini kami mampu mandiri, tidak memakai APBD dan tidak memakai anggaran negara, tetapi swadaya dari teman-teman di grup RPS,” tegas Sujani.
“Melalui malam ruwatan dan tirakatan tersebut, RPS berharap doa bersama dapat menjadi ikhtiar untuk menjaga kedamaian, mempererat kerukunan, serta mendorong kemajuan Kabupaten Sidoarjo,” pungkasnya.
Dalam kesempatan sambutannya, Gus Shodiq, berharap dapat terus berpartisipasi untuk kesinambungan berikutnya.
“Mungkin untuk nilai kesakralan alangkah baiknya nanti tahun-tahun depan diadakan di tempat-tempat atau punden leluhur kita. Bisa nanti di Mbah Sapujagad (makam tokoh masyarakat di Buduran), ataupun punden-punden yang lain. Itu akan lebih sakral ,” ujar sambutannya.
Tema malam ruwatan dan tirkatan ini menurut Gus Shodiq, baiknya juga dilaksanakan pimpinan di lingkungan Pemkab Sidoarjo.
“Tentunya ini adalah Bupati Negeri yang mengadakan, karena Sidoarjo banyak menyalurkan pemimpin-pemimpin di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Ya ini harus kita doakan agar Sidoarjo tetap aman, damai, pemimpinnya itu amanah, gak nyolong, gak ngentit, kita doakan tetapi apapun diruwat secara kabupaten kalau ruwat diri tidak dilakukan ya akan sia-sia,” ujarnya lagi.
“Insyaallah ke depan nanti akan kita bangkit dan kita juga ada energi positif. Insyaallah para sesepuh semuanya nanti akan sumbangsih pemikiran, sumbangsih ide-ide yang konstruktif bagaimana Sidoarjo lebih baik. Ini dimulai dari Sidoarjo. Harusnya ini secara nasional ruwatannya nasional,” tandas Gus Shodiq.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pemotongan tumpeng. Tradisi tersebut menjadi simbol rasa syukur sekaligus penanda doa bersama untuk keselamatan dan kedamaian Sidoarjo.
- Penulis: Ruang Nurudin

